Isu merger antara GoTo dan Grab emang nggak cuma urusan dua perusahaan aja, tapi juga menarik perhatian investor kelas berat.
Salah satu nama yang nyangkut adalah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). CEO Danantara, Rosan Roeslani, udah ngasih statement yang ngasih clue soal potensi keterlibatan dana investasi negara dalam deal besar ini.
Meskipun belum ada keputusan resmi dari pihaknya, Rosan negesin kalau Danantara terbuka buat berpartisipasi.
Ini ngasih sinyal penting bahwa merger ini punya potensi impact yang besar banget buat ekosistem digital dan investasi di Indonesia, sehingga perlu banget dimonitor oleh lembaga investasi strategis seperti Danantara.
Proses Masih di Tangan Dua Raksasa
Rosan menjelaskan bahwa saat ini, proses pembahasan merger sepenuhnya berada di tangan Grab dan GoTo. Statement ini nunjukin kalau Danantara emang udah diajak ngobrol, tapi mereka nggak mau intervensi proses negosiasi utama.
Intinya, Danantara nggak mau tergesa-gesa ambil keputusan. “Kita bilang lihat dulu proses mereka seperti apa,” kata Rosan.
Sikap prudent ini penting banget buat lembaga investasi, karena deal sebesar merger dua unicorn ini pasti melibatkan nilai yang fantastis dan kompleksitas regulasi yang tinggi.
Keputusan investasi baru akan diambil setelah Danantara tau lebih jelas bentuk kerja sama atau penggabungan yang dirumuskan.
Kekhawatiran Industri dan Perlindungan Konsumen
Di sisi lain, isu merger ini nggak lepas dari sorotan pemain lain, seperti Maxim. Director Development Maxim Indonesia, Dirhamsyah, udah ngungkapin kekhawatiran soal potensi monopoli pasar jika Gojek dan Grab beneran nyatu.
Kekhawatiran ini nggak bisa diabaikan, dan pastinya jadi salah satu pertimbangan besar buat Danantara dan regulator pemerintah.
Meskipun ada kekhawatiran monopoli, GoTo sendiri udah ngasih respons ke publik yang negesin kalau mereka terbuka atas berbagai diskusi yang ngedukung kepentingan jangka panjang stakeholder Perseroan.
Mereka juga janji bakal terus mendukung program prioritas Pemerintah dan menjaga kesejahteraan mitra pengemudi, yang jadi concern utama regulator.
Mempertaruhkan Masa Depan Digital Indonesia
Merger ini nggak cuma sekadar penggabungan dua aplikasi; ini adalah potensi penggabungan dominasi pasar di sektor logistik, e-commerce, dan financial technology (fintech).
Jika Danantara memutuskan untuk berpartisipasi, kehadiran modal investasi negara bisa ngasih stabilitas ekstra dan ngasih leverage buat kepentingan nasional dalam deal ini.
Namun, langkah ini harus diiringin dengan pengawasan ketat dari regulator (seperti KPPU) untuk mencegah praktik monopoli yang merugikan konsumen dan pelaku usaha kecil.
Statement:
Rosan Roeslani, CEO BPI Danantara
“Kita serahkan kepada prosesnya, Grab dan GoTo sedang berjalan. Mereka menyampaikan ke kita, terbuka juga untuk Danantara untuk berpartisipasi. Kita bilang lihat dulu proses mereka seperti apa.”
3 Poin Penting:
-
Danantara Terbuka untuk Berpartisipasi: BPI Danantara menyatakan keterbukaan untuk berpartisipasi dalam rencana merger GoTo dan Grab, tetapi akan menunggu bentuk kerja sama yang jelas dan resmi dari kedua perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.
-
Fokus pada Proses Assessment: Proses pembahasan merger masih berada di tangan Grab dan GoTo, dan Danantara mengambil sikap prudent dengan memantau proses tersebut sebelum menentukan bentuk keterlibatan finansial.
-
Isu Monopoli Jadi Pertimbangan: Isu potensi monopoli yang disuarakan oleh pesaing (Maxim) menjadi concern yang harus diatasi oleh kedua perusahaan dan regulator, yang kemungkinan akan memengaruhi bentuk deal final.
![harga emas [dok. antara]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/20251022073533-300x169.webp)
![ihsg bursa saham [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Pasar-Modal-Bursa-Efek-Indonesia-300x168.jpg)
![menteri perekonomian [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/publikasi_1645809205_62190e35e15e4-300x169.jpeg)
![Ekonomi digital RI [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/1057778768-300x200.jpg)