Search

Nggak Main-Main! Dedi Mulyadi Kritik Pedas di Hari Guru: “Siapa Sebenarnya Penjajah Itu?”

Sabtu, 13 Desember 2025

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (youtube)

Suasana Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2025 di IPDN Jatinangor mendadak hening lalu riuh! Bukan karena hiburan, melainkan karena pidato keras dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Nggak cuma sekadar sambutan formal, Dedi justru ngelempar kritik tajam yang langsung nyedot perhatian ribuan hadirin.

Pidatonya kini viral di media sosial karena menyinggung isu sensitif: penjajahan Belanda versus kondisi lingkungan Indonesia saat ini.

Di tengah pidatonya, Dedi mengutip keluhan generasi muda yang sering beredar di platform digital. Kutipan itu bikin ruangan sontak hening.

KDM–sapaan Dedi Mulyadi–bilang Belanda menjajah Indonesia 350 tahun. Gunung utuh, samudera masih terbentang luas, sungai-sungai jernih. Mereka meninggalkan perkebunan yang terhampar, bangunan-bangunan yang indah, jalan-jalan yang kuat, jembatan kereta api yang kokoh.

Sebuah pujian tak terduga untuk penjajah di masa lalu.

Tamparan Keras Pasca 80 Tahun Merdeka

Nah, kontrasnya dateng saat Dedi bandingin kondisi itu dengan Indonesia pasca kemerdekaan selama 80 tahun. Dengan nada yang sama tegasnya, ia melanjutkan bilang bahwa Indonesia merdeka 80 tahun. Gunung gundul, sungai keruh. Hutang menggunung, bangunan-bangunan hampir tidak ada yang berkualitas, jalan-jalan mudah rusak, jembatan mudah roboh.

Perbandingan ini bikin hadirin tercengang dan sebagian ngangguk setuju.

Kalimat pamungkasnya bener-bener nampar ruang publik dan bikin seluruh ruangan bergemuruh: “Pertanyaannya adalah siapa yang penjajah itu?”

Ungkapan provokatif ini langsung nyambar dan jadi bahan diskusi, menandai bahwa ada yang salah dengan mentalitas bangsa sendiri dalam mengelola negeri.

KDM negesin kalau kerusakan lingkungan, gunung, sungai, dan kualitas infrastruktur itu adalah bukti kesalahan pengelolaan oleh tangan bangsa sendiri, bukan lagi salah penjajah asing.

Kerusakan Alam adalah Dosa Besar

Dedi menggarisbawahi pesan mendalam di balik kritiknya. Bangsa Indonesia nggak boleh lagi nyalahin masa lalu. Kerusakan alam adalah “dosa besar” yang memperpendek umur bumi.

Menurutnya, bangsa yang merdeka seharusnya mampu njaga tanah air, bukan malah mempercepat kehancurannya.

Cinta tanah air itu bukan sekadar slogan kosong, tapi tindakan nyata njaga sungai tetap bersih, ngelindungin hutan, dan nghentiin praktik pembabatan tanpa kendali.

Pidato bernuansa emosional itu berlanjut ke seruan pembenahan besar-besaran di Jawa Barat. KDM nyebutin program penanaman pohon, pembatasan alih fungsi lahan di kawasan gunung, hingga rencana relokasi permukiman yang ada di bantaran sungai.

Dia negesin bahwa bencana yang dateng nggak tiba-tiba, tapi akibat dari kesalahan manusia yang udah berlangsung lama.

Kurikulum Sekolah Harus Balik ke Alam

Seruan KDM juga nyentuh sektor pendidikan. Kepada seluruh lembaga pendidikan yang hadir, ia minta agar kurikulum sekolah kembali menyentuh fondasi dasar: mengenalkan anak pada tanah tempat mereka berpijak.

Pesan ini direspons dengan tepuk tangan panjang dari hadirin, apalagi para guru yang menilai pesan tersebut sangat relevan di tengah konteks pendidikan hari ini, di mana anak-anak semakin jauh dari alam.

Nggak berhenti di situ. KDM juga nyinggung bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengelola sumber daya alamnya sendiri, nggak cuma ngandelin teknologi dari luar.

Pidato Dedi Mulyadi hari itu emang bukan cuma seremonial, tapi nyulut kembali perdebatan penting di ruang publik tentang siapa yang bertanggung jawab atas kondisi negeri saat ini.

Statement:

Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat

“Pertanyaannya adalah siapa yang penjajah itu? Kerusakan gunung, sungai, hutan dan kualitas infrastruktur yang memprihatinkan sebagai bukti bahwa ada yang salah dalam pengelolaan negeri. Merusak alam adalah dosa besar.”

3 Poin Penting:

  1. Kritik Kontras Merdeka vs Penjajahan: Gubernur Dedi Mulyadi melontarkan kritik keras dengan membandingkan kondisi lingkungan dan infrastruktur Indonesia setelah 80 tahun merdeka (gunung gundul, sungai keruh) dengan kondisi yang ditinggalkan penjajah Belanda.

  2. Penekanan Self-Criticism: Inti pesan KDM adalah bangsa Indonesia harus melakukan self-criticism dan berhenti menyalahkan masa lalu, karena kerusakan alam saat ini adalah akibat dari kesalahan pengelolaan oleh bangsa sendiri.

  3. Seruan Tata Kelola dan Kurikulum Lingkungan: KDM menyerukan pembenahan tata kelola alam di Jawa Barat (penanaman pohon, pembatasan alih fungsi lahan) dan meminta agar kurikulum sekolah kembali mengajarkan fondasi dasar kecintaan dan penjagaan terhadap alam.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan