Aksi Global “Draw the Line” Gema di Jogja, Tuntut Komitmen Iklim Prabowo di Sidang PBB

Senin, 22 September 2025

Aksi Draw the Line Jogja (350.org)

Di tengah gelombang protes global yang menyerukan keadilan dan melawan krisis iklim, gerakan “Draw the Line” menggaung hingga ke Yogyakarta.

Sekitar 50 peserta dari berbagai komunitas berkolaborasi dalam aksi simbolik bertajuk “Menelusuri Jejak Garis Imajiner dan Sumbu Filosofi”.

Aksi ini tidak hanya menjadi wujud protes, tetapi juga refleksi mendalam tentang hubungan manusia dengan alam, menuntut komitmen iklim yang lebih ambisius dari pemerintah.

Momentum Penting di Bulan “Hitam”

Bagi banyak orang, September dikenal sebagai bulan “hitam” karena serangkaian kejadian buruk yang terjadi di masa lalu.

Namun, bagi para aktivis, September tahun ini adalah momentum penting. Dian Paramita dari 350.org Indonesia menjelaskan, bulan ini menjadi panggung bagi para pemimpin dunia di Sidang Umum PBB.

Terlebih, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menyampaikan pidato pada 23 September, menjadi penampilan langsung pertamanya di forum global.

Menarik Garis Tegas Melawan Ketidakadilan

“Draw the Line” adalah gerakan global yang menyatukan masyarakat dari berbagai belahan dunia untuk menarik garis tegas melawan ketidakadilan, polusi, dan kekerasan.

Dalam Hijauku, Dia menyebut bahwa gerakan ini hadir sebagai ajakan untuk mengambil kembali masa depan ke tangan rakyat.

Dengan seruan ini, para aktivis di Jogja ingin menunjukkan bahwa krisis iklim tidak terlepas dari isu sosial, ekonomi, dan politik yang lebih luas.

Menelusuri Poros Filosofis Kota Yogyakarta

Aksi di Jogja bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah refleksi spiritual dan politik. Para peserta menelusuri Garis Imajiner dari Merapi hingga Pantai Parangtritis dan Sumbu Filosofi dari Tugu Pal Putih hingga Panggung Krapyak.

Muhammad Raafi dari Climate Rangers Jogja menjelaskan bahwa sumbu ini adalah poros kosmologis yang merepresentasikan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Aksi ini menjadi simbolisasi menjaga keharmonisan antara ketiganya.

Tuntutan Keras untuk Kebijakan Iklim yang Berani

Melalui aksi ini, para aktivis iklim melayangkan tuntutan keras kepada Presiden Prabowo. Mereka mendesak agar presiden membawa komitmen iklim yang lebih berani dalam pidatonya di PBB.

Salah satu tuntutan utama adalah merealisasikan janji transisi 100% energi terbarukan pada 2035, dengan menuangkannya ke dalam Second Nationaly Determined Contribution (SNDC) yang akan diserahkan pemerintah.

Mendesak Perubahan Kebijakan untuk Keadilan Ekologi

Selain tuntutan transisi energi, aksi ini juga mendesak presiden dan pembuat kebijakan untuk segera mengesahkan RUU Keadilan Iklim dan RUU Masyarakat Adat.

Mereka juga menuntut penghentian kriminalisasi terhadap aktivis dan masyarakat, serta memajaki para superkaya dan perusak lingkungan untuk mendanai transisi energi bersih.

Tuntutan ini menunjukkan bahwa keadilan iklim tidak bisa dipisahkan dari keadilan sosial.

Aksi Simbolis yang Didukung Budayawan

Aksi simbolis ini mendapatkan dukungan penuh dari budayawan Daud Tanudirjo, yang juga turut serta dalam kegiatan tersebut.

Dukungan ini memperkuat pesan bahwa isu lingkungan adalah isu universal yang melampaui sekat-sekat sektoral.

Statement:

Dian Paramita, dari 350.org Indonesia

“Seruan ini adalah ajakan untuk mengambil kembali masa depan ke tangan rakyat.”

Muhammad Raafi, Koordinator Draw the Line Jogja

“Aksi di Jogja ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan refleksi spiritual dan politik. Sumbu ini bukan hanya poros tata ruang kota, melainkan juga poros kosmologis yang merepresentasikan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.”

Daud Tanudirjo, Budayawan

“Saya mendukung aksi Draw the Line Jogja ini karena memiliki sesuai dengan nilai-nilai Sumbu Imajiner dan Sumbu Filosofi Jogja, yang menititikberatkan keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritual.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir