Guys, media sosial lagi rame banget sama pengakuan blak-blakan dari aktivis lingkungan asal Prancis yang udah lama banget di Indonesia, Aurelien Francis Brule alias Chanee Kalaweit.
Dia ngaku ngalamin perlakuan gak enak dari pihak Kementerian Kehutanan (Kemenhut)!
Chanee curhat kalau ia dan yayasan yang didirikannya, Kalaweit, ditekan buat tidak boleh membahas soal kegiatan konservasi hutan di Indonesia melalui media sosial.
Gak main-main, tekanan ini udah berjalan selama sembilan tahun! Padahal, Yayasan Kalaweit tuh mitra Kemenhut lho.
Duh, gimana sih koordinasinya?
Dicuekin, Ditekan, Sampai Perizinan Mangkrak
Chanee ngungkapin perasaannya yang udah 27 tahun berjuang di Indonesia. Menurutnya, selama masa jabatan menteri sebelumnya, Kalaweit gak cuma dicuekin doang sama Kemenhut.
Parahnya, Chanee meng-klaim perizinan terkait Yayasan Kalaweit juga tidak diperpanjang. Yang paling bikin geleng-geleng kepala, mereka bahkan dibatasi atau dilarang post di media sosial kalau bahas hal-hal yang gak disukai kementerian soal konservasi.
Gawat, ya!
Komunikasi Nyambung Lagi Setelah Ganti Menteri
Untungnya, situasi ini mulai berubah dalam setahun terakhir. Chanee menyebut komunikasi antara pihaknya dan Kemenhut udah terjalin lagi.
Ini terbukti dari pertemuan face-to-face dengan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni di lokasi rehabilitasi satwa owa di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah (Kalteng), Jumat (5/12/2025) lalu.
Pertemuan ini bikin Chanee optimis banget. Mereka udah ngasih masukan soal strategi melindungi kawasan konservasi menggunakan pesawat ringan.
Finally, organisasi nirlaba (NGO) bisa ngobrol dan ngasih solusi langsung ke pemangku kebijakan!
NGO Wajib Terus Nge-Gas Kasih Solusi, Alam Gak Bisa Pulih Instan
Chanee negasin kalau fungsi NGO tuh emang harus berbuat di lapangan dan berani teriak (bersuara). Tapi, teriaknya gak boleh asal-asalan.
Mereka juga harus mampu memberi saran, masukan, dan solusi kepada siapa pun, apalagi kepada seorang menteri yang punya power buat ngambil kebijakan.
Dia juga ngingetin kita semua kalau kerusakan alam di Indonesia udah berlangsung sejak lama. Jadi, gak mungkin dong pemulihannya bisa dilakuin cuma dalam waktu sebentar.
Ini butuh effort dan kolaborasi jangka panjang yang nyambung antara pemerintah dan aktivis lapangan.
3 Poin Penting Pengakuan Chanee Kalaweit:
-
Tekanan dan Pembatasan 9 Tahun: Aktivis lingkungan Chanee Kalaweit (Yayasan Kalaweit) mengaku ditekan oleh Kemenhut selama sembilan tahun di masa menteri sebelumnya. Tekanan ini berupa pembatasan posting di media sosial terkait konservasi dan perizinan yang tidak diperpanjang.
-
Komunikasi Baru Terjalin: Komunikasi antara Kalaweit dan Kemenhut mulai membaik dalam setahun terakhir, yang dibuktikan dengan pertemuan langsung dengan Menhut Raja Juli Antoni di lokasi rehabilitasi satwa owa di Kalteng.
-
Fungsi NGO Memberi Solusi: Chanee menekankan bahwa NGO harus berani bersuara dan memberikan saran serta solusi kepada pemerintah (termasuk strategi perlindungan kawasan konservasi menggunakan pesawat ringan), mengingat pemulihan kerusakan alam membutuhkan waktu dan sinergi.



