Sebuah studi terbaru di kawasan Bentang Laut Kepala Burung, Papua Barat Daya, mengungkap fakta mengejutkan mengenai ancaman serius yang dihadapi hiu paus.
Sebanyak 62% dari populasi hiu paus yang ditemukan di wilayah tersebut memiliki luka, dengan sebagian besar luka disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti jaring ikan, perahu wisata, dan bagan, struktur penangkapan ikan tradisional.
Tabrakan dan Jaring Ikan Jadi Penyebab Utama
Menurut Dr. Edy Setyawan, ilmuwan utama dari Elasmobranch Institute Indonesia, sebagian besar luka yang dialami hiu paus sebenarnya bisa dicegah.
Temuan ini didasarkan pada studi yang dilakukan antara tahun 2010 hingga 2023 di empat lokasi utama, yaitu Teluk Cenderawasih, Kaimana, Raja Ampat, dan Fakfak.
80% Luka Akibat Manusia
Dari 268 individu hiu paus yang didokumentasikan dalam studi tersebut, 206 di antaranya mengalami luka. Lebih dari 80% dari luka-luka tersebut terbukti disebabkan oleh interaksi dengan manusia.
Luka ringan seperti abrasi merupakan yang paling umum, tetapi kasus yang lebih parah, termasuk amputasi, juga ditemukan, meskipun dalam jumlah yang kecil.
Preferensi Habitat Timbulkan Kerentanan
Studi ini juga menemukan bahwa hiu paus muda dan jantan cenderung lebih sering berada di perairan dangkal, yang membuat mereka lebih rentan terhadap tabrakan dengan perahu dan jaring ikan.
Sebaliknya, hiu paus dewasa, terutama betina, lebih sering berada di laut dalam, di mana risiko interaksi dengan manusia lebih rendah.
Selain itu, lebih dari setengah hiu paus yang diamati kembali muncul di lokasi yang sama, menandakan bahwa kawasan ini merupakan habitat penting bagi kelangsungan hidup mereka.
Langkah Kolaboratif untuk Mitigasi Risiko
Melihat meningkatnya risiko cedera pada hiu paus, para peneliti kini berkolaborasi dengan pengelola kawasan konservasi laut.
Mereka sedang menyusun peraturan yang mewajibkan modifikasi sederhana pada bagan dan perahu, seperti menghilangkan bagian tajam pada jaring dan cadik.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi solusi konkret untuk mengurangi jumlah hiu paus yang terluka. Demikian tulis CNN Indonesia.
Perubahan Kecil dengan Dampak Besar
Dr. Mark Erdmann, direktur Konservasi Hiu di organisasi Rewild, optimistis bahwa perubahan kecil ini dapat membawa dampak signifikan.
Peraturan yang sedang disusun ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi operator perahu dan nelayan untuk berinteraksi dengan hiu paus secara lebih aman dan bertanggung jawab.
Menjaga Kelangsungan Hidup Spesies Ikonik
Temuan studi ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak, terutama di sektor pariwisata dan perikanan, untuk lebih memperhatikan dampak aktivitas mereka terhadap lingkungan laut.
Dengan implementasi peraturan yang lebih baik dan kesadaran yang meningkat, langkah ini diharapkan bisa melindungi populasi hiu paus dan memastikan kelangsungan hidup spesies ikonik ini di perairan Indonesia.
Statement:
Dr. Edy Setyawan, Ilmuwan Utama Elasmobranch Institute Indonesia
“Luka-luka itu paling banyak disebabkan oleh tabrakan dengan bagang, alat tangkap tradisional, serta perahu wisata pengamat hiu paus.”
Dr. Mark Erdmann, Direktur Konservasi Hiu di Rewild
“Kami yakin perubahan sederhana ini bisa secara signifikan mengurangi luka pada hiu paus.”


![katak marsupial [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Hemiphractidae_-_Gastrotheca_riobambae-300x225.jpg)
![laba-laba [dok. istock]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/great-fox-spider_169-300x169.jpeg)