Search

Alarm Keras Buat Bumi: Hutan Primer Kita Lenyap 11 Juta Hektare!

Kamis, 8 Januari 2026

Ilustrasi deforestasi hutan (ist)

Kabar kurang sedap datang dari paru-paru dunia kita nih, Sobat Hijau. Global Forest Watch (GFW) baru saja merilis data yang bikin nyesek: Indonesia kehilangan sekitar 11 juta hektare hutan primer lembap dalam periode 2002-2024.

Itu artinya, dalam dua dekade terakhir, kita sudah kehilangan sekitar 11% hutan terbaik yang punya fungsi ekologis paling vital buat menjaga keseimbangan iklim dan keanekaragaman hayati.

Laporan bertajuk “Bencana Bukan Takdir” yang disusun oleh Infid menegaskan kalau kondisi ini bukan sekadar angka di atas kertas.

Hilangnya tutupan pohon sebanyak 34% dalam periode yang sama mencerminkan adanya tekanan serius dari deforestasi jangka panjang.

Kalau tren degradasi dan konversi lahan skala besar ini terus berlanjut, krisis iklim dan risiko bencana ekologis bakal jadi “langganan” tetap yang makin sulit dihindari di masa depan.

Efek Domino Deforestasi dari Hulu Hingga Banjir Bandang

Jangan kaget kalau akhir November 2025 lalu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dihantam banjir bandang serta longsor yang parah.

Berdasarkan data Walhi, deforestasi di tiga provinsi tersebut mencapai 1,4 juta hektare sepanjang 2016-2025.

Kerusakan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) penting seperti Batang Toru dan Krueng Trumon bikin alam kehilangan daya tampung air, sehingga hujan sedikit saja bisa berakibat fatal buat warga di hilir.

Aktivitas ratusan perusahaan di sepanjang bentang Bukit Barisan dituding sebagai biang kerok rusaknya fungsi hidrologis kawasan hulu.

Izin ekstraktif yang ugal-ugalan bikin hutan yang harusnya jadi penyerap air justru berubah fungsi.

Kondisi ini membuktikan bahwa bencana alam yang kita lihat di berita bukan cuma faktor cuaca, tapi ada andil “tangan manusia” lewat kebijakan yang kurang pro-lingkungan.

Jeratan Krisis Agraria dan Ekspansi Sawit yang Dilematis

Masalahnya nggak cuma soal pohon, tapi juga soal hak atas lahan yang memicu krisis agraria berkepanjangan. Pembagian konsesi besar-besaran untuk tambang, perkebunan, dan hutan tanaman industri telah menggerus wilayah adat dan menciptakan ribuan konflik agraria.

Sumatra Utara dan Sumatra Barat pun tercatat sebagai provinsi dengan tingkat konflik tertinggi akibat ekspansi lahan yang masif dalam satu dekade terakhir.

Salah satu faktor utama yang sering disorot adalah ekspansi perkebunan kelapa sawit. Menurut data Stockholm Environment Institute, perluasan sawit menyumbang sepertiga atau sekitar 3 juta hektare dari total kehilangan hutan dalam 20 tahun terakhir.

Meski sempat ada tren penurunan deforestasi untuk produksi sawit pada periode 2018-2022, sayangnya angka tersebut kembali naik 18% pada tahun 2022, yang menandakan pengawasan kita masih sering kecolongan.

Warisan Struktur Ekonomi Kolonial yang Harus Diubah

Direktur Eksekutif Infid, Siti Khoirun Ni’mah, mengingatkan kalau struktur ekonomi Indonesia yang sangat bergantung pada komoditas berbasis lahan adalah warisan kolonial.

Model ekonomi seperti ini sangat rentan karena selain tidak memberikan manfaat maksimal bagi rakyat kecil, dampaknya justru merusak lingkungan secara permanen.

Jika kita tidak segera beralih dari ketergantungan sumber daya alam (SDA), potensi konflik dan bencana bakal makin tak terbendung.

Transformasi ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan sudah harga mati kalau kita nggak mau mewariskan bumi yang rusak buat generasi mendatang.

Pengelolaan SDA harus melibatkan masyarakat lokal dan menghormati hak-hak mereka atas tanah ulayat.

Sudah saatnya pemerintah melakukan evaluasi total terhadap izin-izin ekstraktif dan beralih ke strategi pembangunan yang lebih hijau demi menjamin hak aman setiap warga negara.

Statement:

Bona Tua, Deputi Direktur Infid

“Ini mencerminkan tekanan serius dari deforestasi jangka panjang yang berdampak langsung pada krisis iklim, hilangnya biodiversitas, serta meningkatnya risiko bencana ekologis. Kerusakan hutan di wilayah hulu DAS secara signifikan menurunkan daya dukung dan daya tampung lingkungan, memperparah banjir bandang dan longsor.”

3 Poin Penting:

  • Kehilangan Masif: Indonesia kehilangan 11 juta hektare hutan primer sejak 2002, yang memicu krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati.

  • Penyebab Bencana: Deforestasi seluas 1,4 juta hektare di wilayah Sumatera menjadi pemicu utama banjir bandang dan longsor akibat rusaknya DAS di Bukit Barisan.

  • Urgensi Transformasi: Indonesia perlu mengubah struktur ekonomi yang bergantung pada lahan (SDA) untuk menghentikan konflik agraria dan kerusakan lingkungan lebih lanjut.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan