Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan komitmennya untuk mempertahankan Sabah “hingga titik terakhir” dalam sengketa wilayah dengan Indonesia, khususnya terkait klaim tumpang tindih di blok ND6 dan ND7 yang dikenal sebagai Ambalat oleh Indonesia dan Laut Sulawesi oleh Malaysia.
Pernyataan tegas ini disampaikan Anwar saat kunjungan ke Kota Kinabalu pada Minggu (3/8), menyusul pertemuannya dengan Presiden RI Prabowo Subianto pada 29 Juli lalu. Ia memastikan bahwa Malaysia tidak akan menyerah dalam negosiasi dan akan melindungi setiap inci wilayah Sabah atas nama pemerintah federal.
Meski kedua negara sempat menyatakan keinginan untuk bersama-sama mengembangkan wilayah tersebut, progres penyelesaian sengketa belum menunjukkan kejelasan.
Dalam rapat parlemen 22 Juli, anggota parlemen asal Sabah mempertanyakan tindak lanjut konkret dari Anwar, sementara dalam pernyataan bersama terbaru, isu batas wilayah bahkan tak disinggung.
Apa Kata Pengamat?
Menurut pengamat geopolitik Adib Zalkapli, hambatan utama dalam negosiasi bukanlah isu politik domestik, melainkan teknis dan pengaturan komersial yang rumit. Anwar pun tetap optimistis bahwa hubungan baik RI-Malaysia bisa dipertahankan di tengah upaya penyelesaian masalah.
Sengketa wilayah ini telah berlangsung lama, bahkan sempat memanas pada 2005 ketika Malaysia memberikan konsesi minyak kepada Shell di kawasan tersebut, memicu kemarahan Indonesia.
Meski Mahkamah Internasional memutuskan Sipadan dan Ligitan sebagai milik Malaysia pada 2002, batas maritim di sekitarnya masih menjadi sumber ketegangan.
Statement:
- Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim
“Kami akan menegosiasikannya dengan tepat, tanpa menyerah. Itu yang saya bahas di pertemuan,”
“Kami akan melindungi setiap inci Sabah. Saya akan mempertahankan prinsip ini. Saya memilih untuk menjawab ini sekarang karena kami membela Sabah atas nama pemerintah federal,”
- Analis geopolitik Viewfinder Global Affairs, Adib Zalkapli
“Salah satu kemungkinannya adalah karena kedua pihak masih menegosiasikan aspek-aspek teknis dari kesepakatan sehingga pernyataan publik dari para pemimpin akan jadi kontraproduktif,”
“Dalam menegosiasikan masalah perbatasan maupun pembangunan bersama di wilayah sengketa, tantangan terbesar yaitu rincian teknis dan pengaturan komersial, bukan politik domestik,”

![melaksanakan ibadah haji [dok. baznas]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/file-2-300x169.jpeg)
![Jenderal Dan Caine [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Air-Force-Gen.-Dan-Caine-300x169.webp)
![Oracle PHK Massal [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/logo-oracle-1775018172424_169-300x169.jpeg)