Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, baru-baru ini bikin klarifikasi yang bikin pegal. Gimana enggak, beliau ngomong kalau ngumpulin donasi buat korban bencana, termasuk yang lagi kena musibah di Sumatra, itu wajib pakai izin pemerintah.
Katanya sih, pemerintah enggak melarang, malah ngasih apresiasi buat solidaritas publik. Kalau diapresiasi, kenapa ribet di birokrasi, Pak?
Tapi, tapi, beliau buru-buru nambahin kalau Indonesia punya dasar hukum jadul yang ngatur mekanisme izin penggalangan dana.
Tujuannya? Katanya biar transparan dan akuntabel. Duh, transparansi kok start-nya harus dari meja birokrasi?
UU Lawas Jadi Penjaga Gawang: Izin Harus Sesuai Level
Ternyata, biang keladi dari aturan ribet ini adalah Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1961!
Bayangin, UU yang udah berusia lebih dari setengah abad itu masih jadi pedoman buat ngatur donasi di era digital.
Menurut beleid ini, setiap kegiatan ngumpulin uang atau barang wajib mengantongi izin dari pejabat yang berwenang, tergantung level cakupannya.
Kalau donasinya cuma di tingkat kabupaten/kota, izinnya cukup dari Bupati/Wali Kota. Kalau udah lintas provinsi, nah, ini dia nih! Izinnya wajib nongol dari Kementerian Sosial. Gus Ipul ngejelasin kalau donaturnya dari berbagai provinsi, kabupaten, kota di Indonesia, izinnya lewat Kementerian Sosial.
Fix, mau cepat bantu korban bencana? Mending kirim chat aja, daripada ngurus izin yang lama!
Audit Ajaib: Donasi di Bawah Rp500 Juta Bebas Audit Publik
Enggak cuma izin, setelah dana terkumpul, kegiatan nge-galang dana juga wajib diikuti sama audit buat pertanggungjawaban yang jelas.
Ini sih emang bagus, tapi ada aturan unik di sini. Kalau dana yang terkumpul di bawah Rp500 juta, cukup audit internal aja.
Tapi, kalau udah tembus di atas Rp500 juta, siap-siap deh! Wajib audit oleh akuntan publik, dan hasilnya harus dilaporkan ke pejabat pemberi izin. Gus Ipul tegas bilang bahwa apa yang kita kumpulkan dari masyarakat itu harus bisa dipertanggungjawabkan secara transparan dan akuntabel.
Mending ngumpulin donasi pas-pasan Rp499 juta aja kali ya, biar gak kena ribet akuntan publik?
Sanksi yang Bikin Ngakak: Denda Maksimal Cuma 10 Ribu Perak!
Yang paling lucu dari UU 9/1961 adalah sanksinya. Kalau ada pihak yang nekat ngumpulin donasi tanpa izin, sanksinya cuma pidana kurungan maksimal 3 bulan atau denda maksimal Rp10.000!
Ya ampun, Rp10.000 kan cuma cukup buat beli kerupuk sekarang!
Gus Ipul sendiri ngaku kalau nilai denda itu sangat kecil dan udah jadi guyonan di kalangan mereka, Lebih murah bayar denda Rp 10.000 daripada ngurus izin ke Kemensos yang lama dan ribet.
Tapi tenang, katanya tujuan regulasi ini bukan menghukum, kok, tapi membangun budaya transparansi dan meningkatkan kepercayaan publik.
Statement:
Gus Ipul, Menteri Sosial
“Apa yang kita kumpulkan dari masyarakat itu harus bisa dipertanggungjawabkan secara transparan dan akuntabel… Kadang ada yang guyon, ‘Lebih baik disanksi aja wis.’”
3 Poin Penting:
-
Menteri Sosial Gus Ipul menegaskan bahwa penggalangan dana bantuan bencana wajib mengantongi izin pemerintah berdasarkan UU Nomor 9 Tahun 1961, dengan izin lintas provinsi harus dari Kementerian Sosial.
-
Kegiatan donasi harus diaudit: di bawah Rp500 juta cukup audit internal, tetapi di atas Rp500 juta wajib audit akuntan publik, demi menjamin transparansi dan akuntabilitas.
-
Sanksi bagi pelanggar UU 9/1961 adalah denda maksimal yang sangat kecil, yaitu Rp10.000, yang secara satire menunjukkan regulasi lawas ini tidak relevan dengan kondisi keuangan saat ini.

![Ketua Ombudsman RI [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/PENANGKAPAN-KEJAGUNG-Ketua-Ombudsman-RI-Hery-Susanto-ditangkap-860x484-1-300x169.webp)

![Satpol PP [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/28082024121157_0-300x200.jpeg)