Search

Awas Tertipu, Kenali Ciri Siomay Ikan Sapu-Sapu yang Lagi Viral di Jakarta

Minggu, 25 Januari 2026

Ilustrasi jajanan siomay (wikimedia)

Jajanan siomay memang selalu punya tempat spesial di hati para pencinta kuliner kaki lima. Namun, belakangan ini warga Jakarta, khususnya di sekitar area Stasiun Duren Kalibata, dibuat geger dengan isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku siomay.

Fenomena ini memicu perdebatan panas di media sosial, karena meskipun harganya ramah di kantong, ada risiko kesehatan yang membayangi di balik adonan kenyal tersebut.

Banyak yang bertanya-tanya, gimana sih cara membedakan siomay “normal” dengan siomay berbahan ikan sapu-sapu? Ternyata, perbedaannya cukup mencolok mulai dari warna hingga aromanya.

Bagi kamu yang hobi jajan sore, memahami karakter bahan makanan bukan lagi sekadar tren, melainkan kewajiban agar kesehatan tetap terjaga di tengah gempuran opsi kuliner yang makin beragam.

Aroma Amis Menyengat dan Warna Gelap Mirip Bakso

Seorang pedagang berinisial M (51) buka-bukaan mengenai karakteristik siomay buatannya yang menggunakan campuran ikan sapu-sapu.

Menurutnya, visual siomay ini cenderung lebih gelap dan kusam, sangat mirip dengan warna bakso sapi daripada siomay ikan pada umumnya.

Jika siomay ikan tenggiri biasanya berwarna putih bersih atau sedikit merah muda, siomay ikan sapu-sapu justru terlihat lebih kelabu akibat pigmen dagingnya yang berbeda.

Selain warna, aroma menjadi sinyal paling kuat yang bisa dikenali sejak adonan masih diolah. Ikan sapu-sapu memiliki bau amis yang jauh lebih kuat dan tajam dibandingkan ikan konsumsi seperti bandeng.

Meski pedagang sering mengakali bau ini dengan perasan jeruk nipis yang melimpah, karakter amis dasarnya tetap sulit disembunyikan sepenuhnya jika porsi daging ikannya dominan dalam adonan.

Konsumen Mulai Waspada Terhadap Limbah Sungai Tercemar

Kabar mengenai penggunaan ikan yang habitatnya sering berada di perairan kotor ini membuat konsumen merasa khawatir.

Informasi bahwa ikan-ikan tersebut ditangkap langsung dari aliran Sungai Ciliwung yang tercemar menjadi alasan utama banyak konsumen beralih ke menu makanan lain yang lebih terjamin kebersihannya.

Ketakutan konsumen sangat beralasan, mengingat ikan sapu-sapu dikenal sebagai “pembersih” yang mampu bertahan hidup di lingkungan ekstrim.

Di wilayah Kalibata, pemandangan warga yang memisahkan daging ikan sapu-sapu di atas rakit plastik menjadi potret nyata bagaimana bahan baku ini sampai ke gerobak jajanan.

Transparansi pedagang mengenai bahan baku kini menjadi tuntutan utama bagi masyarakat yang semakin sadar akan keamanan pangan.

Ancaman Logam Berat yang Tidak Hilang Saat Dimasak

Dari sudut pandang medis, persoalan ini bukan sekadar soal rasa yang amis atau warna yang gelap. Pakar penyakit dalam, Ari Fahrial Syam, memperingatkan bahwa bahaya terbesar mengonsumsi ikan dari sungai tercemar adalah kontaminasi logam berat.

Parahnya lagi, proses memasak dengan suhu tinggi sekalipun tidak mampu melenyapkan kandungan logam berat yang sudah mengendap dalam jaringan daging ikan tersebut.

Dampak jangka pendek yang mungkin dirasakan konsumen adalah gangguan pencernaan seperti mual dan muntah.

Namun, yang jauh lebih mengerikan adalah efek jangka panjangnya yang bisa memicu kerusakan organ vital seperti ginjal dan hati.

Logam berat yang terakumulasi di dalam tubuh manusia secara perlahan akan merusak sistem metabolisme, menjadikan siomay murah ini sebagai ancaman serius bagi kesehatan di masa depan.

Larangan Dinas KPKP dan Alternatif Non-Konsumsi

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menegaskan bahwa ikan sapu-sapu hasil tangkapan liar tidak memenuhi standar keamanan pangan.

Meskipun secara biologis bisa dimakan jika dibudidayakan di tempat bersih, ikan dari sungai seperti Ciliwung mengandung risiko bakteri E. coli dan polutan berbahaya lainnya yang berada di luar pengawasan mutu pangan pemerintah.

Sebagai solusi, Dinas KPKP mendorong agar pemanfaatan ikan sapu-sapu dialihkan ke sektor non-pangan, seperti bahan baku pupuk organik atau pakan ternak non-konsumsi.

Langkah ini diharapkan dapat memutus rantai distribusi ikan sapu-sapu ke meja makan masyarakat.

Di balik kelezatan bumbu kacang siomay, kita harus lebih bijak memilih sumber nutrisi agar kesehatan tidak menjadi taruhannya hanya demi mengejar harga murah.

3 Poin Penting:

  • Ciri Fisik: Siomay ikan sapu-sapu memiliki warna yang lebih gelap (mirip bakso) dan aroma amis yang jauh lebih kuat dibandingkan siomay ikan tenggiri.

  • Bahaya Medis: Konsumsi ikan dari sungai tercemar berisiko tinggi menyebabkan akumulasi logam berat yang dapat merusak ginjal dan liver karena tidak hilang saat dimasak.

  • Himbauan Pemerintah: Dinas KPKP DKI Jakarta menyatakan ikan sapu-sapu liar tidak aman dikonsumsi dan menyarankan penggunaannya hanya untuk pupuk atau pakan ternak non-konsumsi.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan