Bahaya Overtourism: Cek Daftar No List 2026 yang Bikin Kamu Harus Pikir Dua Kali Buat Liburan

Sabtu, 10 Januari 2026

Kepulauan Canary Spanyol (airbnb)

Fenomena overtourism atau lonjakan turis yang sudah melampaui batas kewajaran kini bukan lagi sekadar isu receh.

Bayangkan saja, destinasi impian yang kamu incar di media sosial ternyata aslinya macet total, alamnya rusak, bahkan warga lokalnya pun sudah mulai merasa gerah dengan kehadiran pendatang.

Kondisi ini memicu ketegangan sosial yang serius dan degradasi budaya yang perlahan mengikis keaslian identitas sebuah kawasan wisata populer di dunia.

Media perjalanan beken asal Amerika Serikat, Fodor’s Travel, baru saja merilis “No List 2026” sebagai peringatan dini bagi para traveler di seluruh dunia.

Daftar ini bukan bermaksud mengajak kamu untuk boikot, melainkan mengajak kita semua untuk lebih bijak dan bertanggung jawab sebelum memutuskan untuk booking tiket.

Destinasi yang masuk dalam daftar ini sedang “sakit” dan butuh ruang untuk bernapas dari serbuan jutaan manusia setiap tahunnya.

Dari Dinginnya Antartika Hingga Panasnya Isu Properti di Canary

Antartika yang dulu dikenal sebagai benua paling tak tersentuh kini justru terancam oleh 120.000 pengunjung yang datang sepanjang 2023-2024.

Para ahli keder karena angka ini diprediksi bakal naik dua kali lipat pada 2033, padahal ekosistem di sana sangat rapuh dan standar ekowisatanya belum seragam.

Di sisi lain, Kepulauan Canary di Spanyol juga sedang berjuang melawan serbuan 7,8 juta pengunjung yang bikin harga properti meroket sampai warga lokal sulit punya rumah sendiri.

Kondisi di Canary menunjukkan bahwa keuntungan ekonomi dari pariwisata masal sering kali tidak mampir ke kantong penduduk setempat.

Justru, yang tersisa hanya kemacetan lalu lintas dan identitas budaya yang kian tergerus oleh kebutuhan komersial.

Meskipun pemerintah setempat sudah mencoba membatasi sewa jangka pendek, langkah tersebut dinilai masih kurang efektif untuk membendung arus wisatawan yang terus membeludak tanpa henti.

Fenomena Last-Chance Tourism dan Gentrifikasi yang Meresahkan

Glacier National Park di Montana kini menjadi saksi bisu fenomena last-chance tourism, di mana orang-orang berlomba melihat sisa-sisa gletser sebelum punah pada 2030.

Tragisnya, niat untuk melihat keindahan alam ini justru mempercepat kerusakannya karena jalur pendakian yang aus dan satwa liar yang mulai terganggu.

Tekanan serupa terjadi di Isola Sacra, Italia, yang ekosistem pesisirnya terancam hancur akibat proyek pelabuhan raksasa untuk kapal pesiar mewah.

Di wilayah perkotaan seperti Mexico City dan kawasan Alpen Jungfrau di Swiss, masalah utamanya adalah gentrifikasi yang bikin warga lokal “terusir” secara halus.

Apartemen yang seharusnya jadi hunian warga justru berubah fungsi menjadi Airbnb atau sewa jangka pendek bagi turis harian dan pekerja jarak jauh.

Hal ini memicu ketegangan sosial di kawasan elite seperti Condesa dan Roma, karena fasilitas publik kini lebih fokus melayani turis daripada kebutuhan masyarakat setempat.

Hilangnya Kendali Warga Lokal di Paris dan Masalah Sampah di Mombasa

Eropa juga tidak luput dari masalah, di mana Montmartre di Paris kini disesaki lebih dari 11 juta manusia setiap tahun yang membuat ruang publik penuh sesak oleh toko suvenir.

Penduduk setempat merasa kehilangan kendali atas wilayah mereka karena setiap sudut jalan sudah dikomersialisasi secara berlebihan.

Sementara itu di Afrika, Kota Mombasa di Kenya harus bergelut dengan polusi laut dan pengelolaan sampah yang buruk akibat membeludaknya jumlah pelancong mancanegara yang tidak dibarengi infrastruktur memadai.

Fodor’s No List 2026 menegaskan bahwa tujuan utama dari daftar ini adalah untuk mendorong terciptanya wisata yang lebih berkelanjutan dan sadar lingkungan.

Jika kita tetap memaksakan diri datang ke tempat yang sudah over capacity, kita bukan lagi sedang menikmati keindahan, melainkan berkontribusi pada kehancuran destinasi tersebut.

Mari jadi wisatawan yang cerdas dan mulailah melirik destinasi alternatif yang lebih ramah lingkungan serta memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal tanpa merusak ekosistem.

Kutipan:

Fodor’s Travel dalam rilis resminya mengenai No List 2026

“Overtourism bukan hanya soal keramaian, tapi soal bagaimana aktivitas manusia bisa membahayakan keseimbangan ekosistem dan kehidupan masyarakat lokal. Daftar ini mendorong kesadaran tentang wisata yang lebih bertanggung jawab agar kita tidak merusak pengalaman wisata itu sendiri sekaligus mengancam masa depan destinasi yang kita cintai.”

3 Poin Penting:

  1. Fodor’s Travel merilis “No List 2026” yang berisi destinasi wisata yang terancam akibat overtourism seperti Antartika, Kepulauan Canary, dan Montmartre.

  2. Dampak negatif pariwisata berlebihan meliputi kerusakan ekosistem, kenaikan harga properti bagi warga lokal, hingga masalah sampah dan polusi.

  3. Daftar ini bertujuan mengedukasi wisatawan agar lebih bertanggung jawab dan mempertimbangkan dampak kunjungan mereka terhadap keberlanjutan lingkungan dan budaya lokal.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir