Search
Search
Search

Banten Hingga Lampung Bergetar, Badan Geologi Ungkap Asal Usul Dentuman Misterius

Sabtu, 5 September 2026

Ilustrasi seismograf (THINKSTOCK)

Suara dentuman keras disertai getaran hebat mendadak bikin geger warga di wilayah Jawa Barat, Banten, hingga Lampung sejak Jumat malam.

Fenomena alam yang cukup mengejutkan ini membuat banyak warga bertanya-tanya mengenai sumber getaran misterius tersebut. Rasa penasaran publik akhirnya terjawab setelah pihak berwenang memberikan keterangan resminya.

Badan Geologi mengonfirmasi bahwa rentetan suara dentuman serta getaran bumi tersebut diduga kuat berkaitan langsung dengan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Gunung api legendaris di Selat Sunda itu dilaporkan tengah mengalami fase erupsi yang berlangsung secara terus-menerus.

Erupsi Strombolian dan Semburan Lava Air Mancur

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sendiri terpantau sudah mulai melonjak sejak Jumat malam pukul 23.07 WIB. Erupsi kali ini bertipe Strombolian yang melontarkan material batu pijar serta abu vulkanik pekat ke udara.

Petugas pemantau di Pos PGA Krakatau Pasauran bahkan masih mendengar suara gemuruh yang konsisten hingga Sabtu pagi.

Menariknya, erupsi kali ini menyajikan pemandangan visual yang menyerupai lava fountain atau fenomena lava air mancur dengan pendaran warna merah menyala yang terlihat jelas.

Meski tinggi kolom abu sulit teramati akibat tertutup kabut, pendaran merah dari semburan lava pijar terus membumbung tanpa henti.

Dipastikan Bebas Potensi Tsunami

Di tengah kepanikan warga terkait riwayat letusan Krakatau, Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak termakan isu liar.

Evaluasi teknis menunjukkan bahwa pertumbuhan tubuh gunung pascaerupsi dahsyat 2018 lalu masih tergolong relatif kecil. Oleh karena itu, erupsi saat ini tidak berpotensi memicu keruntuhan skala besar yang dapat menyebabkan tsunami.

Imbauan Kewaspadaan Zona Bahaya 3 Kilometer

Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih bertahan kokoh di Level III atau Siaga. Pihak otoritas secara tegas melarang masyarakat, nelayan, maupun wisatawan untuk melakukan aktivitas apa pun dalam radius aman 3 kilometer dari kawah aktif.

Untuk warga yang bermukim di sepanjang pesisir Banten dan Lampung, aktivitas sehari-hari tetap dapat berjalan normal seperti biasa.

Namun, masyarakat diminta untuk senantiasa memperbarui informasi dari BPBD setempat dan tidak mudah terprovokasi oleh berita hoaks yang beredar di media sosial.

Statement:

Lana Saria, Kepala Badan Geologi

“Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan.”

“Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus. Fenomena erupsi ini menyerupai lava fountain atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava,” kata.

“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala dapat memicu tsunami. Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif.”

3 Poin Penting:

  • Asal Suara Dentuman: Dentuman dan getaran di Jabar, Banten, dan Lampung berasal dari erupsi menerus Gunung Anak Krakatau tipe Strombolian.

  • Fenomena Lava Air Mancur: Erupsi menghasilkan pendaran lava fountain merah menyala yang melontarkan batu pijar.

  • Aman dari Tsunami: Badan Geologi memastikan erupsi ini tidak berpotensi memicu keruntuhan yang menyebabkan tsunami, namun radius 3 km tetap wajib disterilkan.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan