Search

Berburu Malam Lailatul Qadar Versi Muhammadiyah, Saatnya Gaspol Ibadah di Sepuluh Hari Terakhir

Selasa, 10 Maret 2026

malam lailatul qadar [dok. web]
malam lailatul qadar [dok. web]

Memasuki fase sepuluh hari terakhir Ramadan, atmosfer spritual di kalangan warga persyarikatan Muhammadiyah semakin kental dan terasa sangat intens.

Berdasarkan kalender hisab yang ditetapkan, umat Islam kini telah menginjak hari ke-21 Ramadan, yang berarti gerbang perburuan malam Lailatul Qadar telah resmi dibuka lebar.

Momen ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ajang “war” pahala bagi anak muda yang ingin meng-upgrade kualitas diri di hadapan Sang Pencipta.

Fenomena iktikaf di berbagai masjid Muhammadiyah kini mulai dipadati oleh jamaah yang didominasi oleh generasi milenial dan Gen Z yang antusias mengejar keutamaan malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Tidak hanya sekadar berdiam diri, mereka menghidupkan malam dengan tadarus Al-Qur’an, diskusi keislaman, hingga salat malam berjamaah.

Semangat ini membuktikan bahwa mengejar rida Allah juga bisa dilakukan dengan gaya yang relevan dan penuh energi positif di tengah gempuran tren duniawi.

Strategi Itikaf Milenial dan Konsistensi Ibadah Malam

Bagi kader Muhammadiyah, mengencangkan ikat pinggang di sepuluh hari terakhir adalah instruksi tak tertulis yang harus dijalankan dengan penuh dedikasi.

Mengingat hari ke-21 jatuh pada malam ganjil, intensitas ibadah biasanya ditingkatkan melalui pembagian waktu yang efektif antara istirahat dan berzikir.

Strategi ini penting agar stamina tetap terjaga hingga malam kemenangan tiba, sehingga target untuk mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar tidak sekadar menjadi wacana belaka.

Selain fokus pada ibadah privat, banyak komunitas muda Muhammadiyah yang memanfaatkan momentum ini untuk melakukan aksi sosial seperti berbagi sahur gratis bagi para tunawisma.

Hal ini merupakan bentuk implementasi teologi Al-Ma’un yang menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah, yakni menyandingkan kesalehan ritual dengan kesalehan sosial secara seimbang.

Jadi, berburu malam kemuliaan tidak hanya soal duduk diam di masjid, tapi juga tentang menebar manfaat bagi sesama di waktu-waktu mustajab.

Menghidupkan Malam Ganjil dengan Literasi dan Doa

Tradisi intelektual dalam Muhammadiyah juga mewarnai malam-malam Lailatul Qadar dengan kegiatan yang edukatif namun tetap khusyuk.

Banyak masjid yang menyelenggarakan kajian tematik singkat selepas salat Tarawih atau menjelang waktu sahur untuk memperdalam pemahaman agama.

Hal ini bertujuan agar para pemuda tidak hanya ikut-ikutan tren iktikaf, tetapi juga memiliki landasan ilmu yang kuat mengenai esensi malam yang penuh dengan turunnya para malaikat tersebut.

Memasuki hari ke-21 ini, fokus doa juga diarahkan pada permohonan ampunan dan petunjuk untuk masa depan yang lebih baik di tengah ketidakpastian zaman.

Doa-doa yang dilangitkan bukan lagi sebatas urusan duniawi yang receh, melainkan doa yang bersifat substansial untuk keberlangsungan umat dan bangsa.

Dengan hati yang jernih, para pemburu Lailatul Qadar ini berharap bisa bertransformasi menjadi pribadi yang lebih autentik dan memiliki integritas tinggi setelah Ramadan usai.

3 Poin Penting:

  • Awal Perburuan: Berdasarkan perhitungan kalender, umat Islam (khususnya versi Muhammadiyah) telah memasuki hari ke-21 Ramadan yang menjadi titik awal pencarian malam Lailatul Qadar.

  • Aktivitas Kreatif: Ibadah di sepuluh hari terakhir diisi dengan kombinasi antara iktikaf, kajian literasi agama, dan aksi sosial berbasis teologi Al-Ma’un.

  • Fokus Refleksi: Momentum ini digunakan sebagai ajang transformasi diri dan penguatan spiritual bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan zaman.

[gas/man]

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan