Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, baru-baru ini angkat suara menanggapi kritik keras masyarakat yang memplesetkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi ‘Makan Beracun Gratis‘.
Dadan mengakui setiap orang berhak menilai, namun ia memohon dengan hormat agar publik tidak mengaburkan tujuan program yang mulia hanya karena adanya sedikit insiden massal yang melibatkan 6.517 orang korban keracunan.
Menurut Dadan, program ini adalah inisiatif luhur dari pemerintah Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan mulia untuk intervensi gizi. Oleh karena itu, ia meminta agar “istilah-istilah” yang cenderung negatif seperti ‘beracun’ sebaiknya dihormati.
Logika yang dipakai sungguh menyentuh: betapa pun buruknya pelaksanaan dan hasilnya, niat baik sang pencetus program harus diletakkan di atas segalanya.
Pemerintah tetap akan melanjutkan program ini, karena menurut Dadan, banyak anak Indonesia yang sangat membutuhkan intervensi pemenuhan gizi—meski intervensinya kadang berakhir di IGD rumah sakit.
Memperbaiki Tata Kelola Setelah Ribuan Korban
Menanggapi desakan publik untuk menghentikan program MBG, Dadan dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah akan tetap melanjutkannya.
Ia berjanji akan “memperbaiki tata kelolanya sebaik mungkin” agar makanan yang diberikan pemerintah menjadi “aman untuk dikonsumsi.”
Janji untuk memperbaiki tata kelola setelah 6.517 orang keracunan ini terasa seperti janji untuk menutup pintu kandang setelah semua kuda sudah lari.
Janji ini datang setelah BGN mencatat statistik yang mencengangkan, yang seharusnya membuat dahi mengernyit, bukan malah melanjutkan program tanpa jeda.
Dadan menyebut total terdapat 6.517 korban keracunan akibat mengonsumsi MBG sejak diluncurkan pada Januari 2025.
Fakta bahwa program dengan niat mulia ini telah menghasilkan ribuan korban dalam waktu kurang dari setahun, namun tetap wajib dilanjutkan, adalah sebuah paradoks gizi yang harus dihormati.
Jawa Memimpin Angka Keracunan Massal
Data yang disampaikan Dadan Hindayana menunjukkan penyebaran kasus keracunan yang dramatis, seolah-olah BGN sedang memimpin sebuah turnamen ketidaknyamanan pencernaan.
Kasus keracunan paling banyak terjadi di Pulau Jawa, dengan total 45 kasus. Angka ini membuktikan bahwa Jawa bukan hanya pusat ekonomi, tetapi juga pusat gangguan pencernaan terbesar dari program MBG.
Dadan merinci total 75 kasus keracunan yang terjadi, dengan korbannya mencapai 6.517 orang. Pulau Jawa memimpin dengan 4.207 korban, sementara Pulau Sumatra menyumbang 1.307 korban, dan Indonesia bagian timur menyentuh angka 1.003 korban.
Statistik yang luar biasa ini menunjukkan betapa masifnya intervensi yang dilakukan pemerintah, bahkan jika intervensi tersebut lebih banyak menghasilkan sakit perut massal ketimbang peningkatan gizi yang substansial.
Sebuah Program yang Terlalu Mulia untuk Dihentikan
Meskipun angkanya memilukan, komitmen BGN untuk melanjutkan program ini tidak tergoyahkan. Dadan bersikeras bahwa ‘hak ini harus kita berikan’ kepada anak-anak Indonesia—hak untuk menerima gizi gratis yang berisiko keracunan.
Sikap pemerintah yang anti-kritik ini seolah mengirimkan pesan yang jelas kepada publik: kritik dan plesetan ‘Makan Beracun Gratis’ boleh saja dilontarkan, tetapi program dengan niat mulia yang tertera di dokumen tender tidak boleh dihentikan.
Lagipula, apalah artinya 6.517 kasus jika dibandingkan dengan tujuan program yang agung?
Statement:
Dadan Hindayana, Kepala Badan Gizi Nasional
“Mohon tidak mengaburkan bahwa ini adalah program yang bertujuan mulia, yang dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia… Saya kira hak ini harus kita berikan dan kita akan perbaiki tata kelolanya sebaik mungkin, sehingga apa yang diberikan oleh pemerintah itu aman untuk dikonsumsi.”
![ilustrasi 1000 hunian sppg [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/69dc764898304-300x200.jpg)
![Dadan Hindayana-Kepala Badan Gizi Nasional [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/896447_1200-300x169.jpg)
![Kasus Lab Vape Narkoba [dok. ist]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/mnM45FVCzU.jpeg-300x169.webp)
![Gubernur Jateng Ahmad Luthfi [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Rembug-Media-scaled-1-300x200.jpeg)