Dunia literasi Indonesia kedatangan karya baru yang inspiratif. Buku berjudul “Jejak Anak” resmi diterbitkan oleh Penerbit Haura.
Buku bertema petualangan anak-anak dan lingkungan ini bukan sekadar karya biasa, melainkan sebuah manifestasi dari kolaborasi erat antara seorang ayah, Ageng Priyanto Age, dan putrinya, Naira Khalisa.
Proses panjang dari penulisan hingga percetakan menjadi bukti nyata komitmen mereka.
Mendobrak Fenomena Fatherless
Menurut Ageng, buku ini lahir dari pengalaman berharga dan menjadi bagian dari sebuah gerakan sadar atau tidak sadar untuk melawan fenomena “Fatherless” yang kini marak terjadi.
Fenomena fatherless merujuk pada ketidakhadiran sosok ayah dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun emosional.
Buku ini menawarkan sebuah contoh konkret tentang bagaimana kebersamaan keluarga dapat menjadi fondasi yang kuat.
Menulis buku bersama, bagi Ageng dan Naira, adalah salah satu cara untuk mengatasi fenomena tersebut. Meskipun bukan hal yang mudah, proses ini menjadi bukti nyata bahwa keterlibatan aktif ayah dalam kegiatan bersama anak dapat membangun ikatan emosional yang tak tergantikan.
Keduanya, yang tidak memiliki pengalaman sebagai penulis profesional, secara otodidak merampungkan buku ini.
Makna Sesungguhnya Kata ‘Parenting’
Buku “Jejak Anak” menjadi bukti konkret dari makna sesungguhnya dari kata “parenting” berbalut cerita, petualangan, dan lingkungan.
Ini adalah cerminan bagaimana setiap anggota keluarga, dengan peran masing-masing, dapat berkolaborasi dan saling mendukung hingga menghasilkan sebuah karya bersama.
Kegiatan semacam ini patut menjadi inspirasi bagi keluarga-keluarga di Indonesia untuk membangun kebersamaan yang berkualitas.
Ageng Priyanto Age, yang akrab disapa Ayahanda Age, menceritakan proses perjalanan yang dilaluinya bersama Naira.
Dari penulisan awal, tahapan editing yang teliti, hingga akhirnya diterima oleh penerbit dan masuk ke proses percetakan, semua dilalui dengan penuh dedikasi.
Perjalanan ini, baginya, adalah pengalaman yang sangat mahal dan berharga.
Membangun kolaborasi di tingkat internal keluarga memang bukan hal yang mudah, namun buku ini membuktikan bahwa hal tersebut bisa dicapai dengan niat dan tekad yang kuat.
Sebuah karya yang lahir dari semangat kebersamaan ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak keluarga untuk melakukan hal serupa demi melawan dampak negatif dari fenomena fatherless.
Cinta Lingkungan dengan Cara Berbeda
Naira Khalisa, seorang siswa kelas 3 SMP Mumtaza Islamic School di bilangan Pondok Cabe yang juga seorang penulis buku Jejak Anak, berkesempatan untuk berbagi pengalamannya dalam berpertualang di alam bebas.
Buku ini menceritakan perjalanan dan petualangan Naira Khalisa dalam membangun sikap positif pada sebayanya melalui perjalanan dan petualangan alam bebas.
Naira memulai berbagi cerita dengan menampilkan beberapa potongan video kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukannya, cerita di mulai dengan petualangan Off-road-nya bersama keluarga di Pusat Konservasi Alam Bodogol, Bogor, Jawa Barat.
Semua itu ia lakukan bersama para anggota komunitas Jejak Anak. Kisah kemudian berlanjut dengan petualangan di Taman Nasional Ujung Kulon di Banten, mulai dari menyusuri pesisir pantai, snorkeling di Pulau Peucang hingga menjelajah sunyinya sungai Cigenter.
“Jejak Anak” pada akhirnya bukan hanya sebuah buku, tetapi juga sebuah seruan untuk setiap keluarga di Indonesia agar memulai langkah konkret dalam membangun hubungan yang harmonis dan penuh kolaborasi.
Dengan niat dan semangat yang kuat, setiap keluarga dapat menciptakan jejak berharga yang akan menjadi kenangan indah dan pembelajaran bagi anak-anak di masa depan.



