Pernah terpikir tidak kalau di tengah udara Garut yang super sejuk, ada saksi bisu perjalanan sejarah dari abad ke-8? Kenalin nih, Candi Cangkuang yang berlokasi di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles.
Bukan sekadar tempat foto-foto estetik buat konten media sosial, candi Hindu ini adalah satu-satunya bangunan candi utuh di Jawa Barat yang berhasil selamat dari gempuran zaman.
Pokoknya, atmosfer di sini beda banget, berasa masuk ke ruang hidup para leluhur yang penuh makna dan cerita.
Buat kalian yang mau berkunjung ke sini, perjalanan dari pusat Kota Garut cuma butuh waktu sekitar 45 menit saja. Lelah di jalan bakal langsung terbayar lunas saat kalian melihat hamparan sawah hijau dan deretan pegunungan yang mengelilingi kawasan ini.
Udaranya yang segar bikin pikiran langsung plong, sementara vibe tradisionalnya masih kental banget. Seolah-olah kita lagi ditarik mundur ke masa kejayaan Nusantara tempo dulu yang sangat damai.
Penemuan Kembali Sang Legenda dari Balik Semak Belukar
Tahu tidak kalau candi ini sempat dianggap “hilang” dari peradaban? Ceritanya bermula di tahun 1966, saat seorang pakar purbakala bernama Drs.
Uka Tjandra Sasmita merasa tertantang buat menelusuri catatan lama peninggalan Belanda tahun 1893. Catatan itu menyebutkan soal adanya makam kuno dan arca di wilayah Cangkuang.
Berbekal rasa penasaran tingkat tinggi, beliau akhirnya menemukan jejak candi ini tersembunyi di balik semak belukar yang rimbun. Benar-benar penemuan yang mind-blowing buat dunia kebudayaan kita!
Setelah ditemukan, tim peneliti langsung bergerak cepat melakukan penggalian dari tahun 1967 sampai 1968. Bayangkan betapa sulitnya mengumpulkan batu candi yang berserakan satu per satu buat disusun kembali sesuai bentuk aslinya.
Pemugaran total akhirnya tuntas di tahun 1976 dan diresmikan oleh pemerintah. Dari puing-puing yang nyaris punah itu, kini Candi Cangkuang berdiri gagah lagi dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling ikonik di Jawa Barat.
Sensasi Menyeberangi Danau Menggunakan Rakit Bambu Tradisional
Ini nih bagian paling seru yang tidak boleh kalian lewatkan! Buat sampai ke area candi, kita harus naik rakit bambu tradisional untuk menyeberangi danau yang tenang.
Rasanya magis banget saat rakit bergerak pelan terkena semilir angin, sambil mendengarkan suara air yang syahdu.
Apalagi kalau kalian datang saat pagi hari, kabut tipis di atas danau berpadu dengan pemandangan Gunung Haruman, Kaledong, Mandalawangi, dan Guntur bakal bikin kalian merasa sedang berada di negeri dongeng.
Begitu mendarat di seberang, kita bakal langsung disambut oleh keunikan Kampung Pulo. Uniknya, di sini cuma ada enam rumah dan satu masjid dengan jumlah kepala keluarga yang tidak pernah berubah sejak dulu, yakni enam saja!
Masyarakat di sini memegang teguh aturan adat leluhur secara turun-temurun. Suasananya tenang sekali, cocok banget buat kalian yang ingin sejenak rehat dari hiruk-pikuk kota yang berisik dan penuh polusi.
Harmoni Dua Keyakinan dalam Satu Frame yang Menginspirasi
Candi Cangkuang sendiri memiliki bentuk bujur sangkar dengan tinggi sekitar 8,5 meter. Di dalamnya tersimpan arca Dewa Syiwa sebagai bukti kuat pengaruh ajaran Hindu di masa lalu.
Tapi ada satu hal yang bikin tempat ini spesial di mata dunia: tepat di sebelah candi, berdiri makam Arif Muhammad, sosok penyebar agama Islam yang sangat dihormati di wilayah ini.
Ini adalah bukti nyata bahwa nilai toleransi sudah menjadi jati diri bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala.
Peninggalan Hindu dan Islam di sini berdampingan dengan damai tanpa harus saling menghapus sejarah masing-masing. Sejarah mengajarkan kita bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh atau berkonflik.
Layaknya Candi Cangkuang dan makam leluhur yang berdiri berdekatan, keberagaman justru menjadi kekuatan yang membuat budaya kita tetap utuh hingga saat ini.
Mari kita jaga toleransi ini seerat kita menjaga warisan sejarah yang berharga ini agar tetap abadi sampai masa depan.
Statement:
Jajang, salah satu pemandu lokal di kawasan wisata Cangkuang
“Candi Cangkuang bukan sekadar tumpukan batu, tapi merupakan simbol kerukunan antarumat beragama yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Keberadaan candi Hindu yang berdampingan dengan makam tokoh Islam adalah pelajaran berharga bagi generasi muda tentang indahnya keberagaman di tanah Pasundan.”
3 Poin Penting:
-
Candi Cangkuang adalah candi Hindu abad ke-8 yang menjadi satu-satunya bangunan candi yang berhasil dipugar secara utuh di wilayah Jawa Barat.
-
Kawasan ini menjadi simbol nyata harmoni budaya karena jejak peninggalan Hindu dan Islam berdiri berdampingan secara damai.
-
Menawarkan pengalaman wisata unik lewat transportasi rakit bambu dan keberadaan Kampung Adat Pulo yang masih mempertahankan aturan adat enam rumah.
![HUT Kota Sungailiat [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/IMG-20260428-WA0006-1-1024x682-1-300x200.jpg)
![Kapal Perang AS di Selat Malaka [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/tni-al-konfirmasi-keberadaan-kapal-perang-as-uss-miguel-keith-di-selat-malaka-69e494b0c3af3-300x200.webp)

