Jagat media sosial mendadak dihebohkan oleh unggahan video yang menampilkan mantan Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari, tengah membahas keamanan vaksin Hepatitis B.
Video yang diunggah ulang oleh akun Facebook “Nurse Insight” hingga platform TikTok tersebut langsung memicu perdebatan panas di kolom komentar.
Dalam cuplikan video tersebut, Siti Fadilah mengklaim bahwa vaksin Hepatitis B untuk bayi baru lahir berbahaya dan dikaitkan dengan ribuan kasus kematian serta kecacatan permanen di Amerika Serikat.
Narasi yang beredar menyudutkan program imunisasi pemerintah dengan menyebutkan adanya voting lembaga antariksa dan kesehatan AS, CDC/ACIP, yang berujung pada penolakan vaksin Hepatitis B pada bayi.
Tak hanya itu, video tersebut juga memaparkan deretan angka fantastis, mulai dari 1.494 kematian hingga puluhan ribu laporan kejadian pascavaksinasi.
Informasi ini lantas membuat banyak calon orang tua khawatir dan mempertanyakan kembali keamanan suntikan imunisasi pertama bagi buah hati mereka.

Penelusuran Keputusan ACIP dan Konteks Fleksibilitas Waktu Imunisasi
Berdasarkan hasil penelusuran fakta yang mendalam, klaim yang menyebutkan bahwa lembaga CDC atau ACIP di Amerika Serikat melarang vaksin Hepatitis B karena berbahaya adalah informasi yang keliru dan tidak utuh (missing context).
Pemungutan suara dengan hasil 8-3 yang terjadi pada 5 Desember 2025 lalu sejatinya membahas perubahan pendekatan kebijakan individual-based decision-making.
Keputusan tersebut memberikan fleksibilitas diskusi antara orang tua dan tenaga kesehatan untuk bayi yang lahir dari ibu dengan hasil tes Hepatitis B negatif.
Keputusan tersebut sama sekali tidak menyatakan bahwa vaksin Hepatitis B berbahaya, apalagi melarang penggunaannya secara total.
Untuk bayi yang lahir dari ibu yang terkonfirmasi positif Hepatitis B atau status kesehatannya belum diketahui, CDC justru tetap mewajibkan pemberian dosis pertama dalam rentang waktu 12 jam setelah persalinan.
Jadi, klaim bahwa CDC memvonis vaksin Hepatitis B mematikan jelas merupakan pelintiran informasi yang menyesatkan publik.
Membedakan Data Laporan VAERS dengan Bukti Sebab-Akibat
Mengenai angka fantastis ribuan kasus kematian dan kecacatan yang disinggung dalam video, data tersebut sejatinya bersumber dari laporan pasif Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) di Amerika Serikat.
Pihak CDC secara tegas menjelaskan bahwa laporan dalam sistem VAERS merupakan pelaporan terbuka dari masyarakat atau tenaga medis pasca vaksinasi, sehingga tidak dapat digunakan sebagai bukti ilmiah bahwa vaksin adalah penyebab langsung dari kejadian medis tersebut.
Berbagai kajian ilmiah komprehensif dari Vaccine Safety Datalink justru membandingkan angka kematian pada bayi yang menerima vaksin Hepatitis B dengan bayi yang tidak menerima vaksin.
Hasil studi membuktikan bahwa tidak ada perbedaan tingkat risiko kematian di antara kedua kelompok tersebut.
Efek samping umum yang timbul pascavaksinasi umumnya tergolong ringan, seperti kemerahan di area suntikan, demam ringan, atau rasa lelah sementara pada bayi.
Tingginya Risiko Endemisitas dan Sikap Tegas Kementerian Kesehatan RI
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI merespons tegas polemik ini dengan memastikan bahwa vaksin Hepatitis B dosis lahir (HB0) tetap menjadi program prioritas nasional yang aman dan efektif.
Indonesia tergolong negara dengan tingkat endemisitas Hepatitis B sedang hingga tinggi, di mana prevalensi kasusnya pernah mencapai 7,1 persen atau setara dengan 18 juta penduduk.
Penularan paling rawan justru terjadi dari jalur ibu ke bayi saat proses persalinan berlangsung.
Tanpa perlindungan imunisasi sejak dini, sekitar 90 hingga 95 persen bayi yang terinfeksi virus Hepatitis B berisiko tinggi mengalami infeksi kronis di masa depan.
Kondisi ini dapat memicu kerusakan jaringan hati, kegagalan fungsi organ, hingga kanker hati yang mematikan.
Oleh karena itu, Kemenkes, BPOM, serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sepakat bahwa pemberian vaksin dalam 24 jam pertama kehidupan merupakan benteng terbaik untuk memberikan perlindungan jangka panjang seumur hidup.
Statement:
Keterangan Resmi Kementerian Kesehatan RI
“Klaim bahwa keputusan ACIP membuktikan vaksin Hepatitis B berbahaya adalah tidak tepat. Pemungutan suara tersebut berkaitan dengan fleksibilitas pemberian dosis lahir pada bayi dari ibu negatif Hepatitis B, bukan penetapan bahwa vaksin berbahaya.”
“Prevalensi Hepatitis B di Indonesia cukup tinggi dan penularan terbanyak terjadi dari ibu ke bayi saat persalinan. Karena itu, vaksinasi Hepatitis B dosis lahir (HB0) tetap aman, efektif, dan sangat krusial diberikan dalam 24 jam pertama.”
3 Poin Penting:
-
Klaim Video Siti Fadilah Tidak Utuh: Narasi yang menyebutkan voting CDC/ACIP membuktikan vaksin Hepatitis B berbahaya merupakan informasi yang melenceng dari konteks sebenarnya (missing context).
-
Data VAERS Bukan Hubungan Sebab-Akibat: Angka kematian dan kecacatan yang disebut dalam video merupakan laporan pasif di sistem VAERS yang belum terbukti disebabkan oleh suntikan vaksin.
-
Pentingnya Imunisasi Dosis Lahir di Indonesia: Kemenkes RI dan WHO menegaskan vaksin Hepatitis B rekombinan aman dan sangat vital diberikan dalam 24 jam pertama untuk mencegah infeksi hati kronis pada bayi.



