Search

China Turun Gunung! Misi Rahasia Beijing Redam Konflik Panas Thailand-Kamboja

Rabu, 24 Desember 2025

Ketegangan perang Kamboja-Thailand (AFP)

Hubungan Thailand dan Kamboja lagi-lagi berada di titik didih yang bikin kawasan Asia Tenggara tegang maksimal.

Konflik bersenjata yang kembali pecah di perbatasan kedua negara ini memancing China untuk segera “turun gunung” melakukan mediasi.

Utusan khusus Beijing untuk urusan Asia, Deng Xijun, terpantau mendarat di Phnom Penh pekan ini guna menjalankan misi de-eskalasi agar jalur dialog yang sempat mampet bisa kembali terbuka lebar bagi kedua belah pihak.

Langkah diplomatik China ini dinilai sangat krusial karena situasi di lapangan sudah mulai nggak kondusif.

Kementerian Luar Negeri Kamboja menyebutkan kalau Beijing berkomitmen penuh untuk memainkan peran konstruktif demi terciptanya perdamaian.

Kehadiran China di tengah kemelut ini diharapkan bisa menjadi penengah yang disegani, mengingat pengaruh ekonomi dan politik Negeri Tirai Bambu yang sangat besar bagi Thailand maupun Kamboja di panggung internasional.

ASEAN Gelar Rapat Darurat Sambil Tekan Gencatan Senjata

Gak cuma China yang sibuk, organisasi regional ASEAN juga langsung gerak cepat alias gercep menghadapi krisis ini.

Para menteri luar negeri se-Asia Tenggara berkumpul di Kuala Lumpur dalam sebuah pertemuan darurat untuk mendesak penghentian kontak senjata sesegera mungkin.

Malaysia, yang saat ini memegang tongkat kepemimpinan ASEAN, berharap pertemuan ini nggak cuma jadi ajang curhat, tapi benar-benar bisa menghasilkan solusi gencatan senjata yang lebih permanen bagi rakyat di perbatasan.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, bahkan menegaskan kalau peran ASEAN kali ini harus lebih tegas dengan menekan kedua pihak agar nggak lagi saling serang.

Namun, realitanya di lapangan memang masih cukup rapuh dan penuh drama saling tuduh. Phnom Penh mengeklaim adanya serangan artileri dari pihak Thailand yang melukai warga sipil, sementara Bangkok langsung menepis tuduhan tersebut dengan alasan bahwa tindakan mereka hanyalah bentuk pertahanan diri semata.

Tekanan Internasional dan Ego Bilateral yang Masih Tinggi

Menariknya, dorongan untuk damai ini nggak cuma datang dari tetangga dekat, tapi juga sampai ke telinga Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan optimisme bahwa kedua negara bakal balik lagi ke meja perundingan dalam waktu dekat.

AS bareng China dan Malaysia memang punya sejarah panjang dalam menengahi gencatan senjata di wilayah ini, meskipun sering kali kesepakatan yang dibuat kembali runtuh gara-gara sentimen lama yang belum tuntas.

Di sisi lain, Thailand sepertinya masih pengin menyelesaikan masalah ini secara “man-to-man” alias bilateral.

Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Thailand, Chatchai Bangchuad, mengakui adanya tekanan dari komunitas internasional, tapi ia tetap bersikeras kalau proses penyelesaian sengketa ini harus dilakukan langsung antara Bangkok dan Phnom Penh tanpa campur tangan terlalu jauh dari pihak luar.

Ego kedaulatan ini memang jadi tantangan tersendiri buat para mediator internasional.

Akar Masalah Klasik Sejak Era Kolonial yang Belum Kelar

Buat kalian yang penasaran kenapa dua negara ini hobi banget berselisih, jawabannya ada pada sengketa perbatasan sepanjang 800 kilometer yang merupakan warisan era kolonial.

Masalah klaim lahan ini mencakup beberapa situs candi kuno yang punya nilai sejarah dan kebanggaan nasional sangat tinggi bagi kedua bangsa.

Gak heran kalau isu perbatasan ini gampang banget memicu emosi warga di kedua belah pihak setiap kali ada pergeseran patok atau aktivitas militer.

Bentrokan terbaru ini dilaporkan sudah memakan puluhan korban jiwa dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi, sebuah harga mahal yang harus dibayar gara-gara konflik yang nggak kunjung usai.

Sekarang, mata dunia tertuju pada efektivitas diplomasi China dan ASEAN. Apakah mereka mampu memadamkan api konflik ini secara total, ataukah mediasi kali ini cuma bakal jadi “plester” sementara buat luka lama yang belum benar-benar sembuh?

Statement:

Mohamad Hasan, Menlu Malaysia

“Deng Xijun menegaskan kembali bahwa China akan terus memainkan peran konstruktif dalam memfasilitasi dialog antara Kamboja dan Thailand dengan tujuan mempromosikan penyelesaian sengketa secara damai. Kita harus memberikan perhatian paling mendesak pada masalah ini dan mempertimbangkan dampak luas bagi rakyat.”

3 Poin Penting:

  1. China mengirimkan utusan khusus Deng Xijun ke Kamboja untuk memediasi de-eskalasi konflik perbatasan yang kembali memanas dengan Thailand.

  2. ASEAN melalui kepemimpinan Malaysia menggelar pertemuan darurat di Kuala Lumpur untuk mendesak gencatan senjata permanen dan perlindungan warga sipil.

  3. Konflik berakar pada sengketa wilayah perbatasan dan situs candi kuno warisan era kolonial yang memicu ketegangan diplomatik antara Bangkok dan Phnom Penh.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan