Siapa bilang bergelut dengan sampah itu cuma soal kotor dan bau? Bagi warga di sekitar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, gunungan limbah justru jadi ladang emas yang sangat menjanjikan.
Salah satu sosok yang berhasil membuktikan hal ini adalah Andi (34), seorang pengepul limbah plastik yang sukses meraup untung hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya.
Meski kondisi TPST sudah melampaui kapasitas, bagi Andi, tumpukan itu adalah sumber “rezeki” yang tidak ada habisnya.
Andi mengelola usaha turun-temurun bernama “Lapak Bos Min” yang sudah berdiri sejak tahun 1996. Berawal dari ayahnya yang seorang pemulung, kini Andi melanjutkan tongkat estafet bisnis tersebut dengan manajemen yang lebih tertata.
Angka ini tentu menjadi bukti bahwa ekonomi sirkular berbasis sampah benar-benar nyata dan berpotensi besar.
Proses Sortir Telaten: Dari Limbah Jadi Barang Siap Jual
Sistem kerja di lapak Andi cukup simpel tapi butuh ketelatenan tinggi. Ia membeli limbah plastik dari para pemulung dengan harga kisaran Rp450 hingga R 700 per kilogram.
Setelah itu, plastik-plastik tersebut dicuci bersih di dalam bak besar dan disortir berdasarkan jenisnya. Ada beberapa jenis plastik yang jadi primadona di sini, mulai dari Polypropylene (PP), High-Density Polyethylene (HD), hingga Polyethylene (PE) dan plastik sablon warna.
Setelah bersih dan kering dijemur, limbah plastik ini dipak untuk dijual kembali ke distributor. Harga jualnya pun lumayan menggiurkan, misalnya jenis PE bisa laku Rp3.000 hingga Rp6.000 per kilogram.
Distributor nantinya bakal mendaur ulang plastik ini menjadi produk baru seperti kursi atau palet. Gak cuma soal cuan, aktivitas Andi ini secara gak langsung membantu mengurangi beban sampah di Bantargebang yang tiap harinya menerima kiriman 7.000 ton sampah dari Jakarta.
Membuka Lapangan Kerja: Ibu Rumah Tangga Hingga Pemuda Lokal
Gak cuma memperkaya diri sendiri, bisnis limbah milik Andi juga menjadi penyelamat bagi ekonomi warga sekitar. Saat ini, ia mempekerjakan tujuh orang karyawan yang terdiri dari ibu rumah tangga dan pemuda setempat.
Para ibu rumah tangga biasanya bertugas menyortir plastik dengan upah harian sekitar Rp85.000, sementara para pemuda yang melakukan pekerjaan lebih berat seperti mencuci dan mengangkat beban dibayar sekitar Rp100.000 per hari.
Salah satu karyawannya, Surheni (36), mengaku sangat bersyukur bisa bekerja di lapak Andi meski harus berhadapan dengan aroma menyengat setiap hari.
Menurutnya, penghasilan harian itu sangat membantu dapur tetap ngebul di tengah sulitnya mencari pekerjaan.
Meski berisiko bagi kesehatan, semangat para pekerja ini menunjukkan bahwa Bantargebang telah menjadi ekosistem sosial-ekonomi yang krusial bagi ribuan orang yang menggantungkan hidup di sana.
Risiko Kesehatan Mengintai: Ancaman Gas Metana di Balik Gunungan Sampah
Meskipun mendatangkan keuntungan secara ekonomi, tinggal dan bekerja di sekitar gunung sampah setinggi gedung 16 lantai ini bukan tanpa risiko.
Para ahli kesehatan memperingatkan adanya bahaya jangka panjang akibat paparan gas metana. Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam UI, Ari Fahrial Syam, menegaskan bahwa paparan gas dari sampah secara terus-menerus bisa merusak fungsi paru-paru dan memicu penyakit paru obstruktif kronis.
Karyawan seperti Surheni memang mengaku sudah terbiasa dengan bau yang ada, bahkan menganggap flunya sebagai hal biasa.
Namun, secara medis, kondisi ini tetap memerlukan perhatian serius.
Pemantauan kesehatan berkala bagi para pekerja di sektor informal persampahan ini seharusnya menjadi prioritas agar kesejahteraan ekonomi yang mereka dapatkan tidak habis untuk membiayai pengobatan di masa depan akibat lingkungan yang tidak sehat.
Statement:
Andi (Pengepul Limbah)
“Sukanya kalau keuntungan lebih dari ekspektasi kami, itu bulan kemarin Rp30 juta per bulan. Kalau semua jenis plastik sekitar 3-4 ton bisa saya kumpulin dalam satu hari.”
Surheni (Penyortir Sampah)
“Rp85.000 itu harian, sebenarnya enggak cukup, cuma dicukup-cukupin aja. Namanya orang susah, kalau butuh ya harus beli beras.”
Bun Joi Phiau, DPRD DKI Jakarta
“Tumpukan sampah di Bantargebang kian meninggi hingga setara gedung 16 lantai. Kami meminta Pemprov DKI untuk memonitor ketahanan tanggul-tanggul di sekitar Bantargebang.”
3 Poin Penting:
-
Potensi Ekonomi: Usaha pengepulan limbah plastik di Bantargebang mampu menghasilkan keuntungan hingga puluhan juta rupiah per bulan dan menjadi sumber penghidupan warga sekitar.
-
Dampak Lingkungan dan Sosial: Aktivitas daur ulang membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPST, sekaligus membuka lapangan kerja bagi ibu rumah tangga dan pemuda setempat.
-
Urgensi Mitigasi: Di balik keuntungan ekonomi, terdapat risiko kesehatan paru-paru akibat gas metana dan risiko fisik seperti longsor tanggul yang memerlukan pengawasan ketat dari pemerintah.
![harga emas [dok. antara]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/20251022073533-300x169.webp)
![ihsg bursa saham [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Pasar-Modal-Bursa-Efek-Indonesia-300x168.jpg)
![menteri perekonomian [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/publikasi_1645809205_62190e35e15e4-300x169.jpeg)
![Ekonomi digital RI [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/1057778768-300x200.jpg)