Sebanyak 109 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia berkumpul dalam rangka Pekan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) 2025.
Mereka menuntut pemerintah untuk segera mengambil langkah nyata dan berkelanjutan dalam menjamin pengakuan, perlindungan, dan hak perempuan serta kelompok rentan.
Pasalnya, mereka adalah pihak yang paling merasakan dampak berlapis dari bencana ekologis dan krisis iklim yang terus meningkat.
Kontribusi Perempuan Lokal Sering Terabaikan
Di tengah krisis iklim yang menyebabkan banjir, kekeringan, dan krisis pangan, perempuan dari berbagai komunitas lokal telah membuktikan diri sebagai garda terdepan dalam mencari solusi berbasis kearifan lokal.
Namun, ironisnya, kontribusi dan peran penting mereka sering kali tidak diakui dalam kerangka kebijakan nasional maupun global.
Meskipun ada Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN-GPI), tantangan keterlibatan perempuan akar rumput masih sangat besar.
Bencana Ekologis Memperparah Ketidakadilan Gender
Data dari Solidaritas Perempuan menunjukkan betapa parahnya dampak pembangunan ekstraktif terhadap kaum perempuan.
Dari 57 desa yang diteliti, 3.624 perempuan menjadi korban pemiskinan. Hal ini diperburuk oleh bencana iklim yang menyulitkan akses terhadap air bersih, pangan, dan mata pencaharian.
Selain itu, perjuangan perempuan untuk mewujudkan kedaulatan mereka juga kerap berujung pada kekerasan struktural dan kultural, seperti intimidasi dan kriminalisasi.
Pengetahuan Komunitas: Solusi yang Terbukti Efektif
Meskipun menghadapi tantangan, perempuan dari berbagai komunitas telah membuktikan bahwa pengetahuan lokal adalah solusi yang efektif.
Di Nusa Tenggara Timur dan Maluku, misalnya, perempuan telah menginisiasi praktik adaptasi yang berakar pada kearifan lokal, mulai dari sistem tanam tahan iklim hingga pengelolaan air dan konservasi ekosistem.
Praktik-praktik ini tidak hanya berhasil secara ekologis, tetapi juga didasarkan pada nilai-nilai solidaritas dan hubungan harmonis dengan alam.
Perjuangan Melestarikan Warisan Leluhur dan Ilmu Lokal
Perempuan dari Poco Leok, misalnya, mengungkapkan bahwa mereka berjuang bukan hanya untuk diri mereka, tetapi untuk generasi berikutnya.
Kisah serupa datang dari perempuan muda di Maluku yang berjuang agar pengetahuan lokal tidak hilang di tengah krisis ekologi.
Panggilan untuk Kolaborasi Antargenerasi
Yolis Atikah, seorang perempuan muda dari Maluku, menyoroti pentingnya kolaborasi antara generasi.
Ia dan teman-temannya mengorganisir diri untuk mengintegrasikan pengetahuan lokal yang turun-temurun dengan ilmu pengetahuan modern.
Perjuangan untuk Keadilan Iklim dan Hidup yang Adil
Peserta PNLH 2025 menegaskan bahwa pengetahuan komunitas adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan menuju keadilan iklim.
Mereka memahami bahwa hutan, tanah, dan laut adalah sumber kehidupan, bukan sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi.
Dengan mengangkat suara mereka, para perempuan ini tidak hanya menuntut hak untuk hidup, tetapi juga menyerukan sebuah sistem yang menghargai alam, kearifan lokal, dan memastikan kehidupan yang adil bagi semua.
Statement:
Yustina May Nggiri, Perempuan Disabilitas PAHDIS
“Banyak orang berpendapat bahwa kami tidak dapat mandiri, padahal saya hidup sendiri di rumah tanpa anak dan suami. Dengan identitas kami, kami membutuhkan informasi dan pelibatan bermakna yang mendukung tanpa dikasihani.”
Perempuan Petani dan Perempuan Adat Poco Leok
“Kami berjuang bukan untuk kami, tetapi untuk generasi berikutnya. Perempuan telah memiliki kesadaran secara turun-temurun bahwa tanah merupakan warisan leluhur. Namun, Proyek Geothermal di Poco Leok telah menghancurkan sumber penghidupan bagi perempuan petani dan identitas masyarakat adat di Poco Leok.”
Perempuan Adat Desa Ndapayami
“Kekeringan, krisis air dan hama belalang telah menempatkan perempuan pada beban berlapis, kami harus mengangkut air sejauh 2 km dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengisi jerigen 5 liter.”
Yolis Atikah, Perempuan Muda dari Maluku
“Sebagai orang muda dari Maluku, kami bergerak bersama-sama mengorganisir diri dan bersama masyarakat menyatukan perspektif mengatur gerakan. Karena saat ini kami generasi muda tidak hanya kehilangan alam yang lestari, tapi kami juga takut daur pengetahuan lokal hilang dan kami tidak bisa memiliki imajinasi untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik karena kiamat ekologi mendatang.”



