Generasi milenial dan Gen Z diproyeksikan bakal menguasai 74% pasar tenaga kerja global pada 2030 mendatang. Tapi, di balik angka dominasi yang keren itu, ada realita pahit yang menyelimuti keseharian mereka: dompet yang sering kali “kritis” sebelum akhir bulan.
Survei Deloitte Global 2025 terbaru mengungkapkan bahwa biaya hidup atau cost of living resmi jadi musuh utama bagi kedua generasi ini selama empat tahun berturut-turut, bahkan mengalahkan isu lingkungan dan kesehatan mental.
Beban finansial ini bukan cuma isapan jempol belaka. Sebanyak 39% Gen Z dan 42% milenial mengaku bahwa menanggung biaya hidup sehari-hari adalah hal yang paling bikin mereka anxiety.
Rasa tidak aman secara finansial ini melonjak drastis dibanding tahun sebelumnya. Kalau dulu hanya sekitar 30-an persen yang merasa cemas, kini hampir separuh dari mereka merasa nggak punya bantalan duit yang cukup buat masa depan.
Fenomena Gaji Numpang Lewat dan Jebakan Stres
Tekanan ekonomi ini makin nyata lewat gaya hidup living paycheck to paycheck alias hidup dari gaji ke gaji. Data menunjukkan 52 persen dari kedua generasi ini mengaku uang gaji mereka cuma bertahan sampai jadwal gajian berikutnya tanpa sisa buat ditabung.
Bahkan, sekitar 37% Gen Z mulai kesulitan membayar kebutuhan dasar bulanan, yang akhirnya berujung pada kekhawatiran massal kalau mereka nggak bakal bisa pensiun dengan tenang nanti.
Kondisi “bokek” ini ternyata berdampak langsung ke level kebahagiaan mereka. Hanya sekitar sepertiga dari mereka yang punya masalah biaya hidup mengaku merasa bahagia tahun ini.
Riset membuktikan ada korelasi kuat antara saldo rekening dan kesehatan mental; mereka yang punya rasa aman finansial punya peluang bahagia dua kali lipat lebih tinggi dibanding mereka yang tiap hari harus menghitung sisa receh di kantong.
Side Hustle Bukan Cuma Hobi Tapi Strategi Bertahan Hidup
Demi menyiasati harga kebutuhan yang terus melambung, fenomena side hustle atau kerja sampingan jadi pelarian yang makin relevan. Sekitar sepertiga Gen Z dan milenial sekarang punya lebih dari satu pekerjaan.
Alasan utamanya jelas: butuh cuan tambahan buat bayar tagihan. Namun, menariknya, anak muda zaman sekarang juga menjadikan side jobsebagai ruang buat eksplorasi passion dan mencari makna hidup yang mungkin nggak didapat di pekerjaan utama.
Sekitar 30 persen responden menyebut pekerjaan sampingan membantu mereka level up dalam hal skill dan relasi. Selain itu, ada aspek well-being yang dicari; kerja sampingan sering kali jadi tempat mereka merasa bisa memberi dampak positif buat komunitas.
Jadi, selain buat nambah saldo, side hustle adalah cara mereka tetap waras di tengah tuntutan dunia kerja yang makin kompetitif dan tidak menentu.
Pilar Kebahagiaan Antara Money, Meaning, dan Well-being
Survei Deloitte merangkum bahwa kebahagiaan pekerja muda saat ini bertumpu pada tiga pilar utama: money (uang), meaning (makna), dan well-being (kesejahteraan).
Ketiganya ini saling terkoneksi satu sama lain seperti rantai. Tanpa uang yang cukup, jangan harap bisa dapet kesejahteraan mental yang oke.
Data membuktikan bahwa mereka yang puas dengan gaji cenderung merasa pekerjaannya lebih bermakna dan punya kondisi mental yang jauh lebih stabil.
Sebaliknya, ketidakpuasan terhadap kompensasi sering kali bikin pekerja muda merasa pekerjaannya sia-sia dan nggak punya kontribusi buat masyarakat. Inilah yang memicu tingginya mobilitas karier atau fenomena job hopping.
Hampir 31% Gen Z berencana pindah kantor dalam dua tahun ke depan demi mencari gaji yang lebih layak dan work-life balance yang lebih manusiawi.
Mereka nggak lagi cuma mengejar jabatan, tapi mengejar ketenangan hidup.
Realita Phantom Wealth dan Tantangan Kesehatan Mental
Ada satu fenomena unik yang disebut phantom wealth, di mana secara data makro ekonomi terlihat oke, tapi individu tetap merasa miskin. Meskipun aset mungkin meningkat, persepsi terhadap biaya hidup yang mahal tetap jadi beban mental.
Hal ini menjelaskan kenapa 40% Gen Z merasa stres sepanjang waktu. Pekerjaan dan masa depan finansial harian menjadi sumber kecemasan utama yang sulit dihindari di era ekonomi digital saat ini.
Akhirnya, stabilitas finansial bukan lagi sekadar isu ekonomi, melainkan fondasi dasar bagi kualitas hidup generasi muda. Saat lebih dari separuh pekerja muda hidup dari gaji ke gaji, cara mereka memandang pekerjaan dan masa depan pun otomatis berubah.
Tantangan bagi perusahaan di tahun 2026 ini adalah bagaimana menyediakan ekosistem kerja yang nggak cuma soal target, tapi juga memperhatikan kesejahteraan dompet dan mental pegawainya agar tetap loyal dan produktif.
3 Poin Penting:
-
Biaya Hidup Jadi Isu Utama: Untuk empat tahun berturut-turut, cost of living tetap menjadi kekhawatiran terbesar Gen Z dan milenial, melampaui isu lingkungan maupun politik.
-
Ketergantungan pada Side Hustle: Sepertiga generasi muda mengambil pekerjaan sampingan tidak hanya untuk menambah pendapatan, tapi juga untuk pengembangan diri dan mencari makna hidup.
-
Kesehatan Mental dan Finansial: Ada hubungan linier antara rasa aman finansial dengan kebahagiaan; mereka yang puas secara finansial cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik.
![tren solo dining [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Hotelvak_Solo-Dining-04-300x200.jpg)

![penukaran uang [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Layanan-Penukaran-Uang-Rupiah-040325-bal-6-300x200.jpg)
![Tren Gamis Bini Orang [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/tren-gamis-bini-orang-1772599586030_43-300x225.jpeg)