Dunia media sosial mendadak heboh gara-gara anggapan netizen yang menyebut pemerintah kurang gercep alias lambat dalam menangani bencana di Sumatra.
Menanggapi nyinyiran yang makin liar tersebut, Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, akhirnya turun gunung dalam konferensi pers pada Jumat (19/12/2025).
Dengan gaya yang berapi-api, beliau menegaskan bahwa pemerintah sebenarnya sudah bekerja keras sejak hari pertama tanpa perlu sibuk mencari sorotan kamera atau bikin konten estetik di lokasi bencana.
Bagi sebagian orang, bekerja tanpa masuk fyp atau kolom trending memang dianggap tidak bekerja sama sekali.
Namun, Teddy meluruskan bahwa Presiden Prabowo dan Wapres Gibran sebenarnya sudah bolak-balik menyambangi lokasi terdampak tanpa perlu membawa tim dokumentasi yang berlebihan.
Fenomena “bekerja dalam senyap” ini seolah menjadi antitesis dari budaya digital zaman sekarang yang serba memamerkan setiap langkah demi mendapatkan validasi publik di jagat maya.
Logistik Senyap dan Gerakan Bawah Tanah Para Menteri
Konferensi pers tersebut dihadiri oleh sejumlah menteri dan Panglima TNI yang kompak memasang wajah serius layaknya sedang menghadapi misi rahasia.
Teddy mengungkapkan bahwa distribusi bantuan dan perbaikan infrastruktur terus berjalan di balik layar, jauh dari hiruk-pikuk pemberitaan yang haus drama.
Tampaknya, pemerintah ingin menerapkan konsep low profile high impact di mana hasil kerja nyata lebih diutamakan daripada sekadar pamer kehadiran di depan lensa awak media.
Tentu saja, gaya komunikasi yang sangat pragmatis ini bikin sebagian masyarakat yang terbiasa dengan “politik pencitraan” merasa ada yang kurang.
Teddy menegaskan bahwa pemerintah tidak butuh tepuk tangan di media sosial untuk sekadar membuktikan dedikasi mereka kepada warga Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Fokus utama saat ini adalah memastikan pengungsi mendapatkan logistik yang cukup, meskipun tanpa adanya siaran langsung yang menunjukkan aksi bagi-bagi sembako tersebut.
Antara Efisiensi Kerja dan Hausnya Netizen akan Validasi Visual
Kritik masyarakat yang menyebut pemerintah tidak tanggap dibalas dengan data lapangan yang diklaim sudah tuntas sejak menit-menit awal bencana.
Teddy merasa heran kenapa kehadiran fisik tanpa sorotan kamera justru dianggap sebagai ketidakhadiran total.
Di era di mana “no pict = hoax”, pemerintah mencoba mendobrak stigma tersebut dengan meminta publik melihat hasil akhir dari rehabilitasi dan rekonstruksi yang sedang dipercepat oleh seluruh kementerian terkait.
Sindiran halus pun dilontarkan kepada mereka yang hanya bisa berkomentar di balik layar ponsel tanpa melihat langsung kerasnya medan di Sumatra.
Menurut Teddy, Presiden Prabowo sangat memprioritaskan efisiensi kerja daripada harus sibuk mengatur angle kamera yang pas untuk kebutuhan humas.
Jadi, jika masyarakat jarang melihat video sinematik kunjungan kerja belakangan ini, itu karena para pemimpin negara memang sedang benar-benar sibuk bekerja, bukan sibuk mencari like dan subscribe.
Misi Kemanusiaan yang Ogah Viral demi Menjaga Integritas
Keseriusan pemerintah dalam menangani bencana ini disebut sebagai komitmen harga mati yang tidak bisa ditawar dengan sekadar konten viral.
Panglima TNI dan para menteri yang hadir seolah memberikan sinyal bahwa koordinasi mereka sudah sangat solid tanpa perlu drama di media massa.
Teddy menutup pemaparannya dengan keyakinan bahwa seluruh masyarakat Sumatera akan segera merasakan dampak dari kerja keras pemerintah yang dilakukan secara “underground” selama beberapa pekan terakhir.
Pada akhirnya, polemik ini menjadi pelajaran bagi para pengguna media sosial bahwa tidak semua hal yang bersifat krusial harus berakhir di algoritma TikTok.
Pemerintah memilih untuk tetap tenang dan fokus pada substansi daripada harus melayani setiap spekulasi liar netizen yang haus akan validasi visual.
Biarlah waktu yang membuktikan apakah kerja tanpa kamera ini benar-benar efektif atau sekadar alasan untuk menghindari tekanan kritik publik yang semakin meningkat.
Statement:
Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet
“Pemerintah sudah bekerja di hari pertama bencana Sumatera terjadi, meski tanpa sorotan kamera. Presiden Prabowo dan Wapres Gibran bahkan sudah beberapa kali mengunjungi lokasi bencana. Jangan anggap kalau tidak ada kamera berarti kita tidak bekerja. Kami lebih milih fokus pada hasil di lapangan daripada sibuk mengatur pencitraan di depan media.”
3 Poin Penting:
-
Bekerja Tanpa Kamera: Sekretaris Kabinet Teddy menegaskan pemerintah sudah aktif menangani bencana Sumatera sejak hari pertama tanpa mengandalkan publikasi media yang berlebihan.
-
Kunjungan Berulang: Presiden Prabowo dan Wapres Gibran diklaim telah mengunjungi lokasi bencana beberapa kali untuk memastikan penanganan berjalan efektif.
-
Fokus pada Hasil: Pemerintah memprioritaskan substansi penanggulangan bencana dan distribusi logistik dibandingkan melayani tuduhan tidak tanggap dari masyarakat di media sosial.
![Dadan Hindayana-Kepala Badan Gizi Nasional [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/896447_1200-300x169.jpg)


![kebakaran binus [dok. kompas]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Kebakaran-di-universitas-binus.jpg-300x169.webp)