Search

Disindir Pandji Pragiwaksono di Netflix, Begini Cara Gibran Balas Kritik Tanpa Baper

Senin, 12 Januari 2026

Wapres Gibran dan Pandji (kolase Tribun Bogor)

Dunia hiburan dan politik baru-baru ini diguncang oleh tayangnya stand up comedy show bertajuk “Mens Rea” di platform Netflix.

Komika senior Pandji Pragiwaksono memberikan kritik tajam kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang memicu diskusi hangat di kalangan anak muda.

Dalam pertunjukan tersebut, Pandji mempertanyakan kualitas kepemimpinan Gibran hingga melontarkan sindiran fisik mengenai tampilan mata yang disebutnya tampak seperti orang mengantuk.

Kritik pedas ini langsung menjadi pembicaraan hangat di media sosial, mengingat gaya Pandji yang blak-blakan dalam membedah isu pemerintahan.

Namun, alih-alih memberikan pernyataan resmi yang kaku atau marah-marah di depan media, Gibran justru memilih cara yang lebih santai dan penuh simbolisme untuk merespons hal tersebut.

Langkah ini dinilai sangat mencerminkan gaya komunikasi politik generasi muda yang lebih suka bermain dengan kode ketimbang konfrontasi langsung.

Respons Simbolis Lewat Musik dan Konten Media Sosial

Pengamat politik Adi Prayitno dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menilai bahwa Gibran sengaja menunjukkan bahwa dirinya tidak terbawa perasaan atau “baper” menghadapi serangan tersebut.

Salah satu buktinya adalah penggunaan backsound lagu Melayu dalam konten kunjungan kerjanya ke Doss Guava XR Studio.

Menariknya, lagu tersebut identik dengan lagu yang pernah dinyanyikan oleh Pandji sendiri, seolah menjadi sinyal bahwa Gibran tetap memantau percakapan di dunia maya.

Langkah ini dianggap sebagai pesan politik yang cerdas karena menunjukkan bahwa sang Wakil Presiden tetap santai meskipun menjadi sasaran bully.

Menurut Adi, Gibran ingin memberikan kepastian kepada publik bahwa kritik dari seorang seniman atau siapa pun adalah hal yang biasa bagi pejabat publik.

Dengan tetap fokus pada aktivitas kerja, Gibran menunjukkan bahwa energi kepemimpinannya tidak akan terkuras hanya untuk menanggapi komentar negatif tentang penampilannya.

Diplomasi Nongkrong Bareng Artis yang “Disenggol” Pandji

Tidak berhenti di media sosial, Gibran juga melakukan gerakan nyata dengan mengumpulkan sejumlah publik figur ternama di Jakarta.

Nama-nama seperti dr. Tompi, Raffi Ahmad, Melaney Ricardo, hingga Iko Uwais tampak akrab bertemu dengan Gibran.

Pertemuan ini menjadi menarik karena Tompi sebelumnya sempat terlibat adu argumen dengan Pandji demi membela Gibran, sementara Raffi Ahmad pun sering menjadi sasaran kritik dari sang komika.

Pertemuan tersebut mengirimkan pesan simbolis bahwa orang-orang yang dikritik oleh Pandji justru solid dan tidak ambil pusing dengan narasi yang dibangun di atas panggung komedi.

Alih-alih sibuk melakukan klarifikasi, Gibran lebih memilih merangkul para pesohor ini untuk memperlihatkan sisi humanis dan kekompakan mereka.

Diplomasi “nongkrong” ini terbukti efektif menarik perhatian publik tanpa harus menimbulkan ketegangan politik yang berarti di permukaan.

Fokus Kerja Nyata dan Aksi Solidaritas Bencana

Poin terakhir yang menjadi jurus jitu Gibran dalam menjawab kritik adalah dengan mengalihkan pembicaraan ke isu yang jauh lebih penting dan konkret.

Dalam pertemuan dengan para seniman tersebut, pembahasan justru difokuskan pada upaya pemulihan dan pembangunan di Sumatra yang tengah dilanda bencana banjir bandang serta tanah longsor.

Gibran memberikan apresiasi tinggi kepada para budayawan dan pekerja seni yang menunjukkan solidaritas luar biasa dalam mengumpulkan donasi.

Strategi ini seolah ingin membuktikan bahwa daripada sekadar beradu opini tentang fisik atau gaya bicara, berkontribusi langsung bagi masyarakat yang sedang kesusahan jauh lebih bermakna.

Adi Prayitno menyimpulkan bahwa gaya politik Gibran memang sengaja ditampilkan untuk menjawab kritik melalui tindakan nyata.

Dengan gaya komunikasi yang simbolis dan efisien, Gibran berusaha mengunci narasi negatif dengan hasil kerja yang bisa dirasakan langsung oleh warga terdampak bencana.

Statement:

Adi Prayitno, Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

“Pesan politiknya sederhana. Sepertinya Gibran itu tidak baper. Gibran itu biasa-biasa saja dengan kritikan-kritikan semacam itu. Ini memastikan bahwa Gibran cukup memantau situasi yang berkembang, terutama percakapan-percakapan di media sosial. Secara politik, sepertinya Gibran itu ingin kasih pesan bahwa yang dia bicarakan adalah hal-hal yang konkret.”

3 Poin Penting:

  • Aksi Kritik: Pandji Pragiwaksono melalui acara “Mens Rea” di Netflix mengkritik kualitas kepemimpinan dan penampilan fisik Gibran Rakabuming Raka.

  • Respons Santai: Gibran membalas kritik tersebut secara simbolis melalui penggunaan lagu di media sosial dan menunjukkan sikap tidak mudah tersinggung.

  • Gerakan Konkret: Gibran merangkul tokoh yang juga dikritik Pandji untuk fokus membahas aksi sosial bagi korban bencana banjir dan longsor di Sumatra.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan