Selama seperempat abad terakhir, panggung utama MotoGP telah mengalami pergeseran besar dalam komposisi kebangsaan para pembalapnya.
Jika pada era 1980–2000 nama-nama dari Amerika Serikat dan Australia mendominasi podium, kini grid MotoGP dipenuhi oleh pembalap dari Spanyol dan Italia.
Dari 22 pembalap permanen musim ini, sembilan berasal dari Spanyol dan enam dari Italia, menjadikan dua negara Mediterania itu sebagai kekuatan mutlak di lintasan.
Dari Hayden ke Marquez: Perjalanan Gelar yang Berubah Arah
Dominasi gelar juara pun mengikuti pola serupa. Antara 1980 dan 2000, 18 dari 21 gelar kelas utama diraih oleh pembalap Amerika dan Australia.
Namun sejak terobosan Valentino Rossi di tahun 2000, gelombang Latin tak terbendung. Rossi mengawali era baru dengan tujuh gelar, diikuti Marc Marquez dengan enam, Jorge Lorenzo dengan tiga, dan Francesco Bagnaia dengan dua.
Satu-satunya jeda dalam dominasi ini terjadi saat Nicky Hayden dan Casey Stoner merebut gelar pada 2006 dan 2007.
Akademi dan Generasi Emas: Kunci Keberhasilan Spanyol dan Italia
Keberhasilan ini bukan sekadar keberuntungan. Di baliknya ada sistem pelatihan yang luar biasa.
Italia membangun VR46 Riders Academy yang diasuh langsung oleh Rossi, sementara Spanyol melahirkan generasi emas seperti Dani Pedrosa, Lorenzo, dan Marquez.
Infrastruktur pelatihan, dukungan sponsor, dan budaya balap yang tertanam sejak dini menjadikan kedua negara ini sebagai pabrik talenta MotoGP.
2017: Tahun Puncak Dominasi Spanyol
Titik tertinggi dominasi Spanyol terjadi pada 2017, ketika sepuluh pembalap permanen di grid berasal dari negeri Matador.
Fenomena ini kembali terulang di GP San Marino tahun ini, dengan sembilan pembalap Spanyol ditambah wildcard Yamaha, Augusto Fernandez.
Bahkan Pol dan Aleix Espargaro turut mengaspal sebagai pembalap pengganti, menjadikan jumlah pembalap Spanyol di lintasan mencapai dua belas.
Dorna dan Liberty Media: Misi Internasionalisasi Grid
Dengan masuknya Liberty Media sebagai pemegang saham mayoritas MotoGP, Dorna mulai mendorong diversifikasi kewarganegaraan.
Langkah ini terlihat dari keputusan mempertahankan Jack Miller dari Australia, meski harus mengorbankan promosi Sergio Garcia dan Manu Gonzalez dari Spanyol.
Tujuannya jelas: membuka ruang bagi pembalap dari negara-negara non-Latin agar grid MotoGP kembali berwarna.
Talenta vs Kewarganegaraan: Perdebatan yang Belum Usai
Keputusan tersebut memicu perdebatan. Apakah kewarganegaraan kini menjadi faktor dalam promosi pembalap?
CEO Dorna, Carmelo Ezpeleta, menegaskan bahwa prioritas tetap pada kualitas. Ia membantah adanya pemaksaan, dan menyebut tren ini sebagai hal yang wajar dan dipahami oleh tim.
Statement:
Carmelo Ezpeleta, CEO Dorna
“Tidak mungkin kami menempati grid hanya dengan orang Spanyol. Itu adalah keputusan yang jelas dari kejuaraan.”
“Liberty Media tidak memaksakan apa pun. Mereka membantu kami dengan ide-ide yang kami miliki, dan sejauh ini semua yang kami ajukan baik-baik saja dengan mereka.”
“Yang kami inginkan adalah memiliki pembalap terbaik di dunia, dan jika mereka berasal dari berbagai negara, maka akan lebih baik.”
![World Ducati Week [dok. ducati]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/2025-09-09_WDW2026-hero-1600x1000-1.jpg-300x188.webp)

![Marc Marquez [web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Marques-300x200.webp)
