Rencana buat mengubah nama Provinsi Jawa Barat (Jabar) menjadi Tatar Sunda atau Sunda kembali jadi perbincangan hangat di kalangan publik.
Enggak main-main, kabar paling baru menyebutkan kalau seluruh fraksi di DPRD Jawa Barat sudah memberikan “lampu hijau” alias restu buat membawa usulan ini ke tingkat legislasi.
Wacana yang sempat pasang surut ini pun kembali mendapat panggung utama di ruang publik untuk dibahas secara lebih serius dan mendalam.
Di balik riuhnya obrolan di media sosial, usulan pergantian nama ini ternyata punya latar belakang yang sangat panjang, loh.
Perjalanan identitas wilayah ini sudah membentang sejak zaman es, melewati era kerajaan Nusantara yang megah, masa kolonialisme Belanda yang pelik, hingga akhirnya bertahan di era kemerdekaan Indonesia saat ini.
Jadi, wacana ini bukan sekadar urusan ganti keren-kerenan nama di peta administratif semata, ya!
Menilik Sejarah Mendalam dari Sudut Pandang Ilmu Bumi
Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad), Ganjar Kurnia, yang ikut mengkaji usulan ini menjelaskan kalau perubahan nama ini adalah upaya buat menegaskan ruang hidup yang punya akar kebumian, budaya, dan memori kolektif yang kuat.
Menurut beliau, nama Jawa Barat itu cuma sekadar penanda posisi administratif arah mata angin saja.
Ironisnya, secara letak geografis, wilayah yang posisinya paling barat di Pulau Jawa itu sebenarnya adalah Provinsi Banten, bukan Jabar lagi setelah adanya pemekaran daerah.
Kalau ditarik jauh ke belakang dari kacamata ilmu bumi, istilah “Sunda” itu sendiri punya usia yang jauh lebih tua daripada batas wilayah buatan manusia.
Guru Besar Emeritus Geologi ITB, Prof. Dr. Koesoemadinata, sempat memaparkan bahwa kata Sunda dalam geologi merujuk pada Paparan Sunda (Sunda Shelf) atau Sundaland, yakni daratan luas zaman es yang menyatukan Sumatra, Jawa, dan Kalimantan sebelum akhirnya tenggelam karena air laut naik.
Bahkan, istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil pun murni penamaan geografis sejak abad kedua masehi oleh ahli geografi Claudius Ptolemaeus, jadi sama sekali enggak ada hubungannya dengan ego politik atau suku tertentu.
Dari Era Kerajaan hingga Jejak Nama Pemberian Penjajah
Melihat catatan sejarah pada era kerajaan, wilayah ini memang lebih familier disebut sebagai Tatar Sunda atau Pasundan.
Sejak abad ke-5 di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara hingga abad ke-8 saat Kerajaan Sunda atau Pajajaran berjaya di Pakuan (Bogor), identitas Sunda sudah melekat erat sebagai penanda peradaban.
Nama Pulau Jawa sendiri, yang di masa lalu populer dengan sebutan Jawa Dwipa (Pulau Padi) dalam bahasa Sanskerta, juga tercatat rapi dalam berbagai dokumen kuno seperti Prasasti Canggal dan naskah Ramayana.
Lantas, dari mana datangnya nama Jawa Barat yang kita pakai sekarang? Usut punya usut, nama tersebut merupakan warisan identitas administratif dari era kolonialisme Belanda.
Sebelum tahun 1925, penjajah Belanda sebenarnya masih memakai nama resmi Soendalanden atau Pasoendan.
Namun, lewat undang-undang Staatsblad Nomor 78 Tahun 1925, pemerintah Hindia Belanda resmi mengubahnya menjadi Provincie West-Java untuk kepentingan birokrasi mereka, yang kemudian diterjemahkan menjadi Jawa Barat sampai sekarang.
Babak Baru di Era Kemerdekaan dan Masa Depan Wilayah
Setelah Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaan, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 19 Agustus 1945 menetapkan Jawa Barat sebagai salah satu dari delapan provinsi pertama di Indonesia.
Wilayah ini sempat dinamis banget, bahkan pernah menjadi Negara Pasundan saat berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) sebelum akhirnya balik lagi ke pelukan NKRI pada tahun 1950.
Peta wilayahnya pun berubah total ketika Banten resmi memisahkan diri menjadi provinsi mandiri pada tahun 2000 silam.
Ganjar Kurnia menegaskan bahwa usulan kembali ke nama Tatar Sunda atau Sunda ini bukan berarti ingin membuat provinsi ini eksklusif bagi orang yang secara biologis bersuku Sunda saja.
Konsep ini adalah tentang identitas kewilayahan, yaitu menghargai sebuah ruang hidup yang inklusif bagi siapa saja yang tinggal, mencari nafkah, dan berkarya di sana.
Melalui lampu hijau dari DPRD, masyarakat kini diajak buat menimbang kembali apakah sudah saatnya mengganti nama warisan kolonial ini dengan nama yang punya akar sejarah lebih kuat.
Statement:
Ganjar Kurnia, Guru Besar Universitas Padjadjaran
“Identitas genealogis berkaitan dengan garis keturunan, sedangkan identitas kewilayahan berkaitan dengan ruang hidup, sejarah tempat, bentang alam, nama lokal, dan memori masyarakat. Provinsi Sunda bukan berarti provinsi hanya untuk orang yang secara biologis bersuku Sunda. Sebaliknya, Provinsi Sunda dapat dimaknai sebagai nama ruang hidup yang sudah membentang lama bagi siapa pun yang tinggal, bekerja, berkarya, dan berkontribusi di wilayah ini.”
3 Poin Penting:
-
Lampu Hijau Legislatif: Seluruh fraksi di DPRD Jawa Barat telah memberikan persetujuan untuk membahas wacana perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Tatar Sunda atau Sunda di tingkat legislasi.
-
Asal-usul Geologis dan Sejarah: Nama “Sunda” secara ilmiah berakar dari istilah geologi kuno (Sundaland/Paparan Sunda) yang berusia jauh lebih tua daripada batas administratif mata angin “Jawa Barat” yang merupakan warisan legalitas kolonial Belanda tahun 1925.
-
Konsep Ruang Hidup Inklusif: Usulan nama Tatar Sunda mengedepankan identitas kewilayahan, bukan ikatan darah (genealogis), sehingga wilayah ini tetap menjadi ruang hidup yang terbuka bagi seluruh warga dari latar belakang suku apa pun.


