Guys, politik Indonesia lagi-lagi menyajikan tontonan komedi absurd! Kehebohan datang dari Wakil Ketua DPR, Cucun Ahmad Syamsurijal, yang baru-baru ini mengeluarkan statement kontroversial tingkat dewa!
Beliau bilang, ahli gizi itu nggak perlu-perlu amat di program Makan Bergizi Gratis (MBG), bahkan bisa diganti sama lulusan SMA yang dikasih pelatihan singkat.
Lho, serius nih?
Pernyataan nyeleneh ini terlontar saat rapat konsolidasi MBG di Kabupaten Bandung, tak lama setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sempat curhat kesulitan cari ahli gizi buat ditempatkan di dapur umum.
Meskipun politikus PKB ini belakangan sudah minta maaf, polemiknya sudah terlanjur meledak. Kritik keras pun langsung datang, termasuk dari pengamat yang menilai pernyataan itu “ngaco” dan enggak nyambung sama sekali dengan kebutuhan program.
Pilot Diganti Petugas Darat? Seriusan?
Seorang ahli gizi senior, Tan Shot Yen, mengibaratkan pernyataan Cucun dengan analogi yang sangat menohok. Katanya, anggapan ahli gizi bisa diganti lulusan SMA yang dilatih singkat itu “ibarat pilot diganti dengan petugas darat yang dilatih simulasi tiga bulan, tahu-tahu menerbangkan pesawat.”
Waduh, serem amat analoginya!
Menurut Tan, politikus dan pejabat kita nggak paham aja betapa krusialnya pekerjaan ahli gizi. Tugas mereka bukan cuma “urusan makanan” biasa.
Ahli gizi itu harus menghitung kecukupan energi per usia, porsi, kandungan gizi sampai ke gram, dan teknik memasak yang benar agar nggak ada kontaminasi bakteri.
Ahli Gizi: Jobdesk Gila, Tapi Gajinya Segitu Aja
Di lapangan, para pengelola dapur umum Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) justru mengakui kalau ahli gizi adalah sosok dengan beban pekerjaan paling berat.
Eddy Lau, pengelola dapur umum MBG di NTT, bilang ahli gizi itu krusial banget, apalagi di daerah yang susah bahan baku.
Menurut Ketua SPPG Pejaten, Iqbal, ahli gizi harus menyusun menu cadangan karena mempertimbangkan kemungkinan penerima manfaat alergi.
Seribet itulah kerjaan mereka!
Tersinggungnya Para Pejuang Gizi
Ironisnya, di tengah statement yang meremehkan, para ahli gizi di lapangan justru bekerja overtime dengan pendapatan yang seringkali dianggap tidak sepadan.
Indri Janisari, seorang ahli gizi di dapur umum NTT, mengaku harus bertugas mulai pukul 03.00 pagi sampai malam, bahkan lebih dari delapan jam kerja.
Indri merasa tersinggung berat dengan pernyataan Cucun. Ia bahkan menyarankan, “Akan lebih baik dinamakan program makan gratis, jangan makan bergizi gratis, yang seolah-olah ada pengawasan ahli gizi di dalamnya,” jika pemerintah enggak mau menghargai profesi mereka. Jleb!
Statement:
Tan Shot Yen, Ahli Gizi
“Kalau ahli gizi tidak diisi tenaga dengan keilmuan gizi, porsi dan kandungan gizi hanya mengira-ngira.”
“Program MBG, kalau ‘B’-nya masih bergizi, maka harus dikelola oleh ahli gizi. Karena ahli gizi itu dapat memastikan bahwa manfaat MBG benar-benar makanan yang bergizi yang sampai ke anak-anak Indonesia.”
3 Poin Penting
-
Politikus Remehkan Ahli Gizi: Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal memicu polemik dengan menyatakan ahli gizi tidak diperlukan dalam program MBG dan bisa digantikan lulusan SMA yang dilatih singkat.
-
Ahli Gizi Krusial dan Bekerja Keras: Pengamat dan pengelola dapur umum MBG (SPPG) di lapangan menegaskan peran ahli gizi sangat krusial, mulai dari menghitung gizi per gram, menyiapkan menu cadangan alergi, hingga mengatasi kekurangan bahan baku di pelosok NTT, seringkali dengan jam kerja overtime.
-
Tuntutan Penghargaan Profesi: Ahli gizi merasa tersinggung karena beban kerja berat dan kode etik profesi tidak dihargai. Mereka menuntut pemerintah mencabut istilah “bergizi” dari program MBG jika tidak ada komitmen serius untuk mempekerjakan ahli gizi yang berkompeten.

![Ketua Ombudsman RI [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/PENANGKAPAN-KEJAGUNG-Ketua-Ombudsman-RI-Hery-Susanto-ditangkap-860x484-1-300x169.webp)

![Satpol PP [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/28082024121157_0-300x200.jpeg)