Di tengah badai tantangan yang dihadapi satu tahun pemerintahan, sebuah cerita yang sangat humanis—sekaligus bombastis—muncul dari mulut Hashim Djojohadikusumo, adik sekaligus Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi.
Dalam acara ‘Indonesia Berdoa,’ Hashim menceritakan kembali klaim Presiden Prabowo Subianto yang dihubungi oleh “orang nekat” yang hendak menyogoknya dengan uang senilai USD1 miliar atau setara dengan sekitar Rp16,5 triliun.
Sungguh sebuah drama kemanusiaan, di mana godaan kekayaan tak terhingga hanya dibagikan sang Presiden melalui sambungan telepon pribadi kepada adiknya, layaknya curhat usai hari yang melelahkan.
Hashim menggambarkan momen itu terjadi pada suatu malam Minggu, beberapa bulan lalu, sekitar jam 10 malam. “Saya lagi di tempat tidur,” kenang Hashim.
Dialog antara Presiden dan adiknya ini terdengar begitu sederhana, namun memuat bobot finansial yang luar biasa.
Saat Hashim bertanya berapa nilai sogokan tersebut, jawaban Prabowo, “1 miliar dolar,” sontak membuatnya terperanjat. Hashim pun melanjutkan dengan bangga, “Orang-orang nekat, presiden kita mau disogok 1 miliar dolar.”
Sebuah momen yang menggarisbawahi bahwa jabatan Presiden kini menjadi target utama bagi individu-individu yang saking nekatnya sampai bersedia memecahkan rekor nilai suap.
Ancaman ‘Setan-setan’ dan Kekuatan Ilahi Sang Pemimpin
Reaksi Hashim terhadap cerita sogokan ini membawa narasi dari politik uang ke ranah spiritual. Ia mengatakan dirinya tidak habis pikir ada orang yang berani berupaya menyogok Presiden.
Menurut Hashim, Tuhanlah yang melindungi Prabowo untuk menolak uang yang nilainya bisa membiayai puluhan proyek strategis nasional tersebut.
Narasi ini semakin diperkuat dengan metafora ancaman yang dihadapi oleh kepemimpinan yang bersih. Hashim menyebut bahwa ketika seorang pemimpin berbuat baik, pasti akan ada saja ‘setan-setan’ yang mengganggu.
Ia menyatakan bahwa hal itu adalah ancaman yang kita hadapi, [saat] tambang-tambang ilegal lagi dikuasai kembali, mafia migas sudah mulai dibongkar, tapi penjahat-penjahat masih ada, mau sogok presiden, mau sogok adik presiden.
Pesan moralnya jelas: perjuangan melawan korupsi di Indonesia adalah pertempuran suci melawan kekuatan supranatural yang berwujud triliunan rupiah.
Lawan Dianggap Teman: Filosofi Perdamaian di Tengah Kegaduhan Global
Hashim kemudian membawa ceritanya jauh melampaui isu sogokan, menyinggung tantangan yang dihadapi Indonesia selama satu tahun di bawah kepemimpinan Prabowo.
Ia bersyukur bahwa Indonesia masih kuat dan utuh, meskipun diuji dengan berbagai cobaan—sebuah sentimen humanis yang menunjukkan kecintaannya pada keutuhan bangsa.
Untuk mendukung optimismenya, Hashim bahkan membandingkan Indonesia dengan kondisi politik negara maju. Ia menyebut Prancis, yang dalam dua tahun sudah berganti lima menteri dan berada dalam kondisi “kacau balau.”
Di tengah kegaduhan global ini, Hashim memuji filosofi yang dianut oleh kepemimpinan saat ini: “Lawan jangan dianggap musuh.
Lawan dianggap teman yang beda pendapat.” Sebuah anjuran yang indah, yang mengisyaratkan bahwa konflik politik di Indonesia diselesaikan dengan cara negosiasi kekeluargaan, demi menjaga damai dan demi masa depan anak cucu.
Kisah Perjuangan di Balik Telepon Malam Minggu
Kisah sogokan USD1 miliar yang dibagikan Hashim ini, terlepas dari kebenarannya, berfungsi sebagai penguat narasi integritas Presiden di tengah desakan ‘penjahat-penjahat.’
Pesan yang ingin disampaikan kepada publik sangat jelas: bahkan godaan finansial tertinggi pun tak mampu menggoyahkan pendirian pemimpin.
Namun, satu hal yang luput dari cerita ini adalah rincian mengenai ‘orang nekat’ mana yang berani-beraninya menawarkan uang yang setara dengan anggaran negara kecil itu.
Hashim hanya berkata, “Saya enggak boleh sebut apa.. pada mengerti kan,” sebuah pernyataan yang elegan menutup detail, sekaligus membiarkan imajinasi publik berkeliaran.



