Elon Musk kembali mendapat peran resmi di pemerintahan Amerika Serikat (AS).
Bos Tesla dan SpaceX tersebut ditunjuk untuk ikut memimpin Project Meridian, studi Pentagon yang dirancang untuk memetakan seperti apa perang masa depan dan kemampuan militer yang dibutuhkan AS.
Musk tidak bekerja sendirian karena proyek ini juga dipimpin pendiri Anduril Industries, Palmer Luckey, serta mantan Ketua DPR AS Newt Gingrich.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan proyek tersebut saat berpidato di hadapan pasukan di Marine Corps Base Quantico, Virginia, Rabu (30/9/2026).
Penunjukan ini menjadi peran penasihat resmi pertama Musk di pemerintahan Presiden Donald Trump sejak hubungan keduanya sempat retak setelah Musk meninggalkan Department of Government Efficiency (DOGE) pada Mei 2025.
Kini, hubungan keduanya kembali membaik.
Pentagon Ingin Prediksi Perang dari Perspektif Luar
Hegseth mengatakan Project Meridian akan melibatkan inovator, pemimpin senior, dan ahli teknologi dari luar Pentagon.
Menurutnya, keterlibatan pihak eksternal diperlukan karena analisis internal lembaga pertahanan dapat memiliki keterbatasan dan rentan terhadap bias ketika memprediksi bentuk konflik di masa depan.
Proyek ini juga disebut berbeda dari studi pertahanan pada umumnya karena tidak diarahkan untuk menghasilkan dokumen kebijakan atau strategi baru, melainkan memetakan medan perang dan teknologi yang mungkin dibutuhkan militer AS.
Dari Bawah Tanah hingga Luar Bulan
Cakupan Project Meridian terbilang ekstrem. Pentagon ingin mengkaji berbagai kemungkinan medan konflik, mulai dari wilayah bawah permukaan bumi hingga ruang di luar bulan.
Studi tersebut akan melihat kemampuan militer yang diperlukan untuk menghadapi perubahan teknologi dan karakter peperangan dalam beberapa dekade mendatang.
Dalam memo pembentukan proyek yang diterbitkan pada hari yang sama, Hegseth menyebut kecerdasan buatan (AI), sistem otonom, senjata energi terarah, robotika, dan bioteknologi sebagai sejumlah bidang yang berpotensi mengubah cara perang dilakukan.
Fokusnya bahkan diarahkan pada kebutuhan generasi mendatang, bukan hanya konflik yang sedang berlangsung.
Luckey Ingin Hindari Perang di Masa Depan
Palmer Luckey bukan nama baru dalam industri teknologi pertahanan AS. Ia mendirikan Anduril Industries pada 2017, beberapa tahun setelah menjual perusahaan teknologi realitas virtual Oculus kepada Facebook.
Perusahaannya kini dikenal mengembangkan berbagai teknologi pertahanan berbasis perangkat lunak, sistem otonom, dan kecerdasan buatan.
Pernyataan tersebut menggambarkan ambisi Project Meridian untuk tidak sekadar membaca konflik saat ini, tetapi juga mengantisipasi perubahan medan perang dalam jangka panjang.
Robot Tesla Ikut Jadi Sorotan
Keterlibatan Musk dalam proyek tersebut juga menarik perhatian karena salah satu fokus utama Project Meridian adalah robotika.
Di Tesla, Musk tengah mengembangkan robot humanoid Optimus yang diproyeksikan menjadi salah satu bisnis penting perusahaan di masa depan.
Pada September 2025, Musk pernah menyebut melalui X bahwa sekitar 80% nilai Tesla nantinya dapat berasal dari Optimus. Tesla bahkan mulai mengubah fasilitas produksinya untuk mendukung pembuatan robot tersebut.
Pada awal Mei 2026, produksi Model S dan Model X di pabrik Fremont dihentikan dan lini perakitannya dirombak menjadi fasilitas produksi Optimus.
Tesla Kejar Produksi Jutaan Robot
Tesla menyatakan lini produksi di Fremont dirancang untuk mampu menghasilkan hingga 1 juta robot per tahun.
Namun, Musk mengakui produksi tahap awal kemungkinan masih berjalan dengan kecepatan terbatas sebelum teknologi dan sistem manufakturnya semakin matang.
Tesla juga berencana membangun lini produksi Optimus generasi kedua di Gigafactory Texas. Fasilitas tersebut ditargetkan memiliki kapasitas hingga 10 juta robot per tahun mulai 2027.
Perkembangan ini membuat kiprah Musk di Project Meridian menjadi semakin menarik karena teknologi robotika yang dikembangkan perusahaannya berada di salah satu bidang yang dipandang Pentagon sebagai penentu masa depan peperangan.
Project Meridian Jadi Jembatan Teknologi dan Pertahanan
Dengan melibatkan Musk, Luckey, dan Gingrich, Project Meridian mempertemukan tokoh teknologi, industri pertahanan, serta pengalaman politik dalam satu studi.
Tujuannya bukan sekadar menebak perang berikutnya, tetapi membayangkan kemampuan apa yang perlu dimiliki AS agar siap menghadapi perubahan teknologi hingga beberapa dekade ke depan.
Statement:
Palmer Luckey, Android Industries
“Kami akan mempelajari perang yang terjadi hari ini, tetapi juga memikirkan secara serius perang yang tidak boleh sampai kita jalani pada 2030, 2050, dan 2100.”
Pete Hegseth, Menteri Pertahanan AS
“Pihak yang paling jago memprediksi konflik masa depan tidak hanya ada di dalam Pentagon.”
3 Poin Penting:
- Elon Musk ditunjuk ikut memimpin Project Meridian, studi Pentagon bersama Palmer Luckey dan Newt Gingrich untuk memprediksi bentuk perang masa depan.
- Project Meridian akan mengkaji berbagai teknologi strategis, termasuk AI, sistem otonom, robotika, senjata energi terarah, dan bioteknologi, dengan cakupan medan dari bawah tanah hingga luar bulan.
- Robot humanoid Optimus milik Tesla ikut menjadi sorotan, karena robotika merupakan salah satu bidang yang dianggap berpotensi mengubah cara peperangan di masa depan.



![google kena gugatan [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/61076e8a5b359-300x200.jpg)