Search
Search
Search

Emang AI Bisa Terjemahkan Bahasa Hewan? Para Peneliti Lagi Uji Coba

Selasa, 15 September 2026

gagak (live science)

Selama bertahun-tahun, manusia cuma bisa menebak-nebak apa yang coba disampaikan oleh hewan peliharaan atau satwa liar. Suara gonggongan anjing atau ngeongan kucing sering kali bikin penasaran tanpa tahu makna aslinya secara pasti.

Kini, kehadiran teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) perlahan mendobrak batas kemustahilan tersebut dan mulai digunakan untuk memahami bahasa hewan.

Salah satu studi menarik dilakukan oleh biolog Vittorio Baglione dan Daniela Canestrari yang meneliti burung gagak bangkai (carrion crow) di Spanyol.

Setelah 30 tahun mempelajari perilaku burung ini, sejak 2018 mereka memasang mikrofon kecil pada 43 ekor gagak hingga mengumpulkan sekitar 150.000 rekaman suara interaksi satwa tersebut.

Peran Machine Learning Memetakan Pola Suara Satwa

Proses analisis ratusan ribu rekaman suara yang sangat kompleks tersebut dibantu oleh model machine learning dari Earth Species Project.

Teknologi AI ini membantu para peneliti memilah dan membedakan suara gagak pembawa mikrofon, gagak di sekitarnya, hingga suara latar belakang lainnya secara presisi.

Tak sekadar mengenali jenis suara, machine learning dimanfaatkan untuk menemukan pola komunikasi tertentu saat hewan menghadapi situasi khusus, seperti momen genting.

Dengan mencocokkan rekaman suara dan video perilaku di lapangan, peneliti mulai mendapatkan konteks serta gambaran makna di balik suara yang dikeluarkan satwa.

Eksperimen Metode Playback demi Komunikasi Dua Arah

Meskipun AI sangat membantu, menerjemahkan bahasa hewan bukanlah perkara instan karena satwa juga berkomunikasi lewat bau, gerakan, hingga sonar.

Untuk menguji keakuratan analisis data tersebut, para peneliti mulai menerapkan metode playback dengan memutar kembali suara rekaman kepada hewan lain di alam bebas.

Melalui metode ini, respons spesifik dari hewan yang mendengarkan rekaman dapat diamati secara langsung oleh para ilmuwan.

Dalam sebuah eksperimen, seekor simpanse tampak terkejut saat mendengar suara rekaman sesamanya yang diputar lewat pengeras suara, memberikan petunjuk penting bagi pembuktian pola komunikasi mereka.

Target 2030 dan Potensi Terwujudnya Dialog Antarspesies

Perkembangan riset kecerdasan buatan dalam memetakan bahasa hewan ini memicu optimisme besar di kalangan pendukung penelitian global.

Teknologi ini dinilai makin dekat untuk membuka pintu komunikasi dua arah antara manusia dan dunia satwa dalam waktu dekat.

Jeremy Coller, salah satu pendukung penelitian komunikasi hewan, memperkirakan kode komunikasi antarspesies ini dapat terpecahkan sepenuhnya pada 2030 mendatang.

Jika target ini tercapai, impian manusia untuk “berbicara” langsung dengan hewan bukan lagi sekadar skenario film fiksi ilmiah.

Risiko Penyalahgunaan Teknologi dan Ancaman bagi Satwa

Kendati menawarkan potensi pengetahuan yang luar biasa, kemampuan memahami bahasa hewan ini juga membawa ancaman serius.

Informasi mengenai pola suara tertentu dapat disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab, seperti pemburu liar untuk memancing satwa keluar dari tempat persembunyiannya.

Penggunaan metode playback yang tak terkontrol juga berisiko memicu stres tinggi pada hewan serta merusak tatanan interaksi sosial alami mereka.

Oleh karena itu, penerapan teknologi AI di alam liar membutuhkan batasan etika yang sangat ketat.

Tanggung Jawab Moral Manusia di Masa Depan

Kemajuan AI untuk menerjemahkan suara satwa pada akhirnya bukan hanya persoalan kecanggihan teknologi semata. Hal ini turut membawa tanggung jawab moral yang sangat besar bagi manusia sebagai spesies yang mendominasi bumi.

Setelah berhasil memahami apa yang disampaikan oleh hewan, manusia dituntut untuk bisa mengambil tindakan yang bijak demi perlindungan ekosistem.

Jangan sampai penemuan penting ini justru merugikan keberlangsungan hidup satwa di habitat aslinya.

Statement:

Vittorio Baglione, Biolog & Peneliti Gagak Bangkai

“Model machine learning membantu mengenali dan memilah suara di dalam rekaman. Peneliti tidak hanya ingin sekadar mengetahui suara apa yang terdengar, tetapi juga mencari pola dari suara tersebut untuk dibandingkan dengan perilaku burung.”

Jeremy Coller, Pendukung Penelitian Komunikasi Hewan

“Komunikasi dua arah dengan hewan diperkirakan akan bisa terwujud dalam beberapa tahun mendatang. Manusia ditargetkan akan bisa memecahkan kode komunikasi hewan tersebut pada tahun 2030.”

3 Poin Penting:

  • Penggunaan AI dan Machine Learning: Penelitian memanfaatkan model machine learning untuk memetakan dan mencari pola dari 150.000 rekaman suara gagak bangkai demi memahami makna komunikasi mereka.

  • Pengujian Metode Playback & Target 2030: Peneliti menguji dugaan arti suara melalui pemutaran kembali rekaman (playback), dengan target memecahkan kode komunikasi hewan secara penuh pada 2030.

  • Risiko dan Etika Pelestarian: Pemahaman bahasa hewan menyimpan risiko penyalahgunaan oleh pemburu liar serta potensi gangguan psikologis satwa, sehingga memerlukan etika dan perlindungan ketat.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan