Epic Comeback! Kisah Gowa-Bone: Dari Rivalitas Berdarah hingga Syiar Islam yang Chill

Jumat, 20 Februari 2026

Prasasti persaudaraan Gowa-Luwu-Bone (RRI.co.id)

Hubungan antara Kerajaan Gowa dan Bone di masa lalu ternyata penuh dengan plot twist yang bikin geleng-geleng kepala. Jauh sebelum era modern, kedua kerajaan besar di Sulawesi Selatan ini terlibat rivalitas sengit, terutama saat Gowa dipimpin oleh Karaeng Tunipalangga.

Meski berkali-kali melancarkan serangan buat menaklukkan Bone, nyatanya pertahanan Bone tetap kokoh dan nggak gampang dihancurkan. Rivalitas ini bukan cuma soal ego, tapi juga soal harga diri penguasa di tanah Daeng.

Drama berlanjut ketika Tunipalangga wafat dan digantikan saudaranya, Karaeng Tunibatta. Sayangnya, masa jabatan Tunibatta cuma bertahan 40 hari karena beliau gugur dalam medan perang.

Di sinilah momen “respect” yang luar biasa muncul. Atas saran penasihat bijak Kajao Laliddong, Raja Bone justru mengembalikan jenazah Tunibatta ke Gowa dengan upacara penuh kehormatan.

Aksi berkelas dari musuh ini bikin para pembesar Gowa kagum berat dengan ketulusan hati Raja Bone.

Transformasi Takhta dan Persahabatan Sultan Baabullah

Setelah gugurnya Tunibatta, takhta Gowa jatuh ke tangan putranya yang masih sangat muda, Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo. Baru berusia 20 tahun, raja ke-12 ini langsung dihadapkan pada dinamika politik yang nggak main-main.

Meskipun naik takhta di usia yang terbilang “anak muda” pada zamannya, Daeng Mammeta dikenal sebagai pemimpin yang punya pikiran terbuka dan menghargai keragaman di pelabuhan Makassar yang super sibuk.

Salah satu momen ikonik di masa kekuasaannya adalah kedatangan Sultan Baabullah dari Ternate pada tahun 1580. Alih-alih merasa terancam, Daeng Mammeta menyambut Sultan Baabullah sebagai sahabat karib di Istana Somba Opu.

Sebagai simbol persahabatan, Gowa bahkan menyerahkan wilayah Selayar kepada Ternate.

Meski Sultan Baabullah sudah memeluk Islam dan ingin berbagi keyakinan, Daeng Mammeta tetap pada pendiriannya namun memberikan kebebasan penuh bagi umat Muslim untuk beribadah.

Toleransi Tinggi di Pelabuhan Internasional Makassar

Gowa di bawah Daeng Mammeta benar-benar menjadi melting pot yang asyik bagi semua bangsa.

Beliau nggak cuma membiarkan pedagang dari mana saja singgah, tapi juga memberikan izin resmi bagi komunitas Melayu untuk mendirikan masjid di utara Benteng Somba Opu.

Kebijakan ini membuktikan kalau toleransi sudah menjadi napas Kerajaan Gowa sejak lama. Bahkan, warga Muslim di sana diperbolehkan berangkat naik haji tanpa ada hambatan sama sekali dari pihak istana.

Seiring berjalannya waktu, syiar Islam di Sulawesi Selatan mulai memasuki babak baru yang lebih intens. Pada akhir abad ke-16, tiga ulama legendaris dari Minangkabau yang dikirim Sultan Johor tiba di Gowa.

Mereka adalah Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Patimang, dan Datuk Ri Tiro.

Meskipun awalnya menghadapi tantangan besar dalam berdakwah di Makassar, para ulama ini nggak menyerah dan memilih jalur diplomasi budaya yang lebih smooth dengan mendekati akar kerajaan di Sulawesi Selatan, yaitu Kerajaan Luwu.

Gelombang Islamisasi dan Lahirnya Gelar Sultan di Makassar

Strategi para ulama ini membuahkan hasil manis ketika Raja Luwu, La Patiwarek Daeng Parebbung, resmi masuk Islam pada tahun 1603. Karena Luwu adalah “akar” dari kerajaan-kerajaan lain, langkah ini memberikan dampak domino yang besar.

Tak lama setelah itu, tepatnya pada 22 September 1605, giliran Raja Gowa I Mangarangi Daeng Manrabia dan Raja Tallo I Malingkaan Daeng Manyonri yang mengucapkan dua kalimat syahadat di bawah bimbingan Datuk Ri Bandang.

Momen bersejarah ini menandai perubahan gelar mereka menjadi Sultan Alauddin dan Sultan Awaluddin. Dengan masuknya para raja ke dalam agama Islam, rakyat Gowa dan Tallo pun mengikuti jejak pemimpin mereka secara masif.

Sejarah ini mengajarkan kita bahwa perubahan besar seringkali diawali dari rasa saling menghormati, keterbukaan pikiran, dan pendekatan yang penuh kedamaian tanpa harus ada pertumpahan darah yang sia-sia.

Kutipan:

Sejarawan Mattulada dalam literaturnya mengenai sejarah Makassar

“Almarhum baginda raja Gowa ke-11, jenazahnya disambut dengan penuh kebesaran pula oleh orang Gowa. Maka kagumlah para pembesar Kerajaan Gowa tentang ketulusan hati Raja Bone menghormati musuhnya.”

3 Poin Penting:

  1. Rivalitas Berkelas: Hubungan Gowa-Bone sempat memanas, namun berakhir dengan aksi penghormatan luar biasa saat Raja Bone mengembalikan jenazah Raja Gowa ke-11 dengan upacara resmi.

  2. Keterbukaan Gowa: Di bawah Daeng Mammeta (Tunijallo), Gowa menjadi pelabuhan dagang yang sangat toleran, mengizinkan pembangunan masjid, dan menjalin persahabatan dengan Sultan Baabullah.

  3. Puncak Islamisasi: Melalui peran tiga ulama Minangkabau (Datuk Ri Bandang, dkk), Islam akhirnya resmi menjadi agama kerajaan di Gowa dan Tallo pada September 1605.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir