Fiskal Bukan Cuma Buat Jajan: Pemerintah Fokus Garap Danantara dan MBG Demi Masa Depan

Selasa, 13 Januari 2026

Ilustrasi penyediaan MGB (istimewa)

Pemerintah Indonesia resmi melakukan manuver besar dalam urusan dompet negara. Gak lagi cuma fokus pada belanja konsumtif jangka pendek yang cepat habis, arah kebijakan fiskal kini digeser ke program-program yang punya daya ungkit atau leverage effect tinggi.

Dua program yang jadi bintang utama dalam transformasi ini adalah Danantara dan Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dipercaya bakal jadi mesin penggerak ekonomi dan sosial lintas generasi.

Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas, Eka Chandra Buana, menegaskan bahwa transformasi ini sangat krusial agar belanja negara tidak sekadar menguap begitu saja.

Melalui forum diskusi publik yang digelar Indef pada Kamis (8/1/2026), ia menjelaskan bahwa pemerintah ingin hasil dari setiap rupiah yang dikeluarkan bisa terukur, baik secara ekonomi maupun dampak sosialnya bagi masyarakat luas dalam jangka panjang.

Danantara dan MBG Jadi Program Flagship 2025-2029

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, Danantara dan MBG resmi ditetapkan sebagai program flagship.

Danantara sendiri diposisikan sebagai instrumen pembiayaan strategis untuk mendorong investasi berkualitas.

Dengan pendekatan investasi produktif, Danantara diharapkan bisa melengkapi kebijakan fiskal agar Indonesia punya modal yang lebih berkelanjutan dan tidak hanya bergantung pada penerimaan pajak semata.

Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipandang sebagai investasi manusia jangka panjang.

Walaupun dampaknya nggak instan kayak beli gorengan, MBG diyakini bakal memberikan efek kuat pada produktivitas generasi mendatang.

Pemerintah menilai, gizi yang baik hari ini adalah kunci untuk menciptakan tenaga kerja yang cerdas dan kompetitif di masa depan, yang ujung-ujungnya bakal meningkatkan pendapatan per kapita negara.

Analisis Lintas Generasi Lewat Model Overlapping Generation

Untuk memastikan kebijakan ini nggak zonk, Bappenas menggunakan alat analisis canggih yang disebut Overlapping Generation (OG) Model.

Model ini membantu pemerintah melihat dampak kebijakan fiskal terhadap berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak yang sekarang menerima MBG hingga kelompok usia produktif yang akan merasakan manfaat investasi Danantara.

Jadi, hitung-hitungannya nggak cuma buat tahun depan, tapi buat puluhan tahun ke depan.

Melalui OG Model, pemerintah bisa memetakan bagaimana peningkatan gizi saat ini berkontribusi pada akumulasi modal manusia.

Sedangkan untuk Danantara, model ini menilai bagaimana investasi strategis saat ini memengaruhi pertumbuhan output nasional tanpa membebani generasi berikutnya dengan utang yang menumpuk.

Inilah yang disebut sebagai keadilan fiskal, di mana manfaat pembangunan hari ini harus bisa dinikmati secara merata lintas generasi.

Transformasi Ekonomi Inklusif dan Dukungan UMKM

Eka Chandra menambahkan bahwa optimalisasi Danantara harus diarahkan pada sektor yang meningkatkan produktivitas jangka panjang.

Sementara itu, program MBG punya potensi efek domino yang luar biasa jika diintegrasikan dengan sektor pangan lokal dan UMKM.

Bayangkan saja, ribuan penyedia katering lokal dan petani daerah bakal kecipratan berkah dari program ini, yang artinya ekonomi daerah juga ikut berputar kencang.

Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, di mana manfaatnya nggak cuma muter di kota besar saja.

Dengan memanfaatkan instrumen strategis ini, pemerintah optimistis kebijakan fiskal bisa menjadi alat transformasi ekonomi dan sosial yang nyata.

Fokusnya jelas: membangun pondasi yang kuat hari ini agar generasi masa depan Indonesia bisa terbang lebih tinggi.

Statement:

Eka Chandra Buana, Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas

“Transformasi belanja negara diarahkan kepada program leverage effect tinggi seperti Danantara dan MBG agar belanja fiskal tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga bisa menghasilkan dampak ekonomi sosial yang terukur. Dengan pendekatan ini, kebijakan fiskal tidak lagi dinilai dalam jangka pendek terhadap defisit atau pertumbuhan, tapi bagaimana dampaknya terhadap keberlanjutan antar-generasi,” ungkap.

3 Poin Penting:

  • Geser Fokus Belanja: Pemerintah merubah arah belanja negara dari konsumsi jangka pendek ke program produktif dengan daya ungkit tinggi melalui Danantara dan Makan Bergizi Gratis (MBG).

  • Investasi Sumber Daya Manusia: MBG diposisikan sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan gizi dan produktivitas anak bangsa agar mampu bersaing di masa depan.

  • Analisis Keberlanjutan: Penggunaan Overlapping Generation (OG) Model menjadi kunci untuk memastikan kebijakan fiskal saat ini bermanfaat bagi semua kelompok usia dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir