Dunia balap listrik, Formula E, bersiap menyambut musim ke-12 (2025-2026) dengan nuansa humanis yang penuh perpisahan dan pertemuan baru.
Uji coba pramusim akan dimulai pada 27-31 Oktober di Sirkuit Ricardo Tormo, Cheste, sebelum genderang balapan dibunyikan di Sao Paulo E-Prix pada awal Desember.
Musim baru ini menampilkan pergeseran besar yang menunjukkan betapa dinamis dan kejamnya bisnis di balik kecepatan nol-emisi.
Susunan pembalap musim ke-12 menunjukkan bahwa industri ini brutal dalam mempertahankan talenta. Dari 20 pembalap, hanya 12 pembalap yang kembali ke tim yang sama dengan musim sebelumnya.
Perubahan besar ini terjadi di tengah pergantian nama tim dan kedatangan powertrain baru.
Musim ini adalah potret tentang perjuangan atlet untuk mempertahankan kursi dan ambisi pabrikan untuk selalu mencari pasangan yang paling efisien.
Kedatangan Citroen dan Perginya McLaren: Drama Pindah Grid
Perubahan paling dramatis terjadi pada struktur tim. Di satu sisi, ada perpisahan yang menyedihkan: McLaren meninggalkan Formula E untuk fokus ke WEC.
Setelah gagal menemukan pembeli, McLaren meninggalkan grid dengan hanya menyisakan 20 mobil, bukan 22 mobil seperti biasanya.
Kepergian McLaren ini menunjukkan betapa sulitnya menjaga stabilitas bisnis di kejuaraan balap yang masih relatif muda.
Namun, di tengah perpisahan, datanglah harapan baru. Keputusan Maserati untuk tidak melanjutkan kerjasama dengan powertrain Stellantis membuka pintu bagi kedatangan tim baru yang besar dan menjanjikan, yaitu Citroen.
Citroen datang tidak main-main, langsung menggebrak dengan susunan pemain yang luar biasa, merekrut dua superstar di balap listrik.
Pergerakan ini memastikan bahwa meskipun jumlah mobil berkurang, tingkat persaingan akan tetap panas membara.
Transfer Bintang: Vergne dan Cassidy Menciptakan Duet Impian
Musim ke-12 dipenuhi dengan drama transfer pembalap yang menyentuh sisi humanis profesionalisme: mencari lingkungan baru demi ambisi gelar.
Tim Citroen, sebagai tim pengganti Maserati, mengontrak dua nama besar: Jean-Eric Vergne yang dicomot dari DS Penske dan Nick Cassidy dari Jaguar.
Duet ini dianggap sebagai salah satu yang paling kuat di grid, menciptakan tim impian baru yang langsung menjadi contender utama.
Selain itu, drama pindah tim juga terjadi di antara tim-tim kuat. Antonio Felix da Costa meninggalkan Porsche untuk bergabung dengan Jaguar, menjadi rekan setim baru bagi Mitch Evans.
Sementara itu, kursi kosong yang ditinggalkan Da Costa di Porsche diisi oleh Nico Muller, yang musim lalu dipinjamkan ke Andretti.
Pergerakan transfer ini menggambarkan bahwa Formula E kini tak ubahnya pasar pemain bola, di mana nilai seorang pembalap dinilai dari potensi mereka membawa gelar ke pabrikan.
Selamat Datang Drugovich, Selamat Tinggal Vandoorne dan Frijns
Musim ini juga menyajikan momen perpisahan yang mengharukan bagi beberapa nama besar.
Juara musim 2021-2022, Stoffel Vandoorne, tidak akan melanjutkan di kejuaraan listrik, mengikuti jejak Robin Frijns dan Sam Bird yang juga meninggalkan Formula E.
Kepergian mereka menandakan betapa cepatnya perubahan terjadi di kejuaraan ini; tempat Anda di grid tidak pernah terjamin.
Namun, di tengah perpisahan, selalu ada harapan. Formula E menyambut satu rookie yang paling dinantikan: Felipe Drugovich.
Juara F2 pada 2022 ini memutuskan untuk meninggalkan mimpinya yang tersendat di F1 untuk memulai debutnya di kejuaraan listrik bersama Andretti.
Keputusan Drugovich adalah pengakuan humanis bahwa Formula E kini adalah arena balap yang layak diperjuangkan, menjanjikan kompetisi sengit dan masa depan yang penuh energi.
![Red Bull Racing [dok. crash]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/9840e8ac95efe3ceed9a0f1978315369-300x181.png)
![Andrea Kimi Antonelli [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/andrea-kimi-antonelli-1774826638325_169-300x169.jpeg)

![Max Verstappen [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/max-verstappen-pesimistis-menangi-f1-gp-jepang-f1-Ugi6g-300x169.webp)