Memimpikan kehidupan baru di luar negeri alias migrasi kini sedang menjadi tren hangat di kalangan generasi muda Indonesia. Namun, jalan menuju negara impian sering kali tidak semulus estetikanya media sosial.
Banyak cerita tentang pejuang migrasi yang harus gigit jari karena ketatnya persaingan sistem poin, seperti yang dialami oleh Ridho Akhiro, seorang perantau asal Jakarta.
Setelah berjuang sejak tahun 2016 demi mengejar visa kependudukan di Australia, ia harus menghadapi rentetan kegagalan mulai dari penutupan perbatasan akibat pandemi hingga kendala dokumen kedaluwarsa.
Tak mau terpuruk dalam ketidakpastian, Ridho akhirnya memilih memutar otak dan mencari alternatif negara lain yang memiliki kebijakan lebih bersahabat.
Pilihannya jatuh pada Selandia Baru, sebuah negara yang ternyata menawarkan jalur imigrasi yang jauh lebih mudah dan minim birokrasi rumit bagi tenaga kerja terampil.
Keputusannya terbukti tepat, karena kini ia sukses bekerja sebagai Data Engineer di sana dan bahkan telah mengantongi Straight to Residence Visayang menjadi karpet merah menuju status penduduk tetap.
Kebijakan Longgar Negeri Kiwiburger Mulai Dilirik Warga Indonesia
Fenomena berbeloknya arah migrasi dari Australia ke Selandia Baru ini ternyata tidak hanya dialami oleh Ridho seorang.
Banyak warga negara Indonesia (WNI) yang awalnya mengincar Australia kini berbondong-bondong mengalihkan fokus mereka karena regulasi di Negeri Kanguru dirasa kian mempersulit pendatang untuk menetap.
Sebaliknya, pemerintah Selandia Baru justru sedang gencar memperkenalkan jalur-jalur baru bagi migran potensial sebagai salah satu strategi taktis untuk memulihkan perekonomian nasional mereka yang sedang membutuhkan asupan tenaga ahli.
Kemudahan regulasi di Selandia Baru ini juga diakui oleh Henny Burnady, seorang relationship manager dari firma hukum Queen City Law di Selandia Baru.
Menurut analisisnya, kelonggaran aturan yang ditawarkan pemerintah setempat menjadi daya tarik luar biasa yang berhasil menciptakan efek traksi (traction) besar di pasar domestik Indonesia.
Banyak pekerja terampil yang tidak lolos kualifikasi ketat Australia akhirnya memilih masuk ke Selandia Baru karena proses verifikasi dokumennya jauh lebih transparan dan tidak berbelit-belit.
Mengulik Strategi Green List dan Batas Usia yang Lebih Santai
Salah satu kunci sukses utama untuk bisa menembus pasar kerja Selandia Baru secara instan adalah dengan memperhatikan program Green List atau Daftar Hijau.
Skema ini sengaja dibuat pemerintah setempat untuk memetakan jenis pekerjaan apa saja yang sedang mengalami kelangkaan parah di dalam negeri.
Jika bidang keahlian pelamar masuk dalam kategori Tier 1 Daftar Hijau, maka mereka berhak mengajukan Straight to Residence Visa yang proses persetujuannya tergolong sangat cepat bahkan tidak sampai memakan waktu satu bulan.
Faktor Batas Umur Luang dan Realitas Trans-Tasman Agreement
Selain urusan dokumen yang mudah, faktor batasan usia juga menjadi alasan krusial mengapa banyak kaum urban memantapkan hati memilih negara ini.
Yutia Meliani, salah satu migran yang sukses menetap sejak 2016, menceritakan bahwa batasan usia pengajuan izin tinggal tetap di Selandia Baru jauh lebih longgar, yakni hingga 55 tahun, berbeda dengan Australia yang membatasi ketat di angka 45 tahun.
Skema visa belajar di Selandia Baru juga sangat menguntungkan keluarga karena pasangan diizinkan bekerja penuh waktu dan anak-anak bisa sekolah negeri secara gratis.
Uniknya, setelah resmi menyandang status sebagai warga negara Selandia Baru, para migran ini sebenarnya memiliki hak istimewa untuk menyeberang ke Australia berkat adanya Trans-Tasman Agreement.
Kesepakatan bebas ini memungkinkan pergerakan warga di antara kedua negara tanpa visa rumit.
Langkah ini kerap diambil oleh sebagian migran dengan pertimbangan akses penerbangan langsung yang lebih dekat ke Indonesia serta peluang pasar kerja yang jauh lebih masif di benua tetangga saat usia mereka sudah semakin matang.
3 Poin Penting:
-
Selandia Baru Jadi Alternatif Utama: Ketatnya persaingan sistem poin dan regulasi visa di Australia membuat banyak migran Indonesia mengalihkan target migrasi mereka ke Selandia Baru.
-
Kemudahan Straight to Residence: Melalui program Green List Tier 1, pekerja terampil asing bisa mendapatkan izin tinggal tetap secara cepat tanpa birokrasi yang rumit.
-
Keunggulan Batas Usia dan Fasilitas: Selandia Baru menawarkan batas usia pengajuan PR yang lebih longgar (hingga 55 tahun) serta fasilitas sekolah gratis bagi anak-anak pemilik visa studi.



