Gak Cuma Mimpi Jadi Negara Maju, Indonesia Butuh Reformasi Struktural Biar Gak Terjebak Middle Income Trap

Kamis, 5 Februari 2026

Ilustrasi kota metropolitan (ist)

World Bank atau Bank Dunia baru saja mengeluarkan peringatan cukup serius buat Indonesia. Meskipun ekonomi kita terlihat baik-baik saja dan menunjukkan progres yang lumayan oke, ternyata Indonesia masih berisiko terjebak dalam fenomena middle income trap.

Jika Indonesia tidak segera melakukan reformasi struktural yang lebih dalam, terutama pada iklim usaha dan investasi, impian untuk naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi bisa saja kandas di tengah jalan.

Lead Country Economist World Bank untuk Indonesia dan Timor Leste, David Knight, mengungkapkan bahwa Indonesia mustahil menjadi negara maju hanya dengan mengandalkan model pertumbuhan yang sekarang.

Banyak prasyarat pertumbuhan, khususnya kualitas iklim bisnis, yang posisinya masih tertinggal dibandingkan negara lain. Indonesia perlu “mesin baru” agar ekonomi tidak jalan di tempat dan bisa bersaing lebih gahar di level global.

Tantangan Produktivitas dan Ekosistem Perusahaan yang Kurang Dinamis

Salah satu temuan menarik dari analisis World Bank menggunakan big data adalah ekosistem perusahaan besar di Indonesia yang dinilai kurang dinamis dan kurang produktif.

Uniknya, di Indonesia ditemukan fenomena di mana perusahaan yang lebih besar dan sudah lama beroperasi justru cenderung kurang produktif.

Padahal, secara logika, perusahaan mapan seharusnya menjadi motor utama dalam penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pendorong inovasi nasional.

Masalah produktivitas ini berakar pada lingkungan persaingan usaha yang belum sepenuhnya setara atau istilah kerennya level playing field. Tantangan yang dihadapi bukan cuma soal regulasi yang ribet, tapi juga penegakan aturan yang belum konsisten.

Hal ini akhirnya berdampak domino pada sektor keuangan, pasar jasa, hingga industri pengolahan yang sulit berkembang secara optimal karena kurangnya kompetisi yang sehat.

Pekerja Informal Masih Dominan dan PR Besar Ruang Fiskal

Kondisi sektor swasta yang kurang kondusif ini ternyata juga menjadi biang kerok tingginya tingkat informalitas tenaga kerja di tanah air. Menurut data dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), sekitar 83% tenaga kerja Indonesia masih berada di sektor informal.

Angka ini merupakan salah satu yang tertinggi di antara negara-negara dengan ekonomi besar lainnya, yang tentu saja membawa dampak kurang baik bagi stabilitas ekonomi jangka panjang.

Tingginya angka pekerja informal ini berimbas langsung pada rendahnya penerimaan pajak negara. Akibatnya, ruang fiskal pemerintah untuk melakukan investasi produktif menjadi sangat terbatas.

Selain itu, pengembangan sistem inovasi dan sektor keuangan pun jadi melambat karena sebagian besar perputaran uang dan aktivitas kerja tidak tercatat secara formal dalam sistem ekonomi negara.

Peluang Pertumbuhan Delapan Persen di Tahun 2029

Meski tantangannya cukup berat, World Bank tetap memberikan secercah harapan bagi pemerintah. Aspirasi pertumbuhan ekonomi di angka 8% pada tahun 2029 dinilai masih realistis untuk dicapai.

Kuncinya bukan sekadar menarik investasi sebanyak-banyaknya, melainkan konsistensi dalam menjalankan paket reformasi yang telah direkomendasikan untuk memperbaiki iklim usaha secara menyeluruh dari hulu ke hilir.

Jika paket reformasi tersebut diterapkan secara disiplin selama lima tahun ke depan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan berpotensi mendapat tambahan ekstra sekitar 2% per tahun.

Dengan total potensi peningkatan pertumbuhan hingga 10%, Indonesia punya peluang besar untuk benar-benar lepas dari jebakan negara berpendapatan menengah dan mewujudkan visi besar menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Statement:

David Knight, Lead Country Economist World Bank

“Pendorong pertumbuhan ke depan harus semakin bersifat endogen, berfokus pada produktivitas, serta memperluas pasar melampaui batas domestik guna mempercepat pembangunan dan inovasi. Indonesia telah membuat banyak kemajuan, namun kita butuh perbaikan pada indikator kualitas bisnis.”

3 Poin Penting:

  1. Indonesia terancam terjebak dalam middle income trap jika tidak melakukan reformasi struktural pada iklim investasi dan produktivitas perusahaan.

  2. Sektor tenaga kerja Indonesia masih didominasi pekerja informal sebesar 83%, yang menghambat penerimaan pajak dan ruang fiskal negara.

  3. Target pertumbuhan ekonomi 8% tetap mungkin dicapai dengan syarat adanya reformasi yang konsisten untuk menciptakan kesetaraan kesempatan berusaha.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir