Search

Gak Cuma Siklon: DMI Negatif, La-Nina Lemah Bikin Potensi Hujan di Indonesia Bagian Barat dan Timur Ngegas

Kamis, 11 Desember 2025

Ilustrasi gelombang tinggi (meta AI)

Guys, ternyata cuaca ekstrem di Indonesia tuh gak cuma dipengaruhi oleh siklon lokal doang! BMKG bilang perpaduan fenomena atmosfer skala global, regional, dan lokal bakal mempengaruhi cuaca kita hingga sepekan ke depan!

Fenomena global kayak Dipole Mode Index (DMI) dan La-Nina ikut ambil peran gede nih!

DMI Negatif dan La-Nina Lemah Jadi Kunci

Saat ini, Dipole Mode Index (DMI) tercatat bernilai -0.46 (negatif). Ini mengindikasikan potensi peningkatan pembentukan awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian barat (termasuk Sumatra dan Jawa).

Selain itu, kondisi La-Nina lemah juga ikut campur. Hal ini ditandai dengan nilai indeks Nino 3.4 sebesar -0.91 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar +3.7.

La-Nina ini malah meningkatkan potensi hujan di wilayah Indonesia bagian timur dan suhu muka laut hangat di Papua. Jadi, hampir seluruh Indonesia wajib waspada!

MJO Lagi Gak Ikutan, Gelombang Kelvin dan Rossby Siaga

Untungnya, Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi berada pada fase 8, sehingga tidak berkontribusi untuk peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia saat ini.

Tapi, BMKG mencatat Kombinasi antara MJO, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator diprediksi bakal aktif di beberapa wilayah kayak Aceh bagian selatan, Sumatra Utara, Riau, Kep. Riau, dan Selat Malaka.

Ini bakal berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di wilayah-wilayah tersebut.

Perpaduan Fenomena Memicu Hujan Lebat

Perpaduan fenomena ini sudah terlihat dampaknya! Sirkulasi siklonik di Kalimantan Barat dan perlambatan angin di Pulau Jawa hingga NTB udah memicu terjadinya hujan lebat-sangat lebat di Paloh Kalimantan Barat (147.2 mm/hari) dan Kertajati Jawa Barat (84 mm/hari).

Ini nunjukin dinamika atmosfer lagi berperan secara agresif.

Warga wajib memantau informasi resmi BMKG secara rutin karena kondisi cuaca dapat berubah cepat akibat perpaduan fenomena global dan lokal ini.

Statement:

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

(Implisit) Kombinasi antara MJO, Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator diprediksi akan aktif di beberapa wilayah seperti Aceh bagian selatan, Sumatra Utara, Riau, Kep. Riau, Selat Malaka, Perairan Kep. Natuna.

3 Poin Penting:

  1. DMI Negatif dan La-Nina Lemah: Dipole Mode Index (DMI) bernilai negatif memicu potensi peningkatan awan hujan di Indonesia bagian barat, sementara La-Nina lemah (Nino 3.4 sebesar -0.91) meningkatkan potensi hujan di wilayah timur.

  2. Aktivitas Gelombang Ekuator: Kombinasi Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator diprediksi aktif di beberapa wilayah (Aceh Selatan, Sumatra Utara, Riau) dan berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif.

  3. Dampak Intensitas Hujan: Dinamika atmosfer ini telah memicu terjadinya hujan lebat hingga sangat lebat di beberapa daerah (Paloh Kalbar 147.2 mm/hari, Kertajati Jabar 84 mm/hari), menunjukkan peran fenomena global secara nyata.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan