Gaes, tahu gak sih kalau robotaxi alias taksi otomatis tanpa sopir itu sekarang udah gak cuma nongkrong di Amerika Serikat (AS) sama China doang?
Yup, tren ini lagi ngebut banget dan siap nyebar ke negara-negara lain, termasuk Asia Tenggara. Kebayang gak sih, kalau nanti kita bisa naik taksi tanpa abang driver lagi?
Ini dia lho, gebrakan baru yang lagi bikin dunia transportasi geger!
Asia Tenggara Kedatangan Tamu Robot
Beberapa waktu lalu, perusahaan robotaxi asal AS, May Mobility, baru aja dapat suntikan dana segar dari Grab, raksasa transportasi online dari Singapura.
Ini bukan kaleng-kaleng, lho! May Mobility udah mantap banget mau ekspansi ke Asia Tenggara tahun depan. Jadi, kesepakatan antara May Mobility dan Grab ini jadi langkah maju buat bikin robotaxi go global.
Kata Reuters, ini juga jadi semacam “cetak biru” gimana robotaxi bisa dikelola di platform pemesanan kendaraan yang udah ada. Bayangin aja, Grab yang udah kita kenal akrab, bakal punya robotaxi!
Eropa Jadi Medan Perang Robotaxi
Gak cuma di Asia, Eropa juga jadi target empuk buat para robotaxi. Yang paling baru, Uber dan Lyft, dua raksasa transportasi online, ngumumin kolaborasi sama Baidu, raawa teknologi dari China.
Mereka berencana buat ngeluncurin uji coba robotaxi di Inggris mulai tahun depan. Ini jadi momen penting banget buat mendorong komersialisasi robotaxi di Eropa, gaes!
Unit Apollo Go RT6 milik Baidu bakal gabung ke jaringan platform transportasi online London mulai 2026. Wah, makin seru nih persaingannya!
Inggris Siap Jadi “Laboratorium” Robotaxi Dunia
Kolaborasi ini juga nunjukkin persaingan langsung antara raksasa AS dan China di pasar Eropa. Apalagi, Waymo punya Alphabet (Google) juga baru-baru ini udah mulai pengujian dengan pengawasan di kota tersebut.
Inggris emang lagi jadi semacam “laboratorium” global buat robotaxi, berkat adanya ‘Automated Vehicles Act 2024’. Undang-undang ini ngasih kerangka hukum yang jelas soal tanggung jawab, beda sama Uni Eropa yang masih kurang terfragmentasi.
Jadi, kalau ada insiden, tanggung jawab hukumnya beralih dari penumpang ke entitas pengemudi otomatis yang berwenang. Keren, kan?
Masa Depan yang Cerah, Tapi Penuh Tantangan
Gak ketinggalan, startup dari London, Wayve, juga lagi siap-siap meluncurkan pengujian kendaraan otomatis pada 2026.
Mereka didukung investasi gede dari SoftBank Group dan Uber sekitar US$1 miliar. Ini nunjukkin kalau tren robotaxi emang lagi naik daun banget.
Baidu dan WeRide juga lagi ekspansi ke Timur Tengah dan Swiss. Kota-kota kayak Austin, San Francisco di AS, Abu Dhabi di UEA, dan Wuhan, China, udah jadi pusat operasi robotaxi utama.
Robotaxi ini janjiin angkutan yang lebih ramah lingkungan, aman, dan murah. Tapi, ya, masih ada tantangan soal gimana cara bikin robotaxi ini bisa nguntungin secara finansial.
3 Poin Penting:
-
Ekspansi Global: Robotaxi tidak lagi terbatas di AS dan China, dengan May Mobility berekspansi ke Asia Tenggara melalui Grab, serta Uber dan Lyft berkolaborasi dengan Baidu untuk uji coba di Inggris.
-
Regulasi Inggris Mendukung: ‘Automated Vehicles Act 2024’ di Inggris menjadi pendorong utama bagi pengembangan robotaxi di Eropa, memberikan kerangka hukum yang jelas dan mengalihkan tanggung jawab hukum.
-
Tantangan Monetisasi: Meskipun menjanjikan transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan, perusahaan robotaxi masih menghadapi tantangan besar dalam hal monetisasi dan biaya pengembangan yang tinggi, sehingga model hibrida dengan pengemudi manusia mungkin menjadi solusi sementara.
![Ray-Ban Meta [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/image-5-300x169.jpeg)
![superapp OpenAI [dok. asatu]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/qD6nG0O5Zp.jpeg-300x169.webp)
![STAR RB-ZI [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/P1471645-300x200.jpg)
