CNBC Indonesia baru saja menggelar ajang bergengsi ESG Sustainability Forum 2026 yang mengusung tema keren “Akselerasi Agenda Hijau: Menjembatani Kepentingan Bisnis dan Keberlanjutan“.
Forum strategis ini hadir sebagai wadah buat para pelaku usaha dan pemerintah untuk saling kolaborasi demi masa depan bumi yang lebih oke. Gak cuma soal lingkungan, acara ini juga membedah cara jitu menggali peluang investasi hijau yang diprediksi bakal makin cuan di masa depan.
Dalam kesempatan tersebut, Hashim Sujono Djojohadikusumo selaku Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi memaparkan misi besar pemerintah dalam mendorong transisi energi.
Menurutnya, penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG) bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Fokus utamanya jelas, yakni membawa Indonesia menuju target Net Zero Emission pada tahun 2060 mendatang.
Gebrakan Perpres Nilai Ekonomi Karbon dan Target Juli 2026
Pemerintah Indonesia serius banget dalam menggarap isu iklim dengan menerbitkan Perpres 110/2025 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Aturan ini menjadi kerangka kerja komprehensif yang mengatur perdagangan karbon, baik yang sifatnya wajib maupun sukarela.
Kabar ini tentu jadi angin segar yang sudah ditunggu selama 10 tahun terakhir, karena bakal mempercepat pengendalian emisi Gas Rumah Kaca (GRK) secara sistematis di seluruh sektor industri.
Lebih lanjut, pemerintah menargetkan pasar karbon Indonesia bisa resmi “kick-off” pada Juli 2026 mendatang. Gak main-main, inisiatif ini diproyeksikan bakal menarik aliran modal masuk hingga miliaran dolar Amerika Serikat ke dalam negeri.
Dengan adanya pasar karbon yang jelas, perusahaan-perusahaan kini punya insentif lebih untuk mengurangi emisi mereka sekaligus berkontribusi pada pendanaan proyek-proyek ramah lingkungan di berbagai wilayah Nusantara.
Fokus pada Nature Based Solution dan Ekosistem Laut
Strategi pengembangan pasar karbon Indonesia bakal mengutamakan konsep “nature based solution” atau solusi berbasis alam yang sangat melimpah di tanah air.
Pemerintah akan memfokuskan investasi pada pelestarian ekosistem hutan dan laut, termasuk pengoptimalan padang lamun yang punya kemampuan luar biasa dalam menyerap karbon.
Langkah ini dinilai sangat cerdas karena memanfaatkan kekayaan biodiversitas Indonesia sebagai aset ekonomi baru yang berkelanjutan.
Dengan mengintegrasikan ekosistem laut ke dalam skema perdagangan karbon, Indonesia punya peluang jadi pemimpin pasar karbon biru di level global.
Transisi energi ini diharapkan gak cuma soal ganti bahan bakar, tapi juga menciptakan ekosistem bisnis baru yang lebih sehat bagi alam dan manusia.
Sinergi antara kepentingan bisnis dan keberlanjutan inilah yang menjadi kunci utama dalam forum diskusi yang digelar oleh CNBC Indonesia awal Februari ini.
Masa Depan Transisi Energi dan Ketahanan Nasional
Hashim Sujono Djojohadikusumo juga menekankan bahwa transisi energi harus berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi kerakyatan.
Pemerintah berkomitmen memberikan ruang bagi inovasi teknologi hijau yang bisa diterapkan oleh perusahaan lokal agar tetap kompetitif di pasar internasional.
Kesadaran akan pentingnya ESG diharapkan bisa meresap hingga ke level operasional terkecil perusahaan, sehingga target pengurangan emisi bukan sekadar angka di atas kertas.
Melalui ESG Sustainability Forum 2026, tergambar jelas bahwa Indonesia sedang berada di jalur cepat menuju transformasi ekonomi hijau.
Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, investor, dan pelaku bisnis menjadi pondasi kuat untuk menjembatani berbagai kepentingan yang ada.
Dengan semangat “Akselerasi Agenda Hijau”, Indonesia optimis bisa mencapai kedaulatan energi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi masa depan yang lebih cerah.
Statement:
Hashim Sujono Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi
“Pemerintah telah menerbitkan Perpres 110/2025 sebagai kerangka kerja komprehensif perdagangan karbon untuk mempercepat pengendalian emisi Gas Rumah Kaca. Kami menargetkan pasar karbon Indonesia dapat dimulai pada Juli 2026 dengan mengutamakan solusi berbasis alam.”
3 Poin Penting:
-
Pemerintah Indonesia resmi menerbitkan Perpres 110/2025 untuk mengatur perdagangan karbon wajib dan sukarela demi mendukung target Net Zero Emission 2060.
-
Pasar karbon nasional ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2026 dan diproyeksikan menarik investasi hijau senilai miliaran dolar.
-
Pengembangan agenda hijau Indonesia mengedepankan “Nature Based Solution” dengan fokus pada pelestarian hutan, laut, dan padang lamun.
![harga emas [dok. antara]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/20251022073533-300x169.webp)
![ihsg bursa saham [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Pasar-Modal-Bursa-Efek-Indonesia-300x168.jpg)
![menteri perekonomian [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/publikasi_1645809205_62190e35e15e4-300x169.jpeg)
![Ekonomi digital RI [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/1057778768-300x200.jpg)