Search

Gen Z Makin Kepikat Profesi Petani di Tengah Ancam AI

Kamis, 13 Agustus 2026

Ilustrasi petani Gen Z (ist)

Dinamika pasar tenaga kerja global yang kian menantang rupanya memicu pergeseran tren karier yang terbilang unik di kalangan anak muda.

Generasi Z yang dulunya identik dengan pekerjaan impian di sektor digital atau industri kreatif, kini mulai melirik profesi yang sempat dianggap jadul, yakni menjadi petani dan pelaku usaha pertanian.

Ketidakpastian industri modern serta dampak masif otomatisasi membuat sektor pangan tradisional ini kembali bersinar sebagai peluang masa depan.

Fenomena pergeseran minat ini dikonfirmasi oleh laporan Future of Jobs Report 2025 yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF).

Lembaga internasional tersebut menempatkan profesi petani dan pekerja sektor pertanian sebagai bidang pekerjaan dengan tingkat pertumbuhan kebutuhan tertinggi di dunia hingga tahun 2030 mendatang.

Diproyeksikan, industri pertanian global bakal membutuhkan tambahan sekitar 35 juta tenaga kerja baru dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Krisis Iklim dan Populasi Dunia Pemicu Lonjakan Kebutuhan Petani Muda

Kembali populernya profesi petani di mata Gen Z bukan tanpa alasan mendasar.

WEF mencatat bahwa kombinasi antara lonjakan kebutuhan pangan global dan ancaman krisis iklim menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas strategis yang kini justru mengalami krisis regenerasi.

Mayoritas petani aktif di berbagai belahan dunia saat ini sudah memasuki usia lanjut dan bersiap pensiun, sehingga ceruk pasar untuk petani muda terbuka sangat lebar.

Tuntutan pemenuhan pangan dunia diprediksi terus memuncak seiring pertumbuhan populasi bumi yang diperkirakan mencapai 10,3 miliar jiwa pada dekade 2080-an.

Data World Resources Institute bahkan menggarisbawahi bahwa dunia harus menutup celah pasokan pangan (food gap) sebesar 56 persen pada tahun 2050.

Kondisi ini menempatkan para produsen pangan lokal sebagai pilar utama pembawa solusi atas ketahanan pangan global.

Kisah Aktor China Banting Setir Jadi Pedagang Sayur Akibat Gempuran AI

Dampak nyata pergeseran pasar kerja akibat kecerdasan buatan (artificial intelligence) dialami langsung oleh aktor asal China, Xu Peng.

Pria berusia 30 tahun yang sebelumnya populer membintangi deretan drama pendek vertikal sebagai karakter CEO tersebut, harus merela kehilangan seluruh pekerjaannya.

Ledakan teknologi AI dalam industri sinema membuat mayoritas produksi drama mikro di China beralih menggunakan teknologi otomatisasi tanpa aktor fisik.

Pada kuartal pertama tahun 2026, dari sekitar 128.000 drama pendek yang dirilis di China, lebih dari 95% di antaranya diproduksi memanfaatkan teknologi AI.

Menghadapi kenyataan pahit tersebut, Xu Peng memutuskan meninggalkan pusat industri film Hengdian dan pulang ke kampung halamannya di Provinsi Shandong.

Kini, sang mantan aktor banting setir menjadi pedagang sayur tradisional, membantu kakeknya menjajakan hasil panen di pasar.

Solusi Karier Masa Depan di Luar Kungkungan Otomatisasi Digital

Kisah Xu Peng dan laporan WEF menjadi bukti nyata bahwa pekerjaan fisik yang berakar pada kebutuhan dasar manusia memiliki tingkat ketahanan yang lebih tinggi dari ancaman otomatisasi AI.

Profesi di bidang pertanian kini tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan dinilai sebagai pilihan karier yang stabil, menjanjikan, dan berdampak langsung pada kelangsungan hidup masyarakat banyak.

Dengan sentuhan inovasi teknologi modern yang dibawa oleh generasi muda, sektor pertanian berpotensi besar untuk terus bertransformasi menjadi industri yang lebih produktif dan keren.

Keberanian Gen Z dalam mengambil peluang di sektor riil ini diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus menciptakan lapangan kerja baru yang tahan terhadap disrupsi teknologi di masa depan.

Statement:

Arnold Puech Pays d’Alissac, Presiden World Farmers’ Organisation

“Banyak petani dunia yang ada saat ini sudah memasuki usia lansia dan akan segera pensiun dalam waktu dekat. Permintaan pangan global terus meningkat drastis, sehingga kondisi ini membuka peluang yang sangat besar bagi generasi muda untuk masuk dan mengambil peran strategis sebagai petani masa depan.”

3 Poin Penting:

  • Tren Profesi Petani Gen Z: Laporan WEF menempatkan petani sebagai profesi dengan pertumbuhan tertinggi hingga 2030 dengan kebutuhan mencapai 35 juta pekerja baru akibat regenerasi petani lansia.

  • Disrupsi AI di Industri Kreatif: Aktor China Xu Peng terpaksa banting setir menjadi pedagang sayur di pasar setelah lebih dari 95 persen produksi drama pendek di negaranya digantikan oleh AI pada awal 2026.

  • Krisis Pangan Global: Lonjakan populasi bumi dan ancaman krisis iklim menuntut penutupan food gap sebesar 56 persen pada 2050, menjadikan sektor pertanian sebagai lapangan kerja paling strategis.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan