Google Gandeng Startup Italia Ciptakan Baterai Udara Berbasis CO2

Rabu, 31 Desember 2025

Baterai udara (ist)

Google kembali bikin gebrakan teknologi yang ramah lingkungan banget, nih! Perusahaan raksasa teknologi ini dikabarkan telah menjalin kemitraan dengan sebuah startup asal Milan, Italia, bernama Energy Dome.

Kolaborasi ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi penyimpanan energi masa depan yang disebut “baterai udara“.

Uniknya, teknologi ini bukan pakai komponen baterai konvensional, melainkan memanfaatkan gas karbon dioksida (CO2) yang dikompresi untuk menyimpan energi dalam jumlah besar.

Nantinya, teknologi dari Energy Dome ini akan diaplikasikan di berbagai pusat data (data center) utama Google yang tersebar di wilayah Eropa, Amerika Serikat, hingga Asia Pasifik.

Langkah ini diambil Google sebagai bagian dari ambisinya untuk beralih sepenuhnya ke energi bersih.

Dengan adanya kubah raksasa berisi gas CO2 terkompresi ini, Google bisa menyimpan kelebihan energi listrik dari sumber terbarukan yang sering kali fluktuatif, seperti tenaga surya atau angin.

Cara Kerja Unik Baterai CO2 yang Mirip Sistem Kompresi

Sobat teknologi mungkin penasaran bagaimana gas bisa jadi baterai. Sistemnya cukup canggih: gas CO2 dikompresi menggunakan energi berlebih dari pembangkit listrik hijau.

Saat proses penyimpanan, energi panas digunakan untuk mendinginkan gas tersebut hingga suhu ruang, lalu diubah menjadi bentuk cair melalui proses kondensasi selama kurang lebih 10 jam.

Ketika pusat data membutuhkan pasokan listrik, cairan CO2 tersebut diubah kembali menjadi uap hangat yang tekanannya mampu memutar turbin untuk menghasilkan listrik.

Fasilitas Energy Dome ini diklaim punya kapasitas penyimpanan yang nggak main-main, yakni mencapai 200 MWh. Kapasitas sebesar itu sanggup memasok listrik untuk sekitar 6.000 rumah tangga.

Teknologi ini dianggap menjadi solusi paling pas buat menutup celah produksi energi terbarukan yang sering naik-turun.

Jadi, saat matahari lagi terik atau angin lagi kencang, energi yang nggak terpakai langsung “diamankan” di dalam kubah CO2 ini untuk dipakai saat malam hari atau saat angin sedang tenang.

Keunggulan Plug and Play dan Tanpa Mineral Tanah Jarang

Satu hal yang bikin Google jatuh cinta dengan pendekatan Energy Dome adalah sifatnya yang praktis atau plug and play.

Karena sistemnya yang terstandardisasi, infrastruktur ini bisa langsung dipasang di lokasi yang sudah memiliki jaringan listrik dan surplus energi terbarukan.

Google hanya perlu mencari titik-titik pusat data yang strategis untuk mengintegrasikan baterai CO2 ini ke dalam sistem operasional mereka tanpa perlu perombakan besar-besaran.

Selain praktis, keunggulan telak lainnya adalah teknologi ini sama sekali nggak butuh bahan baku mineral tanah jarang.

Seperti yang kita tahu, baterai lithium yang ada sekarang sangat bergantung pada penambangan mineral langka yang prosesnya sering kali merusak lingkungan.

Dengan menggunakan gas CO2 sebagai media penyimpanan, Energy Dome menawarkan solusi yang lebih berkelanjutan dan mandiri secara bahan baku, sehingga lebih ramah terhadap ekosistem global.

Tantangan Emisi dan Risiko Kebocoran di Masa Depan

Meskipun terlihat sangat menjanjikan, teknologi baterai udara ini bukannya tanpa risiko.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa baterai CO2 memiliki potensi emisi yang lebih besar dibandingkan baterai lithium jika tidak dikelola dengan sangat ketat.

Kekhawatiran utama para ahli lingkungan adalah risiko kebocoran gas CO2 dari kubah penyimpanan tersebut ke atmosfer. Jika bocor, alih-alih menyelamatkan bumi, teknologi ini justru berpotensi menambah polusi udara.

Saat ini, Energy Dome sedang fokus membangun prototipe di lahan seluas 5 hektare di Sardinia, Italia. Jika uji coba ini sukses besar, fasilitas serupa bakal segera menyebar ke India hingga Amerika Serikat.

Google tetap optimistis bahwa dengan manajemen keamanan yang tepat, baterai CO2 akan menjadi standar baru dalam penyimpanan energi skala besar yang efisien.

Ini adalah bukti nyata bahwa inovasi teknologi terus bergerak mencari cara paling “hijau” untuk menghidupi dunia digital kita.

Statement:

Ainhoa Anda, perwakilan dari Google

“Standardisasi sangat penting, ini adalah aspek yang kami sukai dari Energy Dome. Mereka benar-benar bisa menggunakannya secara plug and play. Pendekatan ini sangat pas karena bisa digunakan untuk semua jenis pembangkit dan lokasi yang memiliki surplus energi terbarukan.”

3 Poin Penting:

  1. Kolaborasi Inovatif: Google menggandeng startup Energy Dome untuk membangun sistem penyimpanan energi baterai udara berbasis karbon dioksida (CO2) di pusat data global.

  2. Solusi Energi Hijau: Teknologi ini menggunakan kubah raksasa untuk mengompresi CO2 menjadi cair sebagai media penyimpan listrik cadangan saat produksi energi terbarukan sedang menurun.

  3. Bebas Mineral Langka: Keunggulan utama sistem ini adalah tidak memerlukan mineral tanah jarang, meski tetap memiliki tantangan risiko kebocoran gas ke atmosfer.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir