Buat kamu yang sudah mulai jenuh dengan hiruk-pikuk kota yang bising, Desa Wisata Citorek Barat di Kabupaten Lebak siap jadi pelarian sempurna.
Perjalanan menuju lokasi ini bukan cuma soal sampai di tujuan, tapi tentang menikmati setiap jengkal “jalan sunyi” yang diapit pemandangan hijau royo-royo.
Begitu roda kendaraan meninggalkan aspal perkotaan, udara sejuk dan kabut tipis bakal langsung menyapa, memberikan sensasi seolah kamu sedang meluncur masuk ke dunia lain yang penuh kedamaian.
Citorek Barat sendiri merupakan bagian dari Wewengkon Kasepuhan Adat Citorek yang kental dengan nilai tradisi. Desa ini tidak hanya menawarkan visual alam yang memanjakan mata, tapi juga menyimpan jejak sejarah kuno yang bikin penasaran.
Dengan jarak tempuh sekitar 78 kilometer dari Rangkasbitung, perjalanan selama tiga jam melalui jalur Cipanas–Lebak Gedong akan terasa singkat karena mata terus-menerus disuguhi lanskap pegunungan dan hamparan sawah yang estetik.
Petualangan Menuju Situs Megalitikum dan Kasepuhan Adat
Daya tarik utama yang bikin Citorek Barat beda dari desa wisata lainnya adalah keberadaan Situs Lebak Cibedug.
Situs ini merupakan peninggalan zaman megalitikum yang sangat tua di Nusantara dan kehebatannya sudah terdengar hingga mancanegara.
Untuk mencapai lokasi bersejarah ini, kamu harus sedikit berkeringat dengan berjalan kaki menyusuri jalur tanah dan bebatuan alami di tengah hutan yang masih sangat terjaga, memberikan aura mistis sekaligus historis yang kuat.
Selain urusan sejarah, kearifan lokal warga Citorek Barat yang mayoritas berprofesi sebagai petani juga menjadi magnet tersendiri.
Kamu akan melewati kawasan adat dengan deretan rumah tradisional yang rapi serta sambutan senyum tulus dari warga lokal.
Rasanya benar-benar seperti pulang ke kampung halaman sendiri. Kehidupan yang harmonis antara manusia dan alam di sini menjadi bukti bahwa tradisi leluhur masih dijaga dengan sangat baik hingga detik ini.
Sensasi Negeri di Atas Awan dan Sunrise yang Epik
Bicara soal Citorek tak lengkap tanpa membahas Gunung Luhur yang viral dengan julukan “Negeri di Atas Awan”.
Berada di ketinggian 1.037 meter di atas permukaan laut, puncak gunung ini menawarkan pemandangan hamparan awan putih yang luas layaknya negeri dongeng.
Momen yang paling ditunggu para traveler adalah saat matahari terbit atau sunrise, di mana cahaya emas perlahan menyibak lautan awan dan menciptakan pemandangan yang benar-benar epik untuk diabadikan.
Bagi pencinta petualangan, kamu bisa mencoba paket Adventure Fun Citorek yang meliputi trekking persawahan hingga bermalam di area puncak.
Fasilitas di sini juga sudah cukup lengkap, mulai dari area parkir yang luas, musholla, hingga akses Wi-Fi di beberapa titik.
Pilihan menginap pun beragam, kamu bisa memilih homestay warga dengan tarif ramah kantong sekitar Rp100.000 atau mencoba sensasi smart camping di kawasan Ciusul yang menyatu langsung dengan alam pegunungan.
Agroeduwisata dan Produk Lokal yang Autentik
Citorek Barat juga menghadirkan konsep agroeduwisata yang seru, seperti Strawberry Farm di mana kamu bisa belajar budidaya stroberi langsung dari petani lokal.
Ada juga Event Domba Fun yang mengajak wisatawan belajar merawat domba hingga mengolah limbahnya menjadi pupuk organik.
Semua kegiatan ini dikemas secara menarik agar liburan kamu nggak garing dan pulang membawa ilmu baru tentang ekosistem berkelanjutan dan kearifan lokal yang nyata.
Sebelum pulang, jangan lupa berburu oleh-oleh produk lokal yang unik seperti tas bambu atau kaneron, serta gelang rotan handam yang banyak diminati wisatawan.
Setiap suvenir ini dibuat langsung oleh tangan-tangan terampil warga lokal dengan nilai filosofis yang mendalam.
Perjalanan ke Citorek Barat pada akhirnya bukan sekadar datang dan pergi, tapi sebuah pengalaman autentik yang bakal membekas di hati dan membuatmu ingin kembali lagi dan lagi.
3 Poin Penting:
-
Wisata Sejarah dan Budaya: Keberadaan Situs Lebak Cibedug sebagai peninggalan megalitikum tertua dan kentalnya adat kasepuhan menjadi identitas kuat Citorek Barat.
-
Fenomena Alam Gunung Luhur: Daya tarik utama berupa pemandangan “Negeri di Atas Awan” dan momen sunrise epik di ketinggian 1.037 mdpl yang sangat Instagramable.
-
Konsep Eduwisata Berkelanjutan: Wisatawan diajak terlibat langsung dalam kegiatan pertanian (kebun stroberi) dan peternakan domba untuk belajar kearifan lokal secara interaktif.
[guh/man]



