Pernah terpikir tidak kalau di balik kemegahan gedung-gedung kaca kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, ternyata ada pemukiman yang masih sangat asri?
Yup, kenalin nih Kampung Kebon Melati, sebuah wilayah yang seolah “terkepung” oleh pusat bisnis elite tapi tetap kokoh bertahan dengan identitasnya.
Hanya beberapa langkah dari aktivitas ekonomi yang super sibuk, suasana berubah drastis dari jalanan macet menjadi gang-gang aspit yang teduh dengan rimbunnya pohon pisang dan tanaman obat di depan teras warga.
Menelusuri Kampung Kebon Melati, tepatnya di RW 06, rasanya seperti masuk ke dimensi lain yang jauh lebih santai.
Meski jaraknya cuma sejengkal dari Bundaran HI dan Stasiun Karet, nuansa hijau di sini benar-benar terasa nyata. Aliran air dari Waduk Melati yang tenang ditambah taman swadaya bernama “Taman Dugar” menjadi bukti bahwa warga setempat ogah menyerah pada gempuran beton.
Udara di sini pun terasa lebih sejuk karena kesadaran kolektif warga untuk terus menanam dan merawat lingkungan secara mandiri.
Inovasi Keren Pengolahan Sampah hingga Budidaya Maggot
Bukan sekadar kampung hijau biasa, warga Kebon Melati RW 06 punya sistem pengelolaan lingkungan yang gokil banget.
Mereka mengelola sampah secara mandiri dengan membagi sampah plastik ke bank sampah dan sampah organik diolah menggunakan maggot.
Bayangkan saja, setiap hari sekitar 40 kilogram sampah organik habis dilahap maggot, yang nantinya bisa dijual kembali sebagai pakan ikan atau ayam.
Gerakan ini sudah berjalan selama lima tahun dan sukses mengurangi limbah rumah tangga secara signifikan.
Ketua RW 06, Yudha Praja, menyebut gerakan ini berawal dari keinginan simpel untuk memperbaiki lingkungan sejak 2015.
Tak hanya itu, warga juga punya kebiasaan unik bernama “sedekah sampah”, di mana hasil penjualan sampah dikumpulkan oleh karang taruna untuk membiayai kegiatan positif.
Keseriusan ini bahkan membawa mereka masuk dalam nominasi Program Kampung Iklim (ProKlim) tingkat nasional.
Kampung Sinema dan Kreativitas Tanpa Batas di Ring Satu
Siapa sangka kampung yang diapit gedung tinggi ini juga dijuluki sebagai “Kampung Sinema”? Berawal dari kebutuhan membuat dokumenter untuk ProKlim, kreativitas warga justru meledak.
Pada tahun 2023, film pendek karya warga berjudul “Teka” yang mengangkat budaya Betawi sukses menyabet juara dua di sebuah festival film.
Sejak saat itu, gang-gang sempit dan unik di Kebon Melati sering banget dilirik menjadi lokasi syuting film karena estetikanya yang berbeda dari kompleks elite.
Eksistensi kampung ini juga tidak lepas dari perjuangan warga dalam menjaga lahan kosong milik spekulan yang terbengkalai.
Ketimbang dibiarkan menjadi tempat sampah, warga melobi pengembang agar lahan tersebut diizinkan dimanfaatkan sebagai ruang publik sementara.
Hasilnya, lahan kosong tersebut kini berubah fungsi menjadi taman bermain dan tempat kegiatan warga yang sangat produktif.
Nilai unik inilah yang membuat warga merasa nyaman dan ogah pindah meski terus diincar oleh pembangunan pusat bisnis.
Harapan Warga dan Inklusi Sosial di Jantung Ibu Kota
Meski sudah banyak berinovasi, tantangan tetap ada. Pengamat perkotaan dari Universitas Indonesia, Muh Aziz Muslim, menilai kampung ini “terjebak” dalam sejarah pembangunan Jakarta yang masif sejak era 90-an.
Ia menekankan pentingnya pemerintah memastikan warga yang bertahan tetap mendapatkan hak layanan dasar dan fasilitas publik yang setara.
Inklusi sosial menjadi kunci agar kampung lama yang memiliki nilai historis tidak tergilas oleh modernisasi yang egois.
Keberadaan Kampung Kebon Melati menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di tengah ambisi pembangunan gedung-gedung pencakar langit, ikatan sosial yang kuat dan lingkungan yang adem adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa digantikan oleh kemewahan materi semata.
Statement:
Andi (48), Ketua RT 008 RW 06 Kebon Melati
“Wilayah ini memang sering disebut sebagai kampung yang ‘diapit’. Yang pertama kali benar-benar menelusuri area pusat kota seperti ini, pasti sadar ternyata masih ada kampung yang terasa adem. Padahal di sekelilingnya gedung-gedung tinggi. Target kami jelas bikin lingkungan nyaman dan hijau melalui kesadaran kolektif warga.”
3 Poin Penting:
-
Ketahanan Lingkungan: Kampung Kebon Melati bertahan di tengah kawasan elite Thamrin dengan mengedepankan ruang hijau mandiri dan keasrian lingkungan melalui ProKlim.
-
Kemandirian Sampah: Warga mengelola 40 kg sampah organik setiap hari menggunakan metode maggot serta menjalankan bank sampah dan sedekah sampah secara rutin.
-
Kreativitas Lokal: Selain dikenal sebagai kampung hijau, wilayah ini berkembang menjadi “Kampung Sinema” yang menghasilkan film-film dokumenter dan pendek berprestasi.

![Pantai Ora Maluku [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/68d3a7625e9d7-keindahan-pantai-ora-maluku_bali.jpg-300x169.webp)
![wisata sukabumi [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/1671867685_63a6ad2527f1c_3mkjumMlEEhWOOie3qmz-300x169.jpg)
