Kerajaan bisnis milik miliarder nyentrik Elon Musk kini sedang menghadapi masa-masa paling kelam dalam sejarah keberjalanannya.
Rentetan kegagalan teknis dan finansial yang melanda deretan perusahaan raksasanya, mulai dari SpaceX hingga Tesla, membuat banyak pihak menilai masa depan bisnis sang centibillionaire berada di ujung tanduk.
Situasi pelit ini disinyalir sebagai dampak domino akibat keputusan kontroversial Musk yang terlalu dalam menceburkan diri ke dalam panggung politik praktis Amerika Serikat.
Masalah makin meruncing setelah roket raksasa Starship milik SpaceX baru-baru ini gagal menyalakan beberapa mesin utamanya saat uji coba.
Insiden teknis ini memaksa SpaceX membatalkan peluncuran perdana paska-IPO (Initial Public Offering), sekaligus memicu keraguan mendalam dari para investor global.
Kegagalan ini seolah mematahkan janji manis Musk yang sempat mengklaim bahwa nilai valuasi SpaceX bakal melampaui gabungan seluruh perusahaan di dunia.
Saham Tesla Anjlok dan Krisis Komputasi SpaceX
Dampak dari goyahnya performa SpaceX membuat perusahaan kedirgantaraan tersebut terpaksa mengambil langkah tak biasa.
Di tengah persaingan ketat pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), SpaceX malah terpaksa menjual daya komputasi (compute) mereka kepada para pesaing bisnisnya.
Langkah ini diambil demi menutupi penurunan harga saham yang terus berlanjut serta menjaga arus kas perusahaan agar tetap stabil di tengah tekanan pasar.
Kondisi yang tak kalah memprihatinkan juga menghantam produsen kendaraan listrik ternama, Tesla.
Angka penjualan kendaraan Tesla dilaporkan merosot tajam akibat gelombang boikot dan respons negatif konsumen terhadap deretan pernyataan kontroversial Musk di ruang publik.
Meski sempat mencatatkan kenaikan pendapatan, harga saham Tesla tetap meluncur bebas akibat pembengkakan biaya operasional dan pengeluaran besar-besaran di sektor riset AI.
Penyesalan Elon Musk dan Manuver Kontroversial di DOGE
Mendapat tekanan bertubi-tubi dari berbagai arah, Elon Musk akhirnya angkat bicara dalam wawancara khusus bersama The Economist.
Dalam kesempatan tersebut, ia secara terbuka menyampaikan penyesalannya karena telah melangkah terlalu jauh dalam urusan politik pemerintahan Amerika Serikat.
Keterlibatannya saat memimpin Department of Government Efficiency (DOGE) di era Presiden Donald Trump diakui telah menguras fokusnya dari bisnis utama.
Penyesalan tersebut muncul setelah kebijakan ekstrem DOGE di bawah kepemimpinannya memicu krisis sosial dan politik yang masif.
Langkah DOGE yang melakukan pemangkasan massal puluhan ribu pegawai negeri, pemotongan drastis bantuan luar negeri, hingga pemicuan kebocoran data sensitif telah merusak citra publik Musk.
Kebijakan tersebut juga menggerogoti stabilitas Badan Jaminan Sosial serta mengganggu iklim riset ilmiah di AS, yang pada akhirnya membuat tingkat popularitas Musk anjlok ke titik terendah.
Keraguan Publik Atas Sikap Tobat dan Narasi Baru AI
Meski Musk mengaku ingin menarik diri dari aktivitas perombakan struktur pemerintahan, publik dan para pengamat ekonomi tetap meragukan ketulusan pernyataan “tobat” tersebut.
The Economist mencatat bahwa sang miliarder belum menunjukkan tanda-tanda konkret untuk mundur dari panggung geopolitik dunia. Musk bahkan masih bersikap ofensif terhadap media massa dan terus membela beberapa tokoh politik ekstremis di Eropa.
Untuk mengalihkan perhatian publik dari krisis bisnisnya, Musk kini mulai menghembuskan narasi baru mengenai masa depan teknologi kecerdasan buatan.
Ia menjanjikan bahwa era AI kelak akan membawa manusia menuju kelimpahan luar biasa, di mana uang tidak lagi memiliki nilai dan pemerintah tinggal membagikan insentif tunai.
Namun, jika melihat rekam jejak kinerjanya di DOGE, publik kini makin skeptis apakah gagasan utopia Musk tersebut masih relevan untuk dipercaya.
Statement:
Elon Musk (kepada The Economist)
“Saya terlalu banyak terlibat dalam politik dan, jujur saja, kebablasan.”
3 Poin Penting:
-
Krisis Bisnis Utama: Perusahaan raksasa milik Elon Musk mengalami tekanan berat; Starship SpaceX gagal uji coba pasca-IPO hingga terpaksa menjual daya komputasi, sementara saham Tesla anjlok akibat penurunan penjualan dan pembengkakan biaya AI.
-
Penyesalan Politik: Elon Musk secara terbuka mengaku menyesal telah terlalu dalam masuk ke panggung politik AS saat memimpin Department of Government Efficiency (DOGE) yang memicu gelombang protes dan pemecatan massal.
-
Skeptisisme Publik: Merek dan popularitas Musk berada di titik terendah, membuat publik meragukan janji-janji barunya terkait masa depan teknologi AI dan kelimpahan ekonomi global.



