Sejarah besar dalam jagat eksplorasi antariksa berhasil dicetak secara dramatis oleh India pada 24 September 2014.
Melalui misi ambisius bernama Mars Orbiter Mission (MOM) atau yang populer disebut Mangalyaan, negara ini sukses menjadi negara pertama di dunia yang berhasil mencapai orbit Mars pada percobaan pertamanya.
Fakta yang paling membuat publik tercengang adalah total biaya operasional misi tersebut yang ‘hanya’ menghabiskan anggaran sekitar USD74-80 juta pada saat itu, atau setara dengan Rp1,3 hingga 1,4 triliun.
Angka investasi ini terhitung jauh lebih murah jika dibandingkan dengan biaya produksi berbagai film fiksi ilmiah garapan Hollywood.
Keberhasilan luar biasa ini otomatis menempatkan India sebagai negara Asia pertama yang berhasil mengirimkan wahana antariksa ke orbit Planet Merah.
Tidak hanya itu, pencapaian tersebut juga menobatkan organisasi antariksa India sebagai lembaga keempat di dunia yang sukses mengorbit Mars setelah Uni Soviet, Amerika Serikat, dan Badan Antariksa Eropa (ESA).
Laporan terbaru mengungkapkan bahwa daya tarik utama dari pencapaian ini bukan sekadar soal efisiensi anggaran yang sangat miring.
Hal yang jauh lebih menarik justru terletak pada bagaimana Indian Space Research Organisation (ISRO) merancang strategi misi sederhana tetapi sangat efektif demi membuktikan kemampuan teknologi mereka.
Strategi Orbit Elips dan Perjalanan Panjang Menuju Planet Merah
Wahana antariksa Mangalyaan resmi mengudara dari fasilitas peluncuran di Sriharikota pada 5 November 2013 dengan memanfaatkan roket PSLV-C25.
Lantaran roket yang digunakan tidak memiliki daya dorong yang cukup kuat untuk melesat langsung menuju Mars, ISRO memutar otak dan menerapkan taktik penerbangan yang sangat berbeda.
Alih-alih melakukan penerbangan jalur langsung, wahana tersebut diarahkan untuk mengelilingi Bumi terlebih dahulu dalam lintasan orbit elips yang terukur.
Mesin wahana kemudian dinyalakan secara berkala beberapa kali guna menaikkan ketinggian orbit secara bertahap sampai mendapatkan kecepatan momentum yang cukup untuk melepaskan diri dari gaya gravitasi Bumi.
Perjalanan panjang mengarungi ruang angkasa menuju target akhir tersebut memakan waktu total sekitar 300 hari lamanya. Strategi hemat energi ini memang terbukti memangkas biaya secara signifikan, namun di sisi lain juga mendongkrak risiko kegagalan.
Setiap manuver perubahan orbit dituntut berjalan tanpa cela, bahkan ISRO sempat harus menambah satu manuver darurat keesokan harinya akibat salah satu proses yang tidak mencapai target elevasi.
Momen Paling Menegangkan dan Rahasia di Balik Murahnya Anggaran
Fase paling krusial sekaligus menegangkan dari seluruh rangkaian misi ini terjadi sesaat sebelum wahana memasuki ruang orbit Mars.
Mesin utama pesawat ruang angkasa yang telah dinonaktifkan atau ‘tertidur’ selama hampir 10 bulan harus diaktifkan kembali secara presisi guna memperlambat laju kecepatan.
Apabila sistem pembakaran tersebut gagal berfungsi, dapat dipastikan wahana Mangalyaan akan melintas begitu saja dan hilang di ruang hampa selamanya.
Beruntung, sistem bekerja sesuai dengan perhitungan matematis tim ilmuwan dan sukses membawa wahana memasuki area orbit Mars pada kesempatan pertama.
Jika dibandingkan, total dana proyek Mangalyaan yang mencapai 450 crore rupee terbukti lebih murah daripada ongkos produksi film Gravity garapan sutradara Hollywood yang menelan biaya USD100 juta.
Rahasia efisiensi anggaran ISRO terletak pada pemanfaatan teknologi yang sudah teruji, penggunaan roket domestik yang telah tersedia, minimalisasi jumlah instrumen ilmiah bawaan, serta durasi pengembangan proyek yang super cepat yakni hanya 15 bulan dari konsep hingga peluncuran.
Namun, para peneliti mengingatkan agar perbandingan biaya ini tidak disalahartikan secara mentah sebagai standar biaya murah bagi setiap misi luar angkasa global lainnya.
Kesaksian ISRO dan Warisan Ilmiah Wahana Mangalyaan
Melalui dokumen teknis resminya, pihak Indian Space Research Organisation (ISRO) memberikan statement mengenai esensi dasar dari pelaksanaan misi antarplanet ini.
Mereka menyebut tujuan utama misi ini adalah membuktikan bahwa India mampu merancang, menavigasi, dan mengoperasikan wahana antariksa secara mandiri, mulai dari manuver di orbit Bumi, perjalanan antariksa jarak jauh, hingga memasuki orbit Mars dan beroperasi di sana.
Meskipun pada awalnya wahana Mangalyaan hanya diproyeksikan untuk bertahan hidup dan beroperasi selama enam bulan di orbit Mars, performa alat ini justru melampaui ekspektasi.
Wahana kebanggaan India tersebut terus bekerja secara aktif selama hampir delapan tahun, hingga akhirnya komunikasi resmi terputus total pada tahun 2022 akibat badai gerhana panjang yang menguras habis daya baterai.
Selama masa baktinya yang panjang, kamera canggih Mars Colour Camera telah berhasil mengirimkan lebih dari 1.100 foto orisinal permukaan Planet Merah yang berharga bagi pengembangan ilmu pengetahuan dunia.
3 Poin Penting:
-
Rekor Dunia Percobaan Pertama: India mencetak sejarah global sebagai negara pertama yang berhasil menempatkan wahana antarplanet di orbit Mars (Mangalyaan) hanya dalam satu kali percobaan awal.
-
Efisiensi Anggaran Tingkat Tinggi: Misi antariksa ini berhasil diselesaikan dengan total biaya sekitar USD74-80 juta, menjadikannya lebih ekonomis daripada biaya produksi film fiksi ilmiah Hollywood seperti Gravity.
-
Melampaui Target Operasional: Wahana yang semula dirancang hanya untuk masa operasi enam bulan sukses bertahan hingga hampir delapan tahun dan menyumbang lebih dari 1.100 dokumentasi foto permukaan Mars.



