Indonesia Masuk Musim Pancaroba, BMKG Prediksi Cuaca Kompleks di September 2025

Rabu, 10 September 2025

Ilustrasi cuaca dampak La Nina (Istimewa)

Memasuki bulan September 2025, Indonesia diprediksi akan menghadapi dinamika cuaca dan iklim yang kompleks.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bulan ini menjadi awal musim pancaroba, yang ditandai dengan perubahan cuaca yang tidak menentu.

Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap potensi hujan lokal, angin kencang, dan perubahan suhu yang ekstrem.

Perpindahan dari musim kemarau ke musim hujan ini akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat dan tengah, terutama Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, dan Sulawesi bagian selatan.

Ciri khasnya adalah hujan yang turun secara tiba-tiba dan tidak merata, kadang disertai petir dan angin kencang.

Fenomena “Bediding” dan Potensi La Niña

Di awal September, fenomena “Bediding” atau udara dingin ekstrem pada pagi hari masih akan terasa, khususnya di dataran tinggi seperti Dieng, Lembang, dan Batu.

Suhu udara bisa turun drastis hingga 9–13°C di pagi hari. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih mempersiapkan diri dengan pakaian hangat.

Sementara itu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan bahwa fenomena La Niña berpotensi muncul kembali pada periode September-November 2025 dengan peluang mencapai 55–60 persen.

La Niña adalah fenomena alam yang ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, yang dapat memicu peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia dan meningkatkan risiko banjir dan longsor.

ilustrasi suhu dingin (istimewa)

Musim Kemarau yang Tetap Diselingi Hujan

Selain itu, BMKG juga mencatat bahwa sebagian wilayah Indonesia mengalami “kemarau basah”.

Fenomena ini terjadi karena suhu permukaan laut di sekitar perairan Indonesia yang masih hangat serta pengaruh dinamika atmosfer regional, sehingga curah hujan tetap tinggi meskipun secara teknis masih dalam musim kemarau.

Kondisi cuaca dan iklim yang kompleks ini memiliki dampak besar pada berbagai sektor, seperti pertanian yang rentan terhadap curah hujan tidak menentu, kelautan yang terancam oleh gelombang tinggi, dan kesehatan masyarakat yang perlu beradaptasi dengan perubahan suhu ekstrem.

Hujan di musim kemarau (istimewa)

Prospek Angin, Suhu, dan Gelombang Laut

Berdasarkan prospek cuaca mingguan BMKG, angin timuran masih dominan, terutama di selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Potensi gelombang laut tinggi (2,5–4 meter) juga diperkirakan terjadi di Laut Jawa bagian selatan dan Samudra Hindia selatan Indonesia.

Suhu udara pada siang hari bisa mencapai 32–34°C, namun bisa turun menjadi 17–20°C di pagi hari.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir