Search

IPA Nuntut Kepastian Hukum dan Kemudahan Berusaha Buat Narik Investor Migas

Sabtu, 13 Desember 2025

Indonesian Petroleum Association (IPA)

Emang nggak gampang narik investasi besar di sektor hulu migas. Tapi, Indonesian Petroleum Association (IPA) udah punya empat area prioritas yang bakal mereka gaspol di tahun 2026, khususnya buat ngebetulin iklim investasi.

Dalam Rapat Umum Tahunan Anggota, IPA negesin bahwa kepastian hukum dan penghormatan terhadap kontrak itu nggak cuma penting, tapi fundamental buat ningkatin kepercayaan investor!

Susunan kepengurusan baru IPA yang diketuain Kathy Wu dari BP ini emang udah siap ngebawa misi ini ke pemerintah.

Gimana nggak penting, wong industri migas itu butuh investasi gede dan jangka panjang. Kalau kontrak nggak dihormati atau hukumnya nggak pasti, ya udah, investor pasti kabur!

Makanya, IPA berkomitmen banget buat terus advokasi soal ini.

Percepatan Eksplorasi dan Dukungan RUU Migas

Selain kepastian hukum, IPA nekenin banget perlunya percepatan kegiatan eksplorasi.

Lho, kenapa? Karena eksplorasi itu faktor kunci buat nemuin cadangan migas baru demi ngecapai target produksi yang udah ditetapin pemerintah.

IPA ngarepin pemerintah bisa nawarin lebih banyak wilayah kerja baru.

Nggak cuma nawarin, IPA juga pengen proses dan persetujuan untuk PSC (Production Sharing Contract) baru bisa dipercepat.

Ditambah lagi, mereka minta ada kepastian yang lebih besar terkait perpanjangan kontrak PSC yang udah ada. Permintaan ini logis banget, mengingat ngebor migas itu nggak kayak beli cilok, butuh waktu bertahun-tahun buat nge-hasilin minyak.

Welcome PP 28/2025: Sayonara Birokrasi Lelet

Isu kemudahan berusaha juga jadi sorotan tajam IPA. Mereka minta banget adanya penyederhanaan proses perizinan dan penguatan koordinasi antar-kementerian.

Emang sih, birokrasi yang ribet udah kayak hantu yang ngehantuin investor di Indonesia.

Tapi, IPA ngasih apresiasi positif buat terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.

PP ini ngebawa konsep Service Level Agreement (SLA) yang diharapin bisa bikin proses perizinan jadi lebih cepat dan terukur. Ini dianggap sebagai langkah signifikan buat ningkatin daya saing Indonesia di mata global.

Harapan pada Payung Hukum Baru

Terakhir, IPA ngasih dukungan penuh buat Kementerian ESDM dan Komisi VII DPR RI untuk nge-lanjutin proses revisi Undang-Undang Migas (RUU Migas).

UU Migas yang baru dianggap sebagai landasan penting buat ngebikin pertumbuhan industri migas yang bakal ningkatin daya saing Indonesia di mata global.

Semua effort ini intinya cuma satu: ngebetulin payung hukum dan nyederhanain proses biar duit investasi mau dateng ke sektor hulu migas.

Statement:

Kathy Wu, Presiden IPA 2026

“Kami berharap lebih banyak wilayah kerja yang dapat ditawarkan kepada investor dengan proses dan persetujuan untuk PSC baru yang dapat dipercepat, serta adanya kepastian yang lebih besar terkait perpanjangan kontrak PSC. IPA berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah guna memastikan industri hulu minyak dan gas bumi terus memainkan peran penting.”

3 Poin Penting:

  1. Pilar Fundamental Investasi: IPA menjadikan kepastian hukum, penghormatan terhadap kontrak, dan dukungan revisi RUU Migas sebagai pilar fundamental untuk meningkatkan kepercayaan dan menarik investasi ke sektor hulu migas.

  2. Percepatan Eksplorasi dan Kontrak: IPA mendesak percepatan persetujuan Production Sharing Contract (PSC) baru dan kepastian perpanjangan kontrak PSC sebagai faktor kunci untuk mencapai target produksi nasional.

  3. Peningkatan Kemudahan Berusaha: IPA menyambut baik PP 28/2025 yang membawa konsep Service Level Agreement (SLA) sebagai langkah signifikan dalam menyederhanakan proses perizinan dan penguatan koordinasi antar-kementerian.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan