Iran mulai memperkuat kontrolnya atas Selat Hormuz dengan menerapkan kebijakan pemungutan biaya layanan terhadap kapal-kapal yang melintas di salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia tersebut.
Kebijakan ini langsung menjadi perhatian internasional karena Selat Hormuz merupakan urat nadi perdagangan energi global yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar dunia.
Berdasarkan laporan kantor berita semiresmi Iran, Fars, Minggu (7/6/2026), Iran saat ini memperoleh pendapatan rata-rata antara 1,5 juta hingga 2 juta dolar AS dari setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Informasi tersebut disampaikan oleh anggota Komite Perencanaan dan Anggaran Parlemen Iran, Mohsen Zanganeh, yang mengungkapkan bahwa implementasi kebijakan tersebut telah mulai dijalankan.
Skema Baru Pengelolaan Selat Hormuz
Fars melaporkan bahwa parlemen Iran tengah menyusun rencana komprehensif berisi 12 poin terkait pengelolaan Selat Hormuz.
Wakil Ketua Parlemen Iran, Ali Nikzad, sebelumnya menyebutkan bahwa regulasi tersebut dirancang untuk memperkuat pengawasan dan pengelolaan jalur pelayaran yang memiliki peran vital bagi ekonomi dunia.
Untuk mendukung pelaksanaan kebijakan tersebut, Iran disebut telah membentuk kelompok kerja khusus yang bekerja sama dengan Kementerian Urusan Ekonomi dan Keuangan di bawah pengawasan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Dana yang diperoleh dari biaya layanan kapal nantinya akan masuk ke kas negara dan digunakan untuk berbagai program yang telah ditetapkan pemerintah.
Pembayaran Bisa dengan Kripto dan Barter
Menariknya, sebagian pembayaran biaya layanan disebut tidak hanya dilakukan melalui sistem keuangan konvensional.
Menurut laporan Fars, sejumlah transaksi dilakukan menggunakan Tether (USDT), stablecoin berbasis mata uang kripto, serta melalui mekanisme barter barang yang disepakati kedua belah pihak.
Di sisi lain, pemerintah Iran juga mulai menyiapkan regulasi tambahan yang berkaitan dengan aspek lingkungan hidup di kawasan Selat Hormuz.
Wakil Kepala Departemen Lingkungan Hidup Iran bidang kelautan dan lahan basah, Ahmadreza Lahijanzadeh, menyatakan pihaknya sedang menyusun aturan mengenai pungutan layanan lingkungan bagi kapal yang melintas di wilayah tersebut.
Ketegangan Geopolitik Masih Membayangi
Langkah Iran ini tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya tensi geopolitik di kawasan.
Sejak 28 Februari lalu, Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz dengan melarang kapal yang dimiliki atau berafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat melintas secara aman, menyusul konflik yang melibatkan kedua negara tersebut dengan Iran.
Di saat yang sama, Amerika Serikat juga menerapkan blokade laut yang membatasi akses kapal menuju dan dari pelabuhan Iran.
Situasi ini membuat Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian karena setiap perubahan kebijakan di jalur tersebut berpotensi memengaruhi rantai pasok global, distribusi energi, hingga stabilitas harga minyak dunia.
Statement:
Mohsen Zanganeh, Anggota Komite Perencanaan dan Anggaran Parlemen Iran
“Iran saat ini menerima rata-rata antara 1,5 hingga 2 juta dolar AS dari setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz.”
Ahmadreza Lahijanzadeh, Wakil Kepala Departemen Lingkungan Hidup Iran
“Langkah ini bertujuan untuk mengatur layanan maritim dan mengembangkan kerangka hukum serta lingkungan yang berkaitan dengan pelayaran kapal melalui Selat Hormuz.”
3 Poin Penting:
- Iran mulai menerapkan pemungutan biaya layanan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz dengan pendapatan mencapai 1,5-2 juta dolar AS per kapal.
- Pembayaran biaya layanan dapat dilakukan melalui mata uang kripto USDT, barter barang, maupun mekanisme lainnya yang disepakati.
- Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel di kawasan Teluk Persia.

![jemaah haji dan umroh [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Haji-dan-umroh-adalah-panggilan-Allah-swt-300x225.jpg)
![AS-Iran gencatan senjata [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/perang-di-timur-tengah-mencapai-titik-kritis-setel-hjvy-300x202.webp)
