Search

Jakarta Masuk Daftar Merah: NASA Peringatkan Kiamat Pesisir Akhir Abad Ini

Minggu, 4 Januari 2026

Ilustrasi pesisir Jakarta (ist)

Kabar kurang sedap datang dari lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, yang baru saja merilis data mengejutkan soal masa depan planet kita.

Perubahan iklim yang makin liar bikin es di kutub mencair lebih cepat, yang dampaknya bakal menaikkan permukaan air laut antara 0,9 hingga 1,8 meter pada akhir abad ini.

Fenomena ini bukan cuma soal air pasang biasa, tapi ancaman nyata bagi ratusan juta orang yang tinggal di wilayah pesisir di seluruh dunia.

Jakarta pun kembali menjadi highlight utama dalam laporan tersebut sebagai salah satu kota dengan risiko tenggelam paling cepat di dunia.

Kondisi ini sebenarnya sudah mulai terasa lewat frekuensi banjir yang makin sering dan makin parah melanda Jabodetabek.

Data terbaru menyebutkan bahwa sebagian wilayah Jakarta bahkan mengalami penurunan tanah hingga 17 cm per tahun, sebuah angka yang sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup Ibu Kota ke depannya.

Ibu Kota Nusantara Jadi Strategi Pelarian dari Ancaman Tenggelam

Kondisi geografis Jakarta yang berada di dataran rendah bekas rawa, dilewati 13 sungai, dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa menjadikannya target empuk naiknya permukaan laut.

Masalah ini pula yang menjadi alasan kuat mengapa pemerintah tancap gas memindahkan pusat pemerintahan ke Ibu Kota Nusantara (IKN).

Berdasarkan laporan dari laman Sciencing, IKN yang diprediksi rampung total pada 2045 kemungkinan besar akan menjadi tempat “pelarian” utama saat Jakarta mulai kalah melawan air laut.

Selain Jakarta, daftar merah kota-kota dunia yang terancam lenyap juga makin panjang. Mulai dari Alexandria di Mesir yang diprediksi kehilangan 30% wilayahnya pada 2050, hingga Miami di AS yang 605 areanya terancam hilang pada 2060.

Fenomena ini membuktikan bahwa krisis iklim bukan hanya masalah lokal Indonesia, melainkan krisis global yang sedang menghitung mundur waktu bagi kota-kota megapolitan di seluruh dunia.

Krisis Permanen yang Menghantui Megapolitan Dunia dari Bangkok hingga Manila

Negara tetangga kita pun nggak luput dari ancaman ini; Bangkok di Thailand tercatat mengalami penyusutan garis pantai hingga 1 km per tahun, sementara Manila di Filipina tenggelam sekitar 4 inci setiap tahunnya.

Bahkan kawasan megapolitan Guangdong-Hong Kong-Makau yang dihuni hampir 87 juta jiwa terancam tenggelam oleh kenaikan air laut yang mencapai 5 kaki di abad ini.

Ini adalah peringatan keras bahwa infrastruktur beton secanggih apa pun bakal sulit membendung kekuatan alam yang sudah tidak seimbang.

Para ilmuwan menegaskan bahwa meski kenaikan air laut terjadi secara bertahap, kerusakan yang ditimbulkannya bersifat permanen dan tidak bisa diputar balik.

Khusus untuk Indonesia, kewaspadaan tinggi nggak cuma buat Jakarta saja, tapi juga daerah lain seperti Semarang, Surabaya, hingga pesisir utara Papua.

Tanpa ada aksi nyata untuk memangkas emisi dan menghentikan eksploitasi air tanah yang ugal-ugalan, kota-kota ini hanya akan menjadi kenangan dalam sejarah.

Langkah Adaptasi Mendesak Sebelum Waktu Manusia Habis

Waktu yang kita miliki untuk melakukan mitigasi sebenarnya makin sedikit. Langkah-langkah adaptasi seperti pembangunan tanggul raksasa, restorasi hutan mangrove secara masif, hingga manajemen air yang lebih ketat sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi.

Kita perlu mengubah gaya hidup agar lebih ramah lingkungan demi menekan laju perubahan iklim yang jadi dalang utama mencairnya es kutub.

Jika kita masih saja santai menanggapi peringatan NASA ini, bukan nggak mungkin peta Indonesia akan berubah drastis dalam beberapa dekade ke depan.

Indonesia berisiko kehilangan sebagian wilayah kedaulatannya bukan karena perang, tapi karena ditelan oleh lautan.

Kesadaran kolektif dari generasi muda sekarang menjadi kunci utama agar narasi “Jakarta Tenggelam” tidak benar-benar menjadi kenyataan yang pahit di masa depan.

Kutipan:

Laporan dari NASA dan laman ilmiah Sciencing

“Jakarta diketahui merupakan salah satu kota yang paling cepat tenggelam di dunia. Kondisi dataran rendah, beban bangunan yang berat, serta ekstraksi air tanah yang masif memperparah keadaan ini. Tanpa aksi nyata menurunkan emisi dan langkah adaptasi yang kuat, konsekuensinya bisa menjadi kiamat bagi kota-kota pesisir.”

3 Poin Penting:

  • Ancaman Kenaikan Air Laut: NASA memprediksi permukaan air laut naik hingga 1,8 meter pada akhir abad ini akibat perubahan iklim, mengancam ratusan juta penduduk pesisir secara global.

  • Jakarta di Titik Kritis: Dengan penurunan tanah mencapai 17 cm per tahun, Jakarta menjadi salah satu kota paling rawan tenggelam, memicu urgensi pemindahan ibu kota ke IKN.

  • Krisis Global Permanen: Kota-kota besar dunia seperti Miami, Bangkok, dan Manila juga masuk daftar merah dengan risiko kehilangan sebagian besar wilayahnya dalam hitungan dekade ke depan.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan