Malam itu, Sungai Batanghari kelihatan beda banget dari biasanya. Permukaan airnya hitam pekat seperti kaca raksasa yang mantulin langit tanpa bintang sama sekali.
Angin dingin berembus pelan dari arah sungai, bikin bulu kuduk langsung berdiri. Buat sebagian besar orang, Batanghari mungkin cuma sungai besar yang jadi pusat kehidupan masyarakat Jambi.
Tapi buat warga yang tinggal di sekitarnya, ada satu petuah lama yang sampai sekarang masih sering diwanti-wanti: jangan pernah jawab suara yang manggil kamu dari arah sungai pas tengah malam.
Bagi Rian, anak muda yang tinggal nggak jauh dari tepian Batanghari, nasihat itu tadinya cuma dianggap dongeng pengantar tidur atau sekadar cerita nakut-nakutin dari orang tua. Tapi pandangannya berubah total malam itu.
Suara Tanpa Wujud di Jalanan Sepi
Semuanya berawal pas Rian jalan pulang sendirian usai nongkrong bareng temen-temennya. Waktu itu jam udah menunjukkan hampir pukul 12 malam.
Jalanan yang dia lewati mulai lengang, penerangan jalan cuma ada di beberapa titik, dan suara deru kendaraan udah nyaris nggak terdengar lagi.
Pas lagi jalan santai melewati area dekat sungai, tiba-tiba ada suara cewek memanggilnya. “Rian…”
Langkah kakinya langsung terhenti seketika. Rian refleks menoleh ke belakang, tapi nggak ada siapa-siapa di sana. Cuma ada jalanan kosong dan dedaunan pohon yang bergoyang pelan tertiup angin.
Rian nyoba buat tenang dan ngembasin napas. “Ah, paling cuma salah dengar,” batinnya.
Dia lanjut jalan lagi. Tapi baru sekitar sepuluh langkah, suara itu balik lagi. Kali ini dengarnya jauh lebih jelas dan dekat.
“Rian… tunggu…”
Jantung Rian mulai berdetak makin kencang. Pas dia ngeliat ke arah sungai, yang ada cuma kegelapan pekat. Enggak ada lampu, enggak ada perahu, apalagi orang yang berdiri di pinggiran.
Terjebak Antara Penasaran dan Mitos Nenek
Seketika itu juga, memori Rian langsung terlempar ke pesan neneknya. Dulu, sang nenek selalu melarang keras Rian buat main atau jalan sendirian di sekitar sungai kalau udah malam.
Pesan sang nenek simpel, tapi selalu disampaikan dengan raut wajah yang sangat serius:
“Kalau ada yang memanggil dari sungai, jangan pernah dijawab. Jangan pernah dicari sumber suaranya.”
Biasanya Rian cuma bisa ketawa tipis nanggapin nasihat itu. Tapi malam itu, omongan sang nenek mendadak ngiang-ngiang terus di kepalanya.
Seharusnya Rian langsung kabur, tapi rasa penasaran anak muda justru lebih gede daripada rasa takutnya. Dia malah nekat berhenti dan nyoba dengarin situasi sekitar.
Sunyi. Nggak ada suara manusia, nggak ada kendaraan. Cuma ada gemericik air yang terdengar samar dari kejauhan. Merasa situasi udah aman, Rian berniat buat muter balik dan buru-buru pulang.
Tapi tepat pas dia berbalik, suara itu kedengaran lagi. “Rian…”
Anehnya, suara itu bukan datang dari arah sungai lagi, melainkan tepat dari balik punggungnya.
Sosok Gelap dan Bisikan Paling Dekat
Tubuh Rian mendadak kaku dan rasanya susah banget dikontrol. Perlahan dia menoleh, tapi jalanan di belakangnya tetap kelihatan kosong melompong.
Nggak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari arah sungai. Satu langkah… berhenti. Satu langkah lagi… berhenti.
Panik mulai menguasai Rian. Dia buru-buru ngambil smartphone di kantong buat telepon temannya, tapi sinyalnya langsung hilang total secara mendadak.
Di saat yang bersamaan, suara cipratan air yang cukup kencang terdengar dari arah Batanghari.
Rian memberanikan diri melirik ke tengah sungai. Di dalam kegelapan, dia melihat bayangan menyerupai manusia berdiri tegak di atas air.
Sosok itu diam, nggak bergerak sama sekali, cuma menatap lurus ke arahnya. Rian sempat mengucek matanya karena mikir itu cuma halusinasi. Anehnya, begitu mata dibuka lagi, bayangan itu udah hilang.
Belum sempat Rian narik napas lega buat kabur, bisikan perempuan itu mendadak kedengaran tepat di belakang telinganya. Begitu dekat sampai bikin seujung badan merinding hebat.
“Kenapa kamu pergi?”
Tanpa pikir panjang lagi dan tanpa berani menoleh, Rian langsung lari maraton sekuat tenaga! Di sepanjang jalan, suara langkah kaki yang nempel ketat di belakangnya terus terdengar. Pikiran Rian cuma satu: harus sampai rumah secepatnya!
Pelajaran Berharga dari Malam yang Mencekam
Nyampe di rumah, Rian langsung ngebuka pintu, masuk, dan ngunci rapat-rapt. Napasnya masih terengah-engah dan mukanya pucat pasi. Belum sempat dia cerita apa-apa, sang nenek yang masih kebangun langsung nyamperin dan bilang dengan tenang,
“Kamu dengar suara dari sungai, ya?”
Rian cuma bisa bungkam. Bagaimana mungkin neneknya langsung tahu tanpa perlu dijelasin?
Sejak kejadian malam itu, Rian nggak pernah berani lagi melewatin tepian Batanghari sendirian pas malam hari.
Meski misteri siapa sosok di balik suara itu nggak pernah terungkap, beberapa hari kemudian Rian sempat dengar bisikan halus yang sama dari kejauhan pas dia lagi di dalam rumah: “Rian…”
Tapi kali ini, Rian memilih diam dan nggak merespons sama sekali. Dia akhirnya sadar satu hal penting dari pengalaman mistis tersebut.
Menghormati Mitos & Nasihat Orang Tua, nasihat lama atau kearifan lokal sering kali lahir dari pengalaman panjang masyarakat setempat. Menghormati nasihat tersebut bukan berarti kuno, melainkan wujud kehati-hatian.
Berani yang bijak adalah tahu kapan harus bertahan dan kapan harus menjauh. Jangan memaksakan rasa penasaran jika situasi sekitar mulai terasa tidak aman atau janggal.
Mengontrol rasa penasaran jauh lebih penting daripada harus membuktikan hal-hal yang di luar jangkauan logika saat sedang sendirian di tempat yang sepi.



