Search

Jejak Digital Mengintai! Bahaya Terselubung Tren Sharenting yang Kerap Diabaikan Orang Tua

Jumat, 5 Juni 2026

Ilustrasi anak-anak dengan gawai.

Riset kolaboratif yang digarap oleh perusahaan keamanan siber global Kaspersky bersama Singapore Institute of Technology (SIT) memaparkan fakta mencengangkan mengenai perilaku pengasuhan digital.

Fenomena ini dikenal dengan istilah sharenting, sebuah gabungan kata dari sharing (berbagi) dan parenting (pengasuhan), yang mengacu pada kebiasaan orang tua mengunggah foto, video, hingga informasi detail anak mereka ke ruang publik digital.

Berdasarkan studi fungsional bertajuk “Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children’s Data”, ada temuan yang menempati kasta tertinggi dalam hal risiko privasi.

Hasil investigasi menunjukkan bahwa frekuensi orang tua dalam memposting dokumentasi anak di dunia nyata ternyata berbanding terbalik dengan kesadaran keamanan digital mereka.

Semakin sering jemari mereka satset mengunggah momen lucu sang buah hati, semakin merosot pula niat dan motivasi mereka untuk mempraktikkan langkah perlindungan siber yang ketat.

Studi berjudul “Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children’s Data” menemukan bahwa frekuensi orang tua memposting foto dan video meningkat bersamaan dengan menurunnya niatan mereka dalam mempraktikkan keamanan online.

Alasan Malas Mengatur Privasi Akun Hingga Dilema Kesenjangan Perilaku Siber Asia Pasifik

Melihat dari kacamata ilmiah, riset komparasi ini didasarkan pada 152 tanggapan online yang dikumpulkan dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, hingga Mesir.

Mayoritas orang tua di wilayah Asia Pasifik sebenarnya sudah sangat menyadari bahwa mengamankan privasi keluarga secara online itu krusial.

Kendati demikian, rupa-rupa tindakan proteksi siber di lapangan sering kali dianggap sebagai beban harian yang cukup merepotkan dan kaku untuk dijalankan secara berkala.

Data statistik memperlihatkan sekitar 87% responden setuju bahwa membatasi visibilitas akun hanya untuk sirkel pertemanan dekat bisa mengurangi risiko kebocoran data.

Anehnya, hampir setengah dari mereka (49%) malah enggan mengeksekusinya karena alasan prosesnya membuang-buang waktu harian.

Silsilah kemalasan digital ini diperparah dengan fakta bahwa 40% orang tua merasa menghapus izin berbagi aplikasi membutuhkan usaha ekstra, dan 36% menilai mematikan pelacakan metadata lokasi terlampau rumit.

Kemudian, sekitar empat dari setiap olih responden (80%) juga percaya bahwa menghapus izin berbagi dapat melindungi privasi, tetapi 40% mengatakan hal itu membutuhkan usaha.

Selain itu, 8 dari 10 responden (83%) percaya bahwa mematikan metadata dan penandaan geografis melindungi privasi mereka, tetapi lebih dari sepertiganya (36%) berpikir bahwa hal itu terlalu memakan waktu untuk dilakukan.

Kesenjangan perilaku inilah yang membuat paparan ancaman terhadap data anak semakin menganga lebar di dunia nyata.

Overpede Menghadapi Risiko Dunia Maya vs Ketakutan Nyata Terhadap Ancaman Peretasan

Ada anomali psikologis yang cukup unik ketika sirkel orang tua ini ditanya mengenai tingkat kepercayaan diri mereka dalam mengelola akun media sosial.

Ketika ditanya tentang kepercayaan diri mereka dalam menghadapi risiko privasi yang muncul akibat sharenting, empat dari lima orang tua percaya bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menjaga agar informasi yang dapat diidentifikasi tidak tersebar di unggahan dan akun mereka.

Tidak mengunggah foto memalukan anak-anak mereka, dan mengatur pengaturan privasi di media sosial untuk membatasi akses hanya kepada keluarga dan teman dekat.

Sekitar empat dari lima orang tua merasa sangat pede bahwa mereka memiliki kemampuan mumpuni untuk menyaring informasi penting agar tidak bocor.

Ketika ditanya tentang kepercayaan diri mereka dalam menghadapi risiko privasi yang muncul akibat sharenting, empat dari lima orang tua percaya bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menjaga agar informasi yang dapat diidentifikasi tidak tersebar di unggahan dan akun mereka

Panduan Edukasi Praktis Kelola Privasi Digital Demi Memperketat Keamanan Keluarga

Merespons maraknya fenomena sharenting jaman sekarang yang kian mengkhawatirkan, para pakar siber telah merangkum rupa-rupa tips fungsional yang bisa langsung dipraktikkan tanpa kendala kaku.

Langkah pertama yang paling krusial adalah segera menghapus akun-akun media sosial lama yang sudah tidak lagi digunakan agar tidak menjadi pintu masuk peretasan.

Selanjutnya, ubah status akun utama kalian dari publik menjadi privat, serta luangkan waktu luang secara berkala untuk menavigasi ulang menu pengaturan privasi yang kerap berubah kebijakan dari penyedia platform.

Tinjau kembali siapa saja sirkel kontak yang terhubung serta batasi visibilitas postingan masa lalu.

Sebelum buru-buru menekan tombol unggah, biasakan berpikir kritis mengenai dampak horizontal dari informasi tersebut. Sangat disarankan untuk mematikan geolokasi otomatis dan menghapus metadata penanda lokasi tersembunyi yang tertanam di dalam file foto anak.

Demi keselamatan fisik sang buah hati, hapus atau hindari mengunggah momen yang secara transparan mengekspos lokasi rutin penting anak, seperti gedung sekolah maupun klub olahraga mereka.

Terakhir, pastikan orang tua memantau aktivitas online anak secara aktif agar ruang digital keluarga tetap aman terkendali, stay tuned!

Statement:

Professor Jiow Hee Jhee (Deputy Director, Teaching, and Learning Academy di SIT)

“Analisis kami menggabungkan regresi, korelasi, dan perbandingan rata-rata untuk meneliti hubungan antara perilaku ‘berbagi’ orang tua dan sikap mereka terhadap keamanan digital. Melalui metode-metode ini, kami mengamati pola konsisten yang menunjukkan bahwa seiring meningkatnya frekuensi ‘berbagi informasi’ dari para orang tua, maka motivasi untuk mengadopsi langkah-langkah perlindungan menurun. Ini menunjukkan adanya kesenjangan perilaku, di mana paparan online anak yang lebih besar tidak diimbangi dengan upaya untuk melindungi data dan privasi mereka secara fungsional di dunia nyata tanpa kendala kaku jaman sekarang.”

3 Poin Penting:

  • Definisi dan Hubungan Sharenting: Kebiasaan orang tua memposting informasi anak (sharenting) di media sosial meningkat seiring dengan menurunnya motivasi mereka untuk menerapkan langkah-langkah keamanan digital .

  • Kendala Malas Berubah: Walaupun 87 persen orang tua menyadari pentingnya privasi online, hampir separuhnya merasa enggan mengubah pengaturan akun atau menghapus penanda lokasi karena dianggap membuang waktu.

  • Solusi Proteksi Siber Mandiri: Pakar merekomendasikan orang tua untuk mengunci akun menjadi privat, menghapus metadata file foto, menyembunyikan lokasi sensitif seperti sekolah anak, dan rutin meninjau pengaturan privasi platform.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan