Langkah masif terus dilakukan untuk meredakan krisis kebakaran hutan dan lahan yang kian membara di wilayah Kalimantan Barat.
Tak main-main, bantuan internasional kini resmi diterjunkan guna mempercepat proses pemadaman titik api yang memicu kabut asap tebal.
Tiga unit helikopter CH-47 Chinook milik militer Jepang diturunkan langsung ke lokasi terdampak paling parah.
Kehadiran armada udara kelas berat milik Japan Ground Self-Defense Force ini menjadi angin segar bagi tim gabungan di lapangan.
Fokus operasi pemadaman udara dialokasikan pada daerah dengan intensitas kebakaran tinggi, yakni Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Mempawah.
Kolaborasi lintas negara ini diharapkan mampu menekan penyebaran titik api secara signifikan sebelum dampaknya makin meluas.
Operasi Udara Lintas Negara dan Pembagian Wilayah Pemadaman
Strategi pemadaman dibagi secara sistematis guna memastikan seluruh area rawan dapat terjangkau efisien.
Tim gabungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana serta BPBD difokuskan untuk menyisir dan menangani Karhutla di sektor utara Kalimantan Barat.
Pembagian tugas ini dirancang agar penanganan di lapangan tidak tumpang tindih dan respons bisa berjalan lebih cepat.
Sementara itu, armada helikopter bantuan dari Jepang dipercayakan untuk menggempur wilayah bagian selatan Kalimantan Barat yang terkenal memiliki medan cukup berat.
Dalam pelaksanaannya, setiap pesawat diawaki oleh pilot profesional asal Jepang dengan pendampingan ketat dari petugas Indonesia. Sinergi ini memastikan navigasi serta komunikasi operasional di udara tetap berjalan lancar dan aman.
Tantangan Jarak Pandang dan Kapasitas Bawa Armada Heavy-Lift
Kendati didukung armada canggih, operasi udara ini tetap dihadapkan pada kendala alam yang cukup ekstrem.
Rendahnya tingkat visibilitas akibat pekatnya kabut asap menjadi tantangan utama yang harus dihadapi para pilot saat bermanuver di atas titik kebakaran.
Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan tinggi agar proses pengeboman air dapat dilakukan secara presisi tanpa membahayakan keselamatan penerbangan.
Perwakilan Kementerian Pertahanan sekaligus Liaison Officer Chinook CH-47 Jepang, Kapten Pnb Dhimas Jati, membeberkan kondisi riil tantangan yang dihadapi tim di lapangan saat menjalankan misi penanggulangan bencana tersebut.
Operasi Berlanjut hingga Oktober untuk Penanganan Maksimal
Keunggulan utama dari helikopter raksasa jenis CH-47 Chinook ini terletak pada kapasitas pengangkutan airnya yang sangat besar.
Satu unit helikopter mampu mengangkut hingga 5.000 liter atau sekitar 5 ton air dalam sekali jalan menggunakan kantong bambi bucket.
Kemampuan gempuran air secara intensif ini sangat efektif untuk memadamkan gambut dan area hutan yang sulit ditempuh jalur darat.
Rencananya, seluruh rangkaian misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana oleh tim udara Jepang ini akan terus berlangsung hingga Oktober mendatang.
Komitmen bersama ini menjadi bukti nyata keseriusan berbagai pihak dalam menangani ancaman kebakaran hutan serta menjaga kualitas udara di wilayah Kalimantan agar kembali normal.
Statement:
Kapten Pnb Dhimas Jati, Perwakilan Kementerian Pertahanan sekaligus Liaison Officer Chinook CH-47 Jepang
“Tantangan utama dari tim saat ini adalah jarak pandang atau visibilitas di udara. Rendahnya visibilitas ini terjadi karena tebalnya kabut asap akibat karhutla yang menyelimuti area terdampak.”
3 Poin Penting:
-
Bantuan Internasional: Jepang mengerahkan 3 helikopter CH-47 Chinook milik JGSDF dengan awak pilot Jepang dan pendampingan petugas Indonesia untuk memadamkan karhutla di Kalbar.
-
Pembagian Wilayah & Kapasitas: Tim BNPB/BPBD menangani wilayah utara, sedangkan tim Jepang fokus di wilayah selatan dengan kemampuan angkut air mencapai 5.000 liter (5 ton) per helikopter.
-
Tantangan Operasional: Jarak pandang atau visibilitas yang sangat rendah akibat kabut asap tebal menjadi hambatan utama misi pengeboman air yang dijadwalkan berlangsung hingga Oktober.



