Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Tangerang selama beberapa hari terakhir berujung duka bagi warga Kampung Cogreg, Desa Pasir Bolang, Kecamatan Tigaraksa.
Sejak Sabtu, 4 April 2026, hingga Selasa, 7 April 2026, air tak kunjung surut dan justru merendam pemukiman dengan ketinggian yang cukup mengkhawatirkan.
Kondisi ini membuat aktivitas warga lumpuh total karena air merayap naik hingga menyentuh angka satu meter di beberapa titik lokasi.
Banjir yang melanda kawasan ini bukan sekadar genangan biasa, melainkan luapan air yang merendam akses jalan desa serta puluhan bangunan warga.
Berdasarkan laporan di lapangan, wilayah yang terdampak paling parah meliputi RT 01 hingga RT 04 di lingkungan RW 03.
Suasana kampung yang biasanya ramai kini berubah menjadi genangan air berwarna cokelat, memaksa warga untuk mengamankan barang-barang berharga mereka ke tempat yang lebih tinggi agar tidak rusak terendam air.
Dampak Luas hingga Putusnya Jalur Kawasan Industri
Data terbaru mencatat sebanyak 83 kepala keluarga atau sekitar 350 jiwa harus merasakan dampak langsung dari musibah ini.
Selain rumah yang terendam, sebanyak 26 rumah dilaporkan benar-benar terisolir karena akses jalan utama tertutup air yang cukup dalam.
Hal ini memicu kesulitan bagi warga untuk mendapatkan pasokan kebutuhan pokok, mengingat kendaraan roda dua maupun roda empat tidak bisa melintasi jalur yang biasanya digunakan untuk aktivitas harian tersebut.
Lebih parah lagi, banjir kali ini juga memutus jalur vital yang menghubungkan Tigaraksa menuju Kawasan Industri Olek dan Desa Talagasari, Kecamatan Balaraja.
Terputusnya akses ini praktis mengganggu mobilitas para pekerja pabrik dan distribusi logistik di wilayah Kabupaten Tangerang.
Antrean kendaraan yang mencoba mencari jalan alternatif pun tak terelakkan, sementara warga di titik banjir hanya bisa pasrah menunggu debit air turun sembari berjaga-jaga di depan rumah mereka.
Fasilitas Pendidikan Lumpuh Akibat Tanggul Sungai Jebol
Penderitaan warga semakin bertambah dengan informasi mengenai adanya tanggul jebol di aliran Sungai Tuntang yang memperparah luapan air.
Kondisi ini berimbas langsung pada fasilitas pendidikan, di mana sejumlah bangunan sekolah masih terendam banjir hingga hari Selasa.
Ruang-ruang kelas yang penuh lumpur dan air membuat proses belajar-mengajar secara formal tidak mungkin dilakukan, sehingga pihak sekolah harus memutar otak demi kelangsungan pendidikan para siswa.
Lantaran kondisi banjir yang cukup dalam, para siswa terpaksa harus mengungsi dan belajar di musala desa dengan fasilitas seadanya.
Bahkan, dalam situasi yang tidak kondusif ini, banyak siswa yang terpaksa dipulangkan lebih awal demi menjaga keselamatan mereka.
Keadaan ini menjadi tamparan keras bagi infrastruktur daerah, mengingat sektor pendidikan yang seharusnya menjadi prioritas justru harus terhenti akibat bencana tahunan yang tak kunjung teratasi secara permanen.
Urgensi Penanganan Darurat dan Kebutuhan Logistik Warga
Hingga berita ini diturunkan, ratusan warga masih bertahan di tengah kepungan air dengan kondisi yang memprihatinkan.
Kebutuhan akan bantuan logistik seperti makanan siap saji, air bersih, serta obat-obatan mulai menjadi perhatian utama tim relawan di lapangan.
Warga sangat berharap adanya percepatan perbaikan tanggul serta solusi jangka panjang dari pemerintah daerah agar musibah banjir ini tidak terus berulang setiap kali musim penghujan tiba dengan intensitas tinggi.
Melihat dinamika cuaca yang masih sulit diprediksi, kewaspadaan tinggi tetap diperlukan bagi seluruh masyarakat di Kabupaten Tangerang.
Pihak terkait terus melakukan monitoring terhadap titik-titik rawan banjir lainnya guna meminimalisir adanya korban jiwa atau kerugian material yang lebih besar.
Koordinasi antara BPBD, aparat desa, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi fase tanggap darurat yang tengah berlangsung di Kampung Cogreg saat ini.
Statement:
Panji Setyo (Warga Kampung Cogreg)
“Banjir kali ini benar-benar menghambat aktivitas kami karena merendam dari RT 01 sampai RT 04. Total ada sekitar 350 jiwa yang terdampak, bahkan akses jalan utama menuju Kawasan Industri Olek dan Balaraja terputus total. Kami berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata, terutama soal perbaikan tanggul sungai agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.”
3 Poin Penting:
-
Banjir merendam Kampung Cogreg, Tigaraksa selama 4 hari (4-7 April 2026) dengan ketinggian mencapai 1 meter.
-
Sebanyak 350 jiwa terdampak dan akses jalan menuju Kawasan Industri Olek serta Balaraja terputus total.
-
Fasilitas pendidikan terganggu akibat tanggul Sungai Tuntang yang jebol, memaksa siswa belajar di musala.
[gas/man]
![Banjir di U-turn Samsat Jakarta Barat [dok. X/@TMCPoldaMetro]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/full_1772943230180953_806b21a990_berita_pusat-pemberitaan-300x168.webp)
![bantargebang tim sar [Metrotvnews.com/Antonio]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/a_69ad6b9a64b72-300x225.jpg)
![sungai dengkeng [dok. antara]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/KALI-DENGKENG-MELUAP-1-300x200.webp)
![banjir bali [dok. bbc]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/1dd2da60-8dff-11f0-9cf6-cbf3e73ce2b9.jpg-300x200.webp)